Cherreads

Chapter 407 - Pilihan yang Diberikan

Halaman utama markas X.A.R.A masih dipenuhi gema sirene peringatan.

Para teknisi dan pegawai berlarian menuju tempat perlindungan. Sistem keamanan aktif, menutup beberapa akses luar.

Di tengah halaman—

Storm berdiri dengan armor Scarlet Skycrimson masih aktif, memandang ke arah langit timur.

Angin tiba-tiba berubah.

Ruang di atas halaman seperti terlipat.

KRAAKK

Distorsi dimensi terbuka seperti retakan transparan di udara.

Lima sosok melangkah keluar.

Tanah halaman X.A.R.A bergetar ringan ketika mereka mendarat.

Lgris. 

Aura dingin langsung menyebar di sekelilingnya.

Marika Slayers.

Rantai emas tipis sudah melayang di sekitar tubuhnya.

Rizen Krystoren.

Medan gravitasi halus menekan udara.

Terminator Demon.

Tubuh setengah mekanisnya berdiri berat seperti mesin perang.

Dan di depan mereka—

Seorang pria tinggi dengan mantel panjang.

Tatapannya dingin namun tenang.

Franskeinteins Lywara.

Beberapa staf X.A.R.A yang masih berada di sekitar halaman langsung berhenti.

"Pahlawan… APH…" bisik salah satu teknisi.

Dari pintu utama gedung—

Aryes keluar bersama Violys, Zero, dan Lira.

Aryes langsung mengenali mereka.

Matanya sedikit membesar.

"Franskeinteins…?"

Ini bukan kunjungan biasa.

Ini operasi resmi.

Suasana halaman menjadi sangat sunyi.

Franskeinteins melangkah satu langkah ke depan.

Matanya tertuju langsung pada Storm.

"Storm Realms."

Nada suaranya datar, hampir seperti membaca laporan.

Storm tidak bergerak.

"Kau masih hidup rupanya," jawab Storm singkat.

Lgris menyeringai kecil.

"Ya, aku bukan orang lemah."

Marika menatap Storm dengan serius.

"Kau membuat banyak masalah sejak terakhir kita bertemu."

Terminator Demon tidak berkata apa pun. Sensor matanya terus memindai Storm.

Rizen hanya memperhatikan sekeliling markas.

Franskeinteins mengangkat tangannya sedikit—memberi isyarat agar semua tetap tenang.

Lalu ia berbicara.

"Storm Realms."

"Kami datang dengan otorisasi langsung dari Pak Presiden Kael Barrenheart."

Beberapa orang X.A.R.A terkejut mendengar nama itu.

Perintah tingkat presiden berarti situasi sangat serius.

Franskeinteins melanjutkan tanpa emosi.

"Entitas yang berada di dalam tubuhmu telah diklasifikasikan sebagai ancaman tingkat tinggi terhadap stabilitas dunia."

Angin halaman terasa semakin berat.

Arabels yang berdiri di dekat pintu gedung menegang.

Franskeinteins menatap Storm lurus.

"Kami tidak datang untuk berbicara panjang."

Ia mengangkat dua jari.

"Satu pilihan."

Keheningan menekan semua orang yang ada di sana.

"Pertama—"

"Datang bersama kami dengan sukarela ke markas APH."

Ia berhenti sejenak.

"Untuk evaluasi, pengawasan, dan pengendalian entitas di dalam dirimu."

Tatapannya menjadi lebih dingin.

"Pilihan kedua."

Aura para Hero kelas S langsung meningkat.

Lgris membentuk kristal es di tangannya.

Rantai emas Marika berdering pelan.

Gravitasi di sekitar Rizen mulai menekan tanah.

Terminator Demon mengaktifkan sistem tempurnya.

Franskeinteins menyelesaikan kalimatnya dengan nada tetap datar.

"Kami akan menghabisimu di sini."

Suasana menjadi sunyi mencekam.

Beberapa staf X.A.R.A bahkan tidak berani bernapas keras.

Arabels menatap Storm dengan cemas.

Zero dan Lira juga tegang.

Aryes menyilangkan tangan, menatap situasi dengan serius.

Storm akhirnya melangkah satu langkah maju.

Armor merahnya berkilau di bawah cahaya matahari.

Ia menatap Franskeinteins.

"Jika aku ikut dengan kalian…"

Storm berbicara tenang.

"Apa yang akan terjadi pada orang-orang di sini?"

Franskeinteins menjawab tanpa ragu.

"Mereka tidak ada hubungannya dengan operasi ini."

"Selama tidak ikut campur, mereka tidak akan disentuh."

Storm terdiam beberapa detik.

Lgris tertawa kecil.

"Kau tahu jawabannya."

Rizen menambahkan dengan dingin.

"Tidak ada tempat bagimu untuk bersembunyi lagi."

Marika menatapnya tajam.

"Jangan paksa kami menghancurkan tempat ini."

Terminator Demon hanya berkata satu kalimat pendek.

"Target dapat dieliminasi."

Keheningan kembali menyelimuti halaman.

Angin bergerak perlahan.

Storm memandang mereka satu per satu.

Lalu matanya berhenti pada Arabels.

Arabels menggenggam tangannya sendiri, mencoba tetap tenang.

Storm kemudian menatap kembali Franskeinteins.

Armor Scarlet Skycrimson berdengung pelan.

Energi merah mulai berkumpul di sekelilingnya.

"Sayangnya…"

Storm berbicara dengan suara rendah namun jelas.

"Aku tidak pernah pandai mengikuti perintah."

Aura di halaman itu langsung berubah.

Lgris tersenyum lebar.

"Jawaban yang kutunggu."

Franskeinteins menghela napas kecil.

Seolah ia sudah memperkirakan ini.

"Kalau begitu…"

Ia melangkah mundur satu langkah.

Memberi ruang.

"Operasi penangkapan dimulai."

Langit di atas markas X.A.R.A terasa lebih berat.

More Chapters