Tak jauh dari wilayah Ursa Major — armada besar Tartanos melaju menembus gelapnya luar angkasa. Ribuan kapal perang pemberontak bergerak dalam formasi rapi.
Di kapal utama — Tyrannons berdiri tenang sambil menatap cahaya konstelasi Ursa Major yang mulai terlihat di kejauhan. Mereka hampir sampai.
Namun tiba-tiba — alarm armada berbunyi keras.
*WEEEOOOONN!! *
Seorang operator langsung membelalak. "Banyak objek muncul di depan kita!"
Layar radar mendadak dipenuhi titik merah dalam jumlah besar. Dan sesaat kemudian — ruang angkasa di depan Tartanos mulai terbuka. Puluhan portal hyperspace raksasa muncul bersamaan.
*WHOOOOMMM!! *
Satu demi satu kapal perang kekaisaran keluar dari portal tersebut. Jumlahnya sangat besar. Mereka langsung membentuk pengepungan sempurna terhadap armada Tartanos.
Beberapa prajurit pemberontak mulai panik. "K-kita dikepung!" "Bagaimana mereka bisa menemukan kita secepat ini?!"
Suasana ruang kendali berubah kacau. Namun di tengah semua itu — Tyrannons tetap diam. Tatapannya perlahan mengarah ke kapal terbesar milik kekaisaran.
---
Di atas kapal utama tersebut — berdiri seorang pria besar berjubah perang hitam gelap. Jubahnya berkibar perlahan di bawah cahaya kosmik. Di sampingnya — tertancap sebuah pedang raksasa berwarna hitam baja. Aura pria itu terasa mengerikan bahkan dari kejauhan.
Jenderal Thraxor. Salah satu jenderal utama Kekaisaran Galaksi.
Matanya menatap lurus pada Tyrannons. Suara Thraxor akhirnya terdengar melalui komunikasi seluruh armada.
"Tyrannons."
Ruangan menjadi sunyi. Bahkan para prajurit pemberontak menahan napas.
Thraxor melanjutkan dengan nada dalam dan tenang. "…Akhiri semua ini. Menyerahlah dan kembali ke kekaisaran."
Tatapan Tyrannons tetap dingin.
Thraxor menancapkan tangannya pada gagang pedang besar di sampingnya. "Kau tidak perlu membuat galaksi ini kacau dengan melawan ayahmu sendiri." Tidak ada ancaman dalam suaranya. Hanya peringatan tulus. Karena Thraxor sebenarnya tidak ingin bertarung melawan putra kekaisaran sendiri.
Namun — Tyrannons tetap tidak menjawab. Keheningan itu membuat aura ruang angkasa terasa semakin berat.
---
Akhirnya — Thraxor menghela napas pelan. "…Jadi begitu." Matanya perlahan berubah serius. "Kalau kau tetap menolak…"
Ia mencabut pedang besarnya perlahan.
*SHHHHKKK!! *
Tekanan energi besar langsung menyebar ke seluruh luar angkasa.
"Maka aku harus menghentikanmu dengan paksa."
Wajah para prajurit Tartanos langsung pucat. Beberapa bahkan terlihat gemetar. Karena mereka tahu — menghadapi armada kekaisaran saja sudah mengerikan.
Namun sekarang — salah satu jenderal utama kekaisaran sendiri telah menghadang mereka tepat sebelum Ursa Major.
