Di istana kekaisaran planet Urco Tastarius — suasana tetap sunyi.
Namun tiba-tiba — cahaya besar terlihat sekilas dari kejauhan luar angkasa. Kilauannya bahkan mampu terlihat dari pusat galaksi.
Yllarxa sedikit membelalak. "…Konstelasi Hydra…" Ia langsung memahami. Pertarungan di sana — mulai mencapai level yang mengerikan.
---
Di singgasananya — Oreons membuka matanya perlahan. Tatapannya dingin mengarah ke lautan bintang. Cahaya itu memantul samar di matanya.
"…Jadi benar-benar bertarung."
Yllarxa menunduk. "Energi sebesar itu kemungkinan berasal dari Lord Rylos dan Tyrannons."
Oreons terdiam beberapa saat. Lalu perlahan berdiri dari singgasananya.
"Panggil Thraxor."
---
Tak lama kemudian — pintu besar istana terbuka.
Seorang pria bertubuh besar memasuki ruangan. Armor hitam-perak menyelimuti tubuhnya. Bekas luka terlihat di wajahnya. Tatapannya tajam seperti binatang perang.
Jenderal Thraxor. Salah satu jenderal utama kekaisaran.
Ia berlutut hormat. "Yang Mulia."
Oreons menatapnya lurus. "Siapkan armada. Pergi ke Hydra."
Thraxor langsung memahami maksud itu. "Apa menangkap Tyrannons?"
Oreons mengangguk pelan. "Bawa dia kembali." Nada suaranya tenang.
---
Yllarxa diam-diam memperhatikan Oreons. Ia tahu. Meski Oreons mengejar Tyrannons tanpa henti — ia belum pernah benar-benar memerintahkan untuk membunuh putranya sendiri.
Karena jauh di dalam dirinya — Oreons masih berharap. Tyrannons — akan berubah pikiran. Kembali menjadi penerus kekaisaran galaksi.
Namun bahkan Oreons sendiri sadar — harapan itu hampir mustahil. Karena Tyrannons terlalu membenci sistem kekaisaran yang dibangun ayahnya.
---
Thraxor berdiri perlahan. "Kalau dia melawan?"
Hening sesaat.
Oreons menatap jauh ke arah bintang-bintang. "…Jangan bunuh dia." Matanya menyipit dingin. "…Kecuali tidak ada pilihan lain."
Thraxor menundukkan kepala. "Perintah diterima." Ia segera berbalik pergi.
---
Di luar istana — armada perang kekaisaran mulai bergerak. Ribuan kapal raksasa perlahan keluar dari orbit Urco Tastarius. Menuju — konstelasi Hydra.
Sementara itu — di singgasananya — Oreons kembali duduk perlahan. Tatapannya tetap tertuju pada cahaya jauh di galaksi.
"Tyrannons…" Suaranya rendah. Hampir seperti bisikan. "…Kenapa kau memilih jalan itu…"
