Suasana Aula Istana Ursa Major masih dipenuhi keheningan. Nama Draco masih terngiang di benak semua orang yang hadir. Konstelasi para naga. Wilayah yang bahkan armada besar sering menghindarinya. Dan kini Storm beserta Ginga Stars berada di sana. Menghadapi ancaman yang tidak diketahui sepenuhnya.
Astralon berdiri di tengah aula sambil menyilangkan kedua tangannya. Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Lalu ia berkata dengan nada serius. "Itulah sebabnya aku datang ke sini." Semua orang memperhatikannya. Astralon melanjutkan. "Aku ingin meminta bantuan kalian. Storm dan Ginga Stars tidak bisa menghadapi Draco sendirian."
Beberapa petinggi Ursa Major saling berpandangan. Astralon menunjuk hologram galaksi yang muncul di hadapannya. Di sana terlihat posisi Konstelasi Draco. Wilayah luas yang dipenuhi tanda-tanda aktivitas naga. "Ginga Stars memang sangat kuat. Tetapi kekuatan saja tidak cukup. Untuk menghadapi ras naga dalam jumlah besar, armada juga diperlukan." Ia menatap Aryes. "Dan karena itu aku ingin mengajak kalian menuju Draco."
Belum sempat yang lain berbicara. Aryes langsung mengangkat tangannya. "Aku setuju." Jawabannya begitu cepat hingga beberapa orang terkejut. Aryes hanya tersenyum tipis. "Kami sudah terlalu lama kehilangan kontak dengan Storm. Kalau ada kesempatan bertemu dengannya lagi, tentu kami akan pergi."
Di belakangnya. Violys mengangguk setuju. "Aku juga penasaran dengan data yang bisa diperoleh dari Draco."
Lira tampak jauh lebih bersemangat. Matanya berbinar. "Konstelasi Draco... Itu salah satu tempat yang sering muncul dalam legenda kuno. Aku ingin melihatnya secara langsung."
Jester tertawa kecil. "Dan tentu saja aku tidak akan melewatkan petualangan semenarik ini."
Roxis R-5 menganggukkan kepalanya. "Unit Roxis R-5 siap mendukung misi."
Di sisi lain. Zero tersenyum lebar. "Kalau ada pertarungan, aku ikut." Jawabannya sederhana. Tapi cukup menjelaskan antusiasmenya.
Sementara itu. Napstylea tetap diam. Ia tidak terlalu tertarik pada petualangan. Jika Storm ada di sana... Maka ia tidak memiliki alasan untuk menolak. Akhirnya ia berkata singkat. "Aku ikut."
---
Astralon tersenyum puas. Setidaknya sebagian besar anggota X.A.R.A sudah setuju. Namun masih ada satu orang yang belum memberikan jawaban. Tyrannons.
Pemimpin Tartanos itu masih duduk sambil menatap hologram Draco. Tatapannya sulit dibaca. Rea yang duduk di sampingnya memperhatikan wajahnya. Ia tahu persis apa yang sedang dipikirkan Tyrannons. Bukan karena takut. Melainkan karena tujuan utama mereka belum berubah. Melawan kekaisaran. Menumbangkan sistem yang selama ini menguasai galaksi. Itulah alasan Tartanos berdiri. Dan pergi ke Draco berarti menunda tujuan tersebut.
Tyrannons akhirnya berbicara. "Dulu aku pasti langsung menolak." Suara tenangnya membuat semua orang memperhatikannya. "Aku mendirikan Tartanos untuk melawan kekaisaran. Bukan untuk berburu naga."
Astralon tidak membantah. Karena itu memang benar.
Tyrannons kembali menatap armada Orion yang terlihat dari jendela aula. Kemudian membayangkan armada Tartanos miliknya. Lalu membandingkannya dengan kekuatan Kekaisaran Galaksi. Ia mengepalkan tangannya perlahan. "Kita masih terlalu lemah," gumamnya.
Rea menundukkan kepala. Ia tahu itu juga kenyataannya. Jika perang besar terjadi sekarang. Maka Tartanos mungkin akan kalah.
Tyrannons menghela napas panjang. Kemudian berdiri dari kursinya. "Mungkin kita memang perlu mencari kekuatan lain." Ia menatap Astralon. "Ladon... Naga yang dianggap legenda itu."
Astralon tersenyum tipis. "Aku juga penasaran. Apa benar makhluk itu sekuat cerita yang beredar."
Tyrannons memandang hologram Draco beberapa saat. Lalu akhirnya mengambil keputusan. "Baik. Kita akan pergi ke Draco."
Beberapa orang langsung menunjukkan reaksi antusias. Jester bersiul pelan. Zero menyeringai. Lira tampak senang. Violys terlihat lega. Bantuan Tartanos jelas akan memperkuat peluang mereka.
---
Di samping Tyrannons. Rea hanya tersenyum kecil. Ia tidak mengatakan apa pun. Sejak awal... Apa pun keputusan Tyrannons. Ia akan tetap mendukungnya.
Meski jauh di dalam hatinya. Ia tahu Tyrannons belum sepenuhnya melupakan tujuan mereka. Melawan kekaisaran. Itu masih menjadi prioritas utama.
Hanya saja. Untuk saat ini. Jalan mereka akan mengarah ke tempat lain. Ke sebuah konstelasi yang diselimuti legenda. Ke wilayah yang bahkan para petualang paling berani pun enggan datangi.
Konstelasi Draco. Tempat para naga berkuasa.
