Dimensi itu sunyi.
Semua mata tertuju pada satu sosok — Storm Realms.
Di hadapannya, Dooms berdiri tanpa emosi. Menunggu jawaban.
Beberapa detik berlalu. Tak ada yang bergerak.
Lalu — SHHHH…
Cahaya merah di tubuh Storm mulai meredup. Armor Scarlet Skycrimson perlahan menghilang. Satu per satu, lapisan logam itu larut menjadi partikel cahaya — hingga akhirnya Storm kembali berdiri tanpa armor.
Banyak orang terkejut.
Rizen mengernyit. "…Dia menonaktifkannya?"
Lgris juga memperhatikan dengan serius.
Namun Storm tidak melihat mereka. Ia justru melangkah — perlahan — melewati para pahlawan APH.
Aneh. Tak ada yang menghalangi. Tak ada yang menyerang. Karena mereka semua merasakan hal yang sama: Storm sudah membuat keputusan. Dan itu bukan keputusan untuk menyerah.
Storm terus berjalan. Langkahnya tenang.
Hingga akhirnya — ia berhenti di depan seseorang.
Arabels.
Arabels membeku. Matanya sedikit gemetar. "Storm…"
Storm tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya sejenak. Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak penuh tekanan. Namun — tenang. Lembut.
Tanpa banyak kata, Storm mendekat — dan memeluknya.
Hanya sebentar. Namun cukup untuk membuat Arabels terdiam.
Semua orang melihat. Tak ada yang berbicara. Karena momen itu terlalu sunyi untuk diganggu.
Arabels mengepalkan tangannya pelan. "…Jangan…"
Namun kata-katanya terhenti.
Storm perlahan melepaskan pelukannya. Ia tidak mengatakan apa pun. Tidak memberi janji. Tidak memberi penjelasan. Namun satu hal sudah jelas: ini perpisahan sebelum pertarungan.
Storm berbalik dan kembali berjalan. Menjauh dari Arabels. Langkahnya kini lebih tegas, lebih pasti. Menuju satu arah — Dooms.
Di belakang, Arabels hanya bisa menatap. Matanya penuh kekhawatiran. Namun ia tidak menghentikannya. Karena ia tahu — Storm tidak akan mundur.
Storm berhenti beberapa meter dari Dooms. Tatapannya kembali tajam. Aura di sekitarnya mulai berubah. Lebih dalam. Lebih berat.
Ia berbicara singkat. "…Aku menolak."
Tidak ada keraguan. Tidak ada rasa takut. Hanya kepastian.
Dooms menatapnya tanpa perubahan ekspresi. Seolah sudah menduga jawaban itu.
Storm melanjutkan. "Selama masih ada yang menghalangi — aku tidak akan bisa melangkah." Matanya sedikit menyipit. "Termasuk kau."
Angin dalam dimensi itu mulai bergetar. Energi perlahan terkumpul di sekitar Storm. Ia mengangkat tangannya sedikit.
"Kau ingin Velora?" Nada suaranya berubah. Lebih serius. "Datang dan ambil sendiri."
Hening sejenak.
Lalu — aura Storm meledak. Tanah dimensi di bawahnya retak. Tekanan meningkat drastis. Semua orang merasakan hal itu.
Pertarungan yang sebenarnya — akan dimulai sekarang.
