Cherreads

Chapter 734 - Demonic Twin Swords

Di wilayah lain Konstelasi Draco. Ratusan kapal perang kekaisaran melayang dalam formasi tempur. Meriam energi telah diaktifkan. Perisai armada menyala. Pesawat tempur berada dalam posisi siaga. Tidak ada satu prajurit pun yang berani lengah. Tempat yang mereka masuki bukanlah konstelasi biasa. Ini adalah Draco. Wilayah para naga.

Di atas hamparan angkasa yang luas. Ribuan bayangan raksasa bergerak di antara nebula dan bintang-bintang. Seekor naga. Dua naga. Sepuluh naga. Seratus naga. Jumlah mereka terus bertambah hingga memenuhi sebagian besar langit kosmik. Sayap-sayap raksasa membentang. Api, petir, es, dan berbagai energi aneh menyelimuti tubuh mereka. Ukuran naga-naga itu luar biasa besar. Beberapa bahkan hampir menyamai ukuran planet kecil.

Pemandangan tersebut membuat banyak prajurit kekaisaran menelan ludah. Veteran perang sekalipun sulit tetap tenang ketika melihat ribuan naga berkumpul dalam satu wilayah.

Di kapal utama. Maxtis berdiri di bagian paling depan. Jubah militernya berkibar pelan. Tatapannya dingin. Tidak ada rasa takut sedikit pun di wajahnya. Ia memperhatikan pergerakan naga-naga tersebut dengan seksama. Lalu perlahan menyipitkan mata.

"Mereka bukan Ladon," gumamnya.

Seorang perwira di belakangnya tampak bingung. "Jenderal Maxtis?"

Maxtis tetap memandang langit. "Itu bukan Ladon."

Kalimat itu langsung membuat suasana semakin serius. Semua orang tahu siapa Ladon. Penjaga sejati Draco. Makhluk legendaris yang namanya bahkan disebut-sebut dalam kisah para dewa. Seekor naga berkepala seratus yang telah menjaga konstelasi ini sejak zaman yang bahkan tidak tercatat dalam sejarah modern. Dan yang paling menakutkan — Ladon hampir tidak pernah muncul. Jika ia sampai menampakkan diri. Maka itu berarti sesuatu yang sangat serius sedang terjadi.

---

Maxtis mengangkat tangannya. Lalu meraih dua pedang yang selama ini berada di punggungnya.

*SHRIIING! *

Dua bilah pedang kembar keluar dari sarungnya. Cahaya merah gelap menyelimuti keduanya. Bahkan ruang di sekitar bilah itu tampak terdistorsi. Para prajurit yang melihatnya langsung menegang. Mereka mengenal senjata tersebut. Demonic Twin Swords. Sepasang pedang legendaris milik Maxtis. Senjata yang telah menemaninya dalam ratusan peperangan. Senjata yang pernah digunakan untuk menghadapi monster, entitas kosmik, bahkan para dewa.

Maxtis menatap kedua pedangnya sesaat. Bekas-bekas pertempuran masih terlihat pada bilahnya. Dan setiap goresan memiliki cerita. Cerita tentang pertarungan yang hampir merenggut nyawanya.

Salah satu perwira akhirnya memberanikan diri bertanya. "Jenderal... Apakah benar kabar bahwa Anda pernah bertarung melawan para dewa?"

Maxtis tertawa. Bukan tawa sombong. Melainkan tawa yang terdengar seperti mengenang sesuatu. "Benar," jawabnya singkat. "Tapi aku kalah."

Beberapa prajurit saling berpandangan.

"Aku memang kalah. Tapi aku tetap menghunus pedangku." Ia memutar salah satu pedangnya. Kilatan energi merah muncul di udara. "Banyak orang memuja yang kuat. Banyak orang tunduk kepada mereka. Tapi aku tidak." Suara Maxtis bergema di dek kapal. "Aku lebih memilih mati saat bertarung. Daripada hidup dengan kepala tertunduk."

Hening sesaat. Tak ada yang membantah. Karena itulah Maxtis. Jenderal yang terkenal nekat. Jenderal yang bahkan dianggap gila oleh sebagian petinggi galaksi. Tetapi juga dihormati karena keberaniannya.

---

Di depan armada. Ribuan naga masih berputar-putar di angkasa. Mereka tidak menyerang. Tidak mengaum. Tidak menunjukkan permusuhan. Mereka hanya mengawasi.

Maxtis memperhatikan hal itu. Dan semakin lama ia melihat. Semakin yakin pula dirinya. "Naga-naga ini sedang menunggu perintah," katanya.

Perwira di sampingnya mengangguk gugup. "Perintah dari siapa, Jenderal?"

Maxtis tersenyum tipis. Tatapannya mengarah ke pusat terdalam Konstelasi Draco. Ke wilayah yang bahkan sensor armada tidak mampu menembusnya. "Dari yang terkuat," jawabnya.

More Chapters