Di dalam Domain Deathrays—
Kabut gelap terus berputar di atas tanah yang dipenuhi tulang belulang monster.
Pertarungan masih berlangsung tanpa henti.
Storm berdiri beberapa meter dari lawannya.
Napasnya masih stabil, namun tatapannya jauh lebih fokus sekarang.
Jika kekuatan besar miliknya dibatasi—
Ia harus menggunakan cara lain.
Storm menutup matanya sejenak.
Kemudian—
Udara di sekitarnya terasa berubah.
Detik-detik waktu mulai terasa melambat.
Gerakan kabut di udara seakan berjalan lebih lambat dari biasanya.
Storm membuka matanya lagi.
"Baiklah…"
Ia bergumam pelan.
"Kalau begitu aku percepat semuanya."
Dalam pandangan Storm—
Waktu di sekitarnya terasa jauh lebih lambat.
Namun tubuhnya sendiri bergerak normal.
Artinya—
Ia menjadi jauh lebih cepat dari sebelumnya.
WHUSH!
Storm langsung menghilang dari tempatnya.
Dalam sekejap—
Ia sudah muncul di belakang Deathrays.
BLARR!
Tinju Storm menghantam punggungnya.
Tubuh Deathrays terpental keras ke tanah.
Namun Storm tidak berhenti.
Dalam dunia yang terasa melambat—
Ia terus bergerak.
BAM!
CRASH!
BLAST!
Serangan bertubi-tubi menghantam Deathrays dari segala arah.
Tinju.
Tendangan.
Benturan tubuh.
Semua terjadi dalam rentetan serangan yang hampir tidak terlihat.
Tanah retak.
Tulang-tulang monster di sekitar mereka hancur oleh benturan.
Storm menyerang tanpa memberi kesempatan lawannya bangkit.
BOOOM!
Serangan terakhir menghantam Deathrays hingga tubuhnya tertanam dalam tanah.
Kabut gelap bergolak di sekitar lubang besar itu.
Storm akhirnya berhenti.
Waktu kembali terasa normal.
Ia berdiri di tepi lubang sambil mengatur napas.
Beberapa detik berlalu.
Tanah di dalam lubang itu bergerak.
Storm mengerutkan keningnya.
Kemudian—
CRACK…
Tangan Deathrays muncul dari dalam tanah.
Ia perlahan bangkit.
Tubuhnya yang tadi hancur kini kembali menyatu.
Retakan di tubuhnya tertutup dengan cepat.
Deathrays berdiri lagi.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Storm menghela napas panjang.
"Ini serius?"
Deathrays menggerakkan bahunya sedikit.
Seolah baru saja bangun dari tidur ringan.
"Seranganmu cukup cepat."
Ia menatap Storm.
"Tapi itu masih tidak cukup."
Storm menatap tubuhnya dengan kesal.
Setiap kali ia menjatuhkan Deathrays—
Orang itu selalu bangkit lagi.
Storm menggeram pelan.
"Tubuhmu benar-benar menyebalkan."
Deathrays tertawa kecil.
"Aku sudah bilang."
Ia mengangkat tangannya.
Tubuhnya yang sempat rusak kini kembali sempurna.
"Aku tidak bisa dihancurkan dengan cara seperti itu."
Storm menatapnya dengan lebih serius.
Saat itu—
Deathrays benar-benar terlihat seperti sesuatu yang aneh.
Ia terus bangkit.
Terus berdiri.
Terus pulih setiap kali dihancurkan.
Storm bergumam pelan.
"Kau seperti zombie saja…"
Namun ia segera menambahkan.
"Tapi bukan zombie biasa."
Kabut gelap di Domain itu semakin berputar di sekitar mereka.
