Cherreads

Chapter 347 - Suara dari Kehancuran

Dimensi bergetar semakin keras.

Retakan yang sebelumnya tipis kini menjalar seperti luka terbuka di langit geometris Tesseract. Storm berlutut di tengah kawah ruang yang ia ciptakan sendiri. Napasnya berat. Tubuhnya hampir mencapai batas.

Di hadapannya, Tesseract berdiri lebih serius dari sebelumnya.

"Kau mulai mengganggu stabilitas wilayahku," ucapnya dingin.

"Namun gangguan tetaplah gangguan."

Tekanan ruang kembali meningkat.

Tulang Storm berderak.

Pandangan mulai kabur.

Di ambang kesadarannya, suara yang sudah lama ia kenal kembali terdengar.

"Akhirnya kau memanggilku juga."

Storm tersenyum tipis. "Berisik seperti biasa, Velora."

Suara itu tertawa pelan—bukan tawa manusia, melainkan gema kehampaan yang hidup.

Velora Zynira.

Entitas Grivver yang bersemayam di dalam diri Storm. Makhluk kosmik yang tidak sepenuhnya terikat hukum dimensi mana pun.

"Aku sudah menunggu sejak awal," bisiknya.

"Makhluk persegi itu mulai membuatku bosan."

Tesseract menyipitkan kesadarannya.

Ia merasakan perubahan.

Energi Storm yang sebelumnya liar kini berubah… menjadi sesuatu yang lebih dalam. Lebih gelap. Lebih sunyi.

Bukan ledakan.

Bukan tekanan.

Melainkan kehancuran mutlak.

Storm perlahan bangkit.

Retakan hitam di tubuhnya menyatu, membentuk pola seperti sayap bayangan di punggungnya. Matanya kini benar-benar gelap—tanpa cahaya sedikit pun.

"Apa yang kau lakukan, manusia?" suara Tesseract mengeras.

Storm mengangkat kepalanya.

"Aku? Tidak banyak."

Energi gelap merambat ke seluruh dimensi.

Bukan menghancurkan secara paksa—melainkan membuat eksistensi di sekitarnya kehilangan makna.

Persegi-persegi ruang yang menjadi fondasi Tesseract mulai memudar, seolah dilupakan oleh realitas itu sendiri.

"Itu bukan kekuatanmu," ucap Tesseract tajam.

Velora menjawab melalui tubuh Storm.

"Tentu saja bukan. Itu milikku."

BOOM.

Bukan ledakan fisik.

Melainkan satu titik eksistensi yang tiba-tiba… tidak ada.

Sebagian kecil dimensi Tesseract menghilang tanpa sisa.

Tidak hancur. Tidak pecah.

Hanya—tiada.

Tesseract mundur satu langkah.

"Kehancuran konseptual…" gumamnya.

"Makhluk Grivver…"

Storm menggerakkan tangannya perlahan.

Jejak yang ia sentuh berubah menjadi zona hampa. Area yang bahkan hukum dimensi tak bisa isi kembali.

"Aku tidak terikat oleh ruangmu," suara Velora menggema lembut.

"Kau penjaga dimensi. Aku adalah akhir dari dimensi."

Tesseract segera membangun ulang strukturnya. Cahaya biru menyala terang, mencoba menutup bagian yang lenyap.

Namun setiap kali ia menambal, kehampaan itu melebar.

Storm melesat maju.

Kali ini gerakannya tenang. Tidak liar. Tidak tergesa.

Setiap langkahnya membuat ruang retak perlahan.

Tesseract menciptakan ribuan lapisan perisai berlapis-lapis, mengeraskan hukum sebab-akibat hingga batas maksimum.

Storm menyentuhnya.

Retak.

Lapisan pertama lenyap.

Retak.

Lapisan kedua menghilang.

Retak.

Hukum dimensi mulai runtuh.

Tesseract memusatkan seluruh kesadarannya.

"Kau pikir entitas kosmik itu bisa sepenuhnya melindungimu?"

Ia memutar ulang ruang di sekitar Storm, mencoba memisahkan jiwa manusia dan entitas Grivver dalam satu tubuh.

Namun—

Velora tertawa pelan.

"Aku tidak melindunginya."

Energi hitam meledak keluar dari tubuh Storm seperti badai sunyi.

"Aku memilihnya."

BOOOM!

Tesseract benar-benar terdorong jauh.

Tubuh geometrisnya terdistorsi. Garis-garis dimensinya bergeser tak stabil.

Storm melayang di tengah kehampaan yang ia ciptakan sendiri.

"Velora," bisiknya pelan, "jangan ambil alih sepenuhnya."

"Aku tahu," jawabnya. "Kau masih ingin menyelamatkan duniamu itu, bukan?"

Storm menatap Tesseract.

"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Bumi."

Tesseract kini memahami.

Selama kekuatan itu aktif, ia tidak bisa menyentuh Storm secara langsung. Serangan berbasis ruang akan dihapus sebelum terjadi. Hukum dimensi akan terdistorsi sebelum mencapai tubuh manusia itu.

Namun ia tetap unggul dalam satu hal—

Stabilitas.

Storm tidak bisa mempertahankan kekuatan itu lama.

Retakan mulai muncul di kulitnya lagi. Energi Velora terlalu besar untuk wadah manusia.

"Kau membakar dirimu sendiri," ucap Tesseract.

Storm tersenyum tipis.

"Mungkin."

Ia mengangkat tangannya sekali lagi.

Di belakangnya, kehampaan membentuk lingkaran raksasa—bukan Black Hole.

Bukan singularitas.

Melainkan zona pemusnahan mutlak.

More Chapters