Di dalam mansion keluarga Everyn, suasana malam seharusnya tenang.
Lampu kristal menggantung elegan di langit-langit aula utama. Musik instrumental lembut mengalun dari sistem audio tersembunyi. Para pelayan berjalan pelan, menjaga ritme rumah tetap damai.
Namun Arabels tidak bisa merasakan ketenangan itu.
Ia berdiri di balkon kamarnya, menatap langit H2700.
Langit yang beberapa menit lalu cerah kini berpendar aneh.
Kilatan merah.
Cahaya biru beku.
Sesekali garis emas melintas seperti petir vertikal.
Dan udara terasa… lebih berat.
"Ayah…" gumamnya pelan.
Di belakangnya, Robert berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung. Tatapannya tajam, tidak panik—namun penuh perhitungan.
"Aku melihatnya," ucapnya tenang.
Di kejauhan, awan seperti terbelah oleh sesuatu yang tak terlihat. Gelombang energi merambat samar di atmosfer, cukup untuk membuat sensor cuaca mansion bergetar.
"Itu bukan fenomena alam," lanjut Robert.
Arabels menggenggam pagar balkon.
Storm baru saja meninggalkannya.
Beberapa menit kemudian, langit berubah seperti ini.
Hatinya berdebar tidak nyaman.
"Kak Rem ada di sana," bisiknya tanpa sadar.
Robert tidak langsung menjawab.
Sebagai mantan analis militer Aksrega United, ia mengenali pola pertempuran tingkat tinggi. Kilatan biru itu bukan sekadar kekuatan es biasa.
Dan cahaya merah—
Itu bukan teknologi militer.
"Itu level Pahlawan APH," gumamnya pelan.
Arabels menoleh cepat.
"APH?"
Robert mengangguk tipis.
"Jika tiga warna berbeda muncul bersamaan seperti itu… berarti lebih dari satu pahlawan turun tangan."
Arabels merasakan jantungnya seperti jatuh.
Storm pernah memperingatkannya untuk tidak takut pada langit.
Tapi bagaimana mungkin ia tidak takut sekarang?
Kilatan emas kembali menyambar, kali ini lebih terang. Rantai cahaya tampak sekilas sebelum menghilang tertelan badai es.
Arabels menutup mata.
Ia mencoba menenangkan napasnya.
"Ayah…" suaranya bergetar halus.
"Kalau seseorang… menyimpan sesuatu yang besar dalam dirinya. Sesuatu yang bukan dari dunia ini. Apa itu berarti dia berbahaya?"
Robert menatap langit cukup lama sebelum menjawab.
"Tidak selalu," katanya pelan.
"Yang berbahaya adalah ketika dunia tidak mau memahami apa yang tidak dikenalnya."
Arabels membuka mata lagi.
Langit kembali bergetar.
Untuk sesaat, ia merasa seperti melihat siluet merah berdiri di tengah badai.
Hatinya menegang.
Ia tidak tahu detail kekuatan Rem.
Tidak tahu tentang Grivver.
Tidak tahu tentang dimensi yang runtuh.
Namun ia tahu satu hal—
Rem selalu menjauh ketika bahaya mendekat.
Dan malam ini, ia pergi tepat sebelum langit berubah.
"Ayah… kalau dia benar-benar di sana…"
Robert menatap putrinya.
"Kau tetap percaya padanya?"
Arabels tidak ragu.
"Ya."
Jawaban itu keluar lebih cepat dari pikirannya.
Robert menarik napas pelan.
"Kalau begitu jangan biarkan rasa takut mengaburkan keyakinanmu."
Namun meski kata-kata itu terdengar tegas—
Robert sendiri menyadari sesuatu.
Jika APH benar-benar bertarung di atas kota ini, maka ancamannya bukan kecil.
Dan jika Storm berada di tengahnya—
Maka dugaan lamanya selama ini mungkin benar.
Di langit, ledakan cahaya merah kali ini jauh lebih besar.
Getarannya sampai ke jendela mansion.
Arabels menggenggam dadanya.
Ia bukan petarung.
Bukan pahlawan.
Ia merasa sangat ingin melakukan sesuatu—
Bukan sebagai calon astrogator.
Bukan sebagai putri keluarga Everyn.
Melainkan sebagai seseorang yang tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai.
"Kak Rem…" bisiknya pelan pada langit yang berkilat.
