Langit siang H2700 cerah.
Di ruang kontrol utama X.A.R.A, dinding kaca raksasa memperlihatkan panorama kota dan langit biru di atasnya. Hologram lintasan orbit, simulasi peluncuran, dan data kosmik melayang di udara seperti bintang buatan manusia.
Aryes berdiri sendirian di depan panel pusat.
Tablet transparan di tangannya memancarkan notifikasi prioritas tinggi.
Satu panggilan masuk.
Terenkripsi.
Sumber: Dewan APH – Kanal Tetua.
Aryes menghela napas pelan.
"Secepat ini," gumamnya.
Ia menerima panggilan.
Siluet abu-abu muncul di udara, membentuk sosok tinggi dengan mantel panjang gelap.
Franskeinsteins Lywara.
"Aryes," suara Tetua itu tenang, tanpa basa-basi.
"Kami mendeteksi fluktuasi residu energi di sekitar distrik ilmiah H2700."
Aryes menjawab profesional.
"Fluktuasi seperti apa ?"
"Resonansi yang selaras dengan duel semalam."
Keheningan singkat.
"Pahlawan berarmor Merah," lanjut Franskeinsteins,
"Kemungkinan berada di area yurisdiksimu."
Aryes tidak menunjukkan reaksi di wajahnya.
Namun pikirannya bekerja cepat.
Ia tahu Storm tadi berdiri tepat di hanggar Nexus.
Ia juga tahu sistem pemindai X.A.R.A cukup sensitif untuk menangkap anomali kecil sekalipun—
Jika ia mengizinkannya.
Aryes menatap layar data di depannya.
Ia sudah menonaktifkan beberapa filter energi tingkat tinggi beberapa jam lalu. Secara resmi untuk "Kalibrasi sistem."
Secara tidak resmi—
Untuk memberi seseorang ruang bernapas.
Aryes menjawab dengan nada stabil.
"Pemindai internal X.A.R.A tidak mencatat keberadaan entitas anomali di dalam fasilitas kami."
Franskeinsteins menatapnya beberapa detik.
"Tidak ada tanda?"
"Tidak ada yang memenuhi ambang klasifikasi APH."
Itu bukan kebohongan sepenuhnya.
Storm memang menahan energinya nyaris sempurna.
Aryes hanya… memastikan sistem tidak terlalu rajin mencari.
Franskeinsteins menyipitkan mata sedikit.
"Kau tahu konsekuensi jika laporanmu tidak akurat."
Aryes menjawab datar.
"Aku ilmuwan, bukan pemburu. Aku melaporkan berdasarkan data yang tersedia."
Keheningan kembali.
Akhirnya Franskeinsteins berkata,
"Kami akan mengalihkan pengawasan sementara. Jika ada perubahan—kau tahu prosedurnya."
"Tentu."
Koneksi terputus.
Hologram menghilang.
Ruang kontrol kembali sunyi.
Aryes menurunkan tablet perlahan.
Ia berjalan menuju jendela besar, menatap kota di bawah sana.
"Pemuda itu…" gumamnya pelan.
Ia teringat duel semalam yang terekam satelit—rekaman visual singkat sebelum Domain aktif sepenuhnya.
Es yang terbelah.
Langit yang retak.
Lgris yang terdesak.
Aryes bukan petarung.
Namun ia cukup cerdas untuk membaca pola.
Storm bukan tipe kekuatan yang mudah dilumpuhkan.
Apalagi dikalahkan.
Dan jika dipaksa—
Kerusakan kolateral akan melampaui nilai strategis penangkapannya.
Aryes menyandarkan tangan di kaca.
"X.A.R.A dibangun untuk menjangkau bintang," katanya lirih.
"Bukan untuk ikut campur dalam konflik kekuatan dimensional."
Ia tidak memiliki idealisme heroik.
Tidak juga simpati berlebihan.
Ia hanya pragmatis.
Jika Storm menjadi musuh terbuka—
Kota ini akan hancur lebih dulu sebelum APH menemukan cara mengurungnya.
Dan Aryes tidak tertarik melihat Nexus S-4473 berubah menjadi puing akibat duel politik.
Beberapa menit kemudian—
Pintu ruang kontrol terbuka.
Arabels masuk dengan wajah penuh semangat.
"Direktur! Simulasi lintasan Nexus bisa menyingkat dua persen konsumsi energi jika kita ubah sudut injeksi awal!"
Aryes menoleh.
Wajahnya kembali ramah.
"Benarkah? Tunjukkan padaku."
Arabels berjalan mendekat, memproyeksikan grafik lintasan.
Aryes mendengarkan dengan serius.
Namun di sudut pikirannya—
Ia tahu satu hal.
Ia baru saja memilih sisi.
Bukan secara resmi.
Bukan secara terbuka.
Namun cukup jelas bagi dirinya sendiri.
Ia membantu Storm.
Bukan karena keberpihakan emosional.
Bukan karena loyalitas.
Melainkan karena ia tidak ingin H2700 menjadi medan eksperimen kekuatan yang tak terkontrol.
Dan jika harus jujur—
Ia terlalu malas menghadapi kemungkinan duel skala besar di wilayahnya.
"Selama kau tetap terkendali, Storm Realms…" gumam Aryes dalam hati,
"Aku tidak akan menyeretmu ke meja operasi APH."
Di luar kubah observatorium—
Langit tetap biru.
