Di sisi lain halaman markas X.A.R.A, suara logam beradu menggema keras.
Sinar energi melesat melintasi udara, menghantam tanah dan meninggalkan bekas lubang hitam yang masih berasap.
Di tengah kekacauan itu—
Zero berdiri dengan tubuh setengah mekanisnya yang mulai aktif penuh.
Mata robot di sisi kirinya menyala merah terang.
Lapisan pelindung mekanik di lengan kanannya terbuka, memperlihatkan rangkaian senjata tersembunyi.
Di hadapannya berdiri lawan yang jauh lebih berat.
Tubuhnya hampir seluruhnya mesin tempur.
Armor hitam tebal menutupi rangka logamnya, dan inti energinya menyala seperti bara merah di dada.
Sensor matanya berkilau dingin.
"Analisis target selesai," suara mekanisnya bergema.
"Probabilitas kemenangan target: 17%."
Zero menyeringai tipis.
"Statistik lagi?"
Ia memutar pergelangan tangannya.
Bagian lengan cyborgnya berubah bentuk menjadi meriam energi.
"Kadang mesin terlalu percaya angka."
Terminator Demon tidak menjawab.
Meriam raksasa di lengannya langsung menyala.
"Target eliminasi dimulai."
BLAAAST!
Sinar laser besar meluncur lurus.
Zero melompat ke samping dengan kecepatan tinggi.
Laser itu menghantam tanah halaman.
BOOOOM!
Ledakan besar menciptakan kawah baru.
Debu dan serpihan batu beterbangan.
Namun sebelum asap menghilang—
Zero sudah melesat maju.
"Giliranku!"
Meriam di lengannya menembakkan rentetan peluru energi.
DRAK! DRAK! DRAK!
Serangan bertubi-tubi menghantam tubuh Terminator Demon.
Namun armor hitamnya hanya mengeluarkan percikan kecil.
Terminator Demon tidak bergeser sedikit pun.
"Serangan tidak efektif."
Ia mengayunkan lengannya.
WHAM!
Pukulan logamnya menghantam tubuh Zero.
Zero terpental puluhan meter dan menabrak kendaraan transport di halaman.
CRASH!
Logam kendaraan itu remuk seketika.
Zero bangkit perlahan dari puing-puing.
Beberapa bagian tubuh cyborgnya mengeluarkan percikan listrik.
"Ini gila… kau benar-benar mesin perang."
Terminator Demon berjalan mendekat.
Langkahnya berat, setiap pijakan membuat tanah retak.
"Unit tempur APH tidak dibuat untuk permainan."
Zero berdiri tegak kembali.
Ia mengusap sedikit darah di sudut bibirnya.
Meski sebagian tubuhnya mesin—
Ia masih manusia.
"Kau tahu…" kata Zero sambil menyesuaikan modul energinya.
"Aku sebenarnya teknisi, bukan petarung."
Panel di punggungnya terbuka.
Dua sayap mekanis kecil muncul.
Sistem tenaga cadangan aktif.
Suara mesin berdengung lebih keras.
"Tapi kalau ada yang mencoba menghancurkan markas tempatku bekerja…"
Zero mengangkat tangannya.
Meriam energinya menyala lebih terang.
"Aku juga bisa jadi cukup menyebalkan."
Terminator Demon memindai peningkatan energi itu.
"Mode tempur meningkat."
Zero melesat ke depan dengan kecepatan lebih tinggi dari sebelumnya.
BOOM!
Keduanya bertabrakan seperti dua meteor logam.
Pukulan logam melawan logam.
DENT!
DENT!
DENT!
Percikan api beterbangan setiap kali mereka bertukar serangan.
Meski Terminator Demon jelas lebih kuat—
Zero tetap bertahan.
Ia menghindar, menyerang balik, menggunakan kecepatan dan sistem modifikasinya untuk mengimbangi kekuatan brutal lawannya.
***
Di kejauhan—
Franskeinteins yang mengamati dari atap gedung memperhatikan duel itu.
"Lumayan…"
Ia bergumam pelan.
"Teknisi X.A.R.A mampu menahan Terminator Demon sejauh itu."
***
Di halaman yang kacau—
Zero terengah sedikit, namun tetap berdiri.
Terminator Demon juga berhenti sejenak, memproses data pertarungan.
"Target menunjukkan adaptasi tempur."
Zero menyeringai.
"Ya, aku cepat belajar."
Ia kembali mengangkat meriam energinya.
"Kita belum selesai, mesin kaleng."
Terminator Demon mengaktifkan kembali senjata utamanya.
"Pertempuran dilanjutkan."
Langit halaman X.A.R.A kembali dipenuhi kilatan energi.
