Tyrannons telah mengumpulkan energi di kedua kakinya. Retakan-retakan mulai menjalar di bebatuan tempatnya berdiri. Ia sudah bersiap melompat. Satu tebasan penuh kekuatan. Satu serangan yang cukup untuk menghancurkan meteor raksasa itu sebelum mencapai wilayah Ursa Major.
Namun —
*BOOOOOOOOM!!! *
Meteor tersebut lebih dulu menghantam permukaan. Gelombang kejut raksasa menyapu segala arah. Tanah berguncang hebat. Gunung-gunung asteroid retak. Beberapa kapal yang sedang berpatroli bahkan terpaksa mengaktifkan perisai darurat agar tidak terhempas.
Di Istana Ursa Major. Callisto dan para petinggi langsung berdiri dari tempat duduk mereka. Aryes yang sedang membahas berbagai laporan bersama anggota X.A.R.A. ikut menoleh ke luar jendela. "Apa lagi sekarang..." gumamnya.
---
Sementara itu. Di lokasi jatuhnya meteor —
Debu kosmik membumbung tinggi. Kawah raksasa terbentuk. Tyrannons berdiri paling depan dengan pedang terhunus. Zero berada beberapa langkah di belakangnya. Jester memegang kartu-kartunya. Lira menyiapkan alat pemindai. Rea menatap penuh kewaspadaan. Mereka semua bersiap menghadapi apa pun yang keluar dari dalam kawah itu.
Lalu sesuatu terjadi.
Udara berubah. Angin yang tadinya kering mendadak terasa sejuk. Kemudian... Lembab. Butiran-butiran air muncul di udara. Kabut tipis mulai menyelimuti kawasan sekitar. Tak lama kemudian. Aliran air kosmik berwarna biru terang berputar di dalam kawah. Seolah lautan sedang lahir dari kehampaan.
Semua orang terdiam. Energi itu sangat besar. Tetapi tidak terasa ganas. Justru terasa tenang. Tenang seperti samudra yang luas.
Dari tengah pusaran air itu. Seseorang perlahan melangkah keluar. Seorang pria tinggi. Tubuhnya dilapisi armor biru keperakan yang tampak seperti terbentuk dari air dan bintang sekaligus. Di punggungnya berkibar jubah transparan menyerupai ombak. Di tangannya tergenggam sebuah tombak panjang. Tombak itu memancarkan aura samudra yang luar biasa. Bahkan udara di sekitarnya terus dipenuhi percikan cahaya berbentuk tetesan air.
Pria itu menatap sekeliling. Lalu menghela napas panjang. "Ah... Akhirnya mendarat."
Semua orang tetap waspada. Tyrannons maju selangkah. "Siapa kau?"
Pria itu menoleh. Kemudian tersenyum ramah. "Aku?" Ia menancapkan tombaknya ke tanah. "Aku Xyros Sealactive. Pejuang dari Planet G-6534. Wilayah yang berada sangat jauh dari sini."
Jester mengangkat alis. "Aku belum pernah mendengarnya."
Lira segera memeriksa databasenya. Namun beberapa detik kemudian ia menggeleng. "Tidak ada catatan. Planet itu tidak tercatat dalam arsip galaksi."
Tyrannons terus memperhatikan Xyros. Semakin kuat firasatnya. Ada sesuatu yang berbeda dari pria ini. Akhirnya Tyrannons berkata pelan. "Kau bukan berasal dari galaksi ini."
Suasana langsung hening. Rea menoleh cepat. Zero ikut menyipitkan mata. Sementara Xyros tampak sedikit terkejut. Lalu tertawa kecil. "Hahaha... Ternyata kau cukup tajam." Ia mengangguk. "Benar. Aku bukan berasal dari Galaksi Bima Sakti."
Kalimat itu membuat semua orang terdiam. Jester sampai berhenti memainkan kartunya. Makhluk dari luar galaksi bukan sesuatu yang biasa. Bahkan sebagian besar penduduk galaksi hanya menganggapnya legenda. Namun pria ini berdiri tepat di hadapan mereka. Tenang. Tanpa rasa takut.
Xyros menyilangkan kedua tangannya. "Kedatanganku tidak membawa permusuhan. Aku tidak datang untuk berperang."
Tyrannons tidak menurunkan pedangnya. "Lalu untuk apa kau datang?"
Xyros menunjuk ke langit. "Aku ingin bertemu seseorang. Oreons Galactive."
Nama itu langsung membuat suasana menjadi lebih serius. Rea menatapnya penuh curiga. "Untuk apa menemui Kaisar Galaksi?"
Xyros menggeleng. "Itu urusan yang hanya bisa kusampaikan kepadanya. Tapi percayalah. Ini penting."
---
Setelah itu. Xyros tiba-tiba menggaruk belakang kepalanya dengan canggung. Ekspresinya berubah malu. Hal yang cukup aneh mengingat kemunculannya tadi begitu megah. "Sebenarnya — aku juga ingin meminta maaf."
Semua orang bingung. "Meminta maaf?" tanya Rea.
Xyros mengangguk. "Ya. Aku sebenarnya tidak berniat datang ke sini." Ia menunjuk kawah besar di belakangnya. "Masalahnya — aku tersesat."
Hening. Bahkan Tyrannons sempat tidak yakin ia mendengarnya dengan benar.
Xyros tersenyum kaku. "Aku mencari Planet Urco Tastarius. Tapi ternyata koordinat yang kubawa salah. Jadi aku berakhir jatuh di Ursa Major."
Jester langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan. "...Kau menghantam konstelasi orang lain karena nyasar?"
"Kurang lebih begitu," jawab Xyros tanpa merasa bersalah.
Rea bahkan tidak tahu harus tertawa atau marah. Sementara Tyrannons akhirnya perlahan menurunkan pedangnya. Satu hal sudah jelas. Pria ini memang bukan musuh. Setidaknya untuk saat ini.
Namun jauh di dalam benaknya. Tyrannons masih memikirkan sesuatu. Meski Xyros terlihat ramah. Aura yang mengelilinginya tidak normal. Aura samudra itu begitu luas. Begitu dalam. Seperti menyimpan kekuatan yang bahkan mampu menelan bintang-bintang.
