Dimensi itu masih retak. Namun kini — semuanya terasa berbeda.
Di tengah ruang kosong itu, Storm perlahan membuka matanya. Sunyi. Namun tekanannya — jauh lebih berat dari sebelumnya. Aura yang keluar dari tubuhnya tidak lagi sekadar energi biasa. Lebih dalam. Lebih… asing.
Di kejauhan, semua orang merasakannya.
Marika menegang. "…Apa yang terjadi padanya?"
Herena menatap dengan serius. "Energinya berubah…"
Bahkan Dooms — sedikit menyipitkan matanya. "…Jadi ini."
Storm berdiri tegak. Tubuhnya tenang. Namun matanya — berbeda. Lebih dingin. Lebih luas. Seolah memandang sesuatu yang lebih besar dari pertarungan ini.
Ia mengangkat tangannya perlahan. Udara di sekitarnya langsung berubah. Suhu tidak lagi dingin. Tidak lagi panas biasa. Namun — kosmik.
"Ice Emperor…"
Energi es muncul. Namun tidak stabil. Berubah. Melebur. "…Tidak cukup."
Dalam sekejap — energi itu berubah warna. Dari biru terang menjadi merah gelap bercampur cahaya keemasan. Api mulai muncul. Namun bukan api biasa. Api itu tidak membakar — melainkan menghapus.
Storm berbicara pelan. "Xyrares… Vonalys."
WHOOOOOOOOOM!!!
Ledakan energi terjadi. Namun tidak menghancurkan secara fisik — melainkan mengguncang struktur dimensi itu sendiri. Api kosmik menyelimuti tubuh Storm. Tidak membentuk wujud penuh — namun cukup untuk menunjukkan sesuatu.
Kekuatan Velora.
Di belakangnya — bayangan samar muncul. Seperti makhluk raksasa tanpa bentuk. Mengamati segalanya.
Dooms langsung menyadari. "…Kekuatan entitas itu…" Untuk pertama kalinya, nada suaranya berubah. Sedikit lebih serius. "…melampaui yang kuduga."
Storm tidak menjawab. Tubuhnya melayang sedikit. Api kosmik itu terus bergerak di sekitarnya. Setiap percikan kecil — membuat ruang retak. Beberapa bagian dimensi — hancur. Seperti kaca yang pecah.
Di kejauhan — fragmen-fragmen kecil semesta buatan terlihat runtuh. Tidak kuat menahan tekanan itu.
Aryes membelalakkan matanya. "…Itu bukan lagi level manusia."
Zero menatap tanpa berkedip. "Dia — berubah total."
Arabels hanya terdiam. Matanya gemetar. Namun ia tetap menatap Storm. "…Storm…"
Sementara itu — Storm mengangkat kepalanya. Menatap Dooms. Tatapannya kosong. Namun penuh tekanan.
"Sekarang…" Suaranya lebih dalam. Lebih berat. "…kita lanjut."
Api kosmik di sekitarnya meningkat. Dimensi kembali bergetar hebat.
Dooms berdiri tegak. Namun kini — ia tidak lagi sepenuhnya tenang.
Karena ia tahu — yang berdiri di hadapannya sekarang — bukan hanya Storm.
Namun — Storm yang membawa kekuatan Velora.
