Langit di atas pantai H2700 tiba-tiba terasa lebih berat.
Ombak yang tadi hanya bergelombang kini berubah menjadi pusaran air besar yang berputar di tengah laut.
Para pengunjung pantai mulai panik.
"Keluar dari air!"
"Cepat menjauh dari pantai!"
Beberapa orang berlari menjauh dari garis air. Anak-anak digendong oleh orang tua mereka, sementara para peselancar berusaha menarik papan mereka ke darat secepat mungkin.
Zero berdiri di samping Storm, masih menatap laut dengan serius.
"Ada sesuatu yang sangat besar di bawah sana…"
Air laut mendadak terangkat tinggi.
Seperti sesuatu dari dasar samudra yang memaksa naik ke permukaan.
Lalu—
Permukaan air pecah.
Seekor gurita raksasa muncul perlahan dari laut.
Tubuhnya begitu besar hingga sebagian darinya masih tersembunyi di bawah air. Kulitnya gelap dan licin, dengan mata raksasa yang memantulkan cahaya matahari.
Tentakel-tentakel panjangnya muncul satu per satu dari laut, mencambuk air dengan kekuatan yang membuat gelombang semakin besar.
Air laut terangkat semakin tinggi.
Dalam hitungan detik—
Gelombang raksasa mulai terbentuk.
Bukan sekadar ombak biasa.
Itu adalah tsunami.
Arabels menatap dengan wajah pucat.
"Kalau itu sampai menghantam pantai…"
Lira menyelesaikan kalimatnya pelan.
"Kota bagian selatan bisa hancur."
Napstylea langsung melangkah maju.
"Storm."
Namun Storm sudah bergerak.
Ia berjalan beberapa langkah menuju garis pantai.
Angin laut tiba-tiba berubah dingin.
Velora berbicara pelan di dalam pikirannya.
"Kau baru saja menggunakan Ice Emperor kemarin."
Storm tidak menjawab.
Di depan mereka—
Gelombang tsunami itu semakin tinggi.
Air laut seperti dinding raksasa yang siap menelan pantai dan semua orang di sekitarnya.
Para pengunjung berteriak panik.
Beberapa kendaraan darurat mulai menjauh dari area pantai.
Storm mengangkat satu tangannya ke arah laut.
Udara di sekelilingnya berubah drastis.
Suhu turun cepat.
Kabut dingin muncul di sekitar tubuhnya.
Matanya menyala biru menyala.
"Ice Emperor."
Begitu kata-kata itu terucap—
Gelombang dingin menyebar dari tubuh Storm ke arah laut.
Udara membeku.
Angin berhenti.
Tsunami yang sedang mengangkat air laut tinggi itu tiba-tiba melambat.
Lalu—
Dalam satu momen yang mustahil—
Air laut raksasa itu membeku.
Dinding air setinggi puluhan meter berubah menjadi tembok es raksasa yang berhenti tepat sebelum mencapai pantai.
Suara kristal retak terdengar pelan saat gelombang membeku sepenuhnya.
Para pengunjung pantai terdiam.
Beberapa orang bahkan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Sebuah tsunami—
Kini menjadi gunung es yang berdiri diam di tengah laut.
Jester mengangkat alisnya.
"Yah… itu cara yang cukup cepat untuk menghentikan bencana."
Zero menyahut pelan.
"Luar biasa…"
Namun monster gurita raksasa itu masih berada di balik tembok es tersebut.
Tentakel-tentakelnya bergerak perlahan di antara air yang belum sepenuhnya membeku.
Napstylea menyempitkan matanya.
"Itu belum selesai."
