Cherreads

Chapter 747 - Arena Kekaisaran

Di jantung Urco Tastarius. Sebuah arena raksasa dipenuhi sorak-sorai. Ribuan penonton memenuhi tribun yang mengelilingi tempat itu. Cahaya kosmik dari langit buatan istana menyinari medan pertarungan yang luas.

Hari itu. Kekaisaran mengadakan turnamen terbuka. Para petarung dari berbagai konstelasi berdatangan. Ada ksatria. Pemburu monster. Prajurit bayaran. Pemimpin armada kecil. Bahkan beberapa bangsawan muda yang ingin membuktikan kemampuan mereka. Semua berkumpul untuk satu tujuan. Memperebutkan hadiah besar yang disediakan kekaisaran.

Di tengah arena. Dua petarung sedang bertukar serangan. Ledakan energi sesekali menggema. Namun tak seorang pun berani berbuat curang. Karena seseorang sedang mengawasi mereka.

Di tepi arena. Rangers Orithrosvar berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Ia tidak mengatakan apa-apa. Bahkan wajahnya terlihat datar seperti biasanya. Keberadaannya saja sudah cukup membuat banyak peserta tegang. Aura kekuatannya menyelimuti arena. Tenang. Tetapi sangat menekan. Seolah seekor naga purba sedang mengawasi sekumpulan serigala yang bertarung.

Banyak petarung yang awalnya berniat menggunakan trik licik langsung mengurungkan niat mereka. Tidak ada yang cukup bodoh untuk mencoba berbuat curang di depan jenderal terkuat kekaisaran.

---

Di tribun kehormatan —

Para petinggi galaksi lain turut menyaksikan. Tapi sebagian besar tampak tidak terlalu tertarik. Beberapa hanya berbicara satu sama lain. Ada yang meminum minuman mahal. Ada pula yang bahkan tampak mengantuk. Bagi mereka. Pertarungan para petarung biasa tidak terlalu mengesankan. Tidak setelah mereka menyaksikan perang antarkonstelasi dan duel para monster galaksi.

---

Di atas balkon istana —

Oreons duduk santai di kursinya. Di sampingnya. Yllarxa bersandar lemah di bahunya. Tatapan gadis itu tertuju ke arena. Matanya tampak tidak bersemangat.

Seorang petarung baru saja menghancurkan sebagian medan pertarungan dengan kapaknya. Sorak-sorai penonton bergema. Yllarxa hanya berkedip pelan. "...Membosankan," gumamnya lirih.

Oreons mendengarnya. Ia tertawa kecil. "Aku juga berpikir begitu."

Yllarxa menoleh sebentar. Lalu kembali melihat arena. "Apa tidak ada yang lebih menarik?" tanyanya.

Oreons berpura-pura berpikir keras. "Hmm... Mungkin aku harus turun dan bertarung."

Yllarxa langsung mengangkat kepalanya. "Tidak boleh," jawabnya cepat.

Oreons tertawa lebih keras. Melihat reaksi itu membuatnya terhibur.

Sebenarnya. Ia tahu alasan Yllarxa bosan. Dan jujur saja. Ia sendiri juga tidak terlalu menikmati acara ini. Turnamen ini bukan diadakan karena kebutuhan khusus. Bukan pula untuk mencari prajurit baru. Alasan utamanya jauh lebih sederhana. Oreons bosan.

Selama beberapa waktu terakhir. Yang ia hadapi hanyalah rapat. Laporan perang. Masalah konstelasi. Pemberontakan. Penaklukan. Dan berbagai persoalan galaksi lainnya. Hampir setiap hari. Selalu ada masalah baru. Bahkan ketika satu masalah selesai. Masalah lain sudah menunggu. Karena itulah ia memutuskan mengadakan pertarungan arena. Setidaknya untuk mengubah suasana. Meski hasilnya ternyata tidak terlalu berbeda.

Yllarxa menghela napas pelan. Namun tetap bersandar nyaman di bahu Oreons. Baginya. Tidak masalah apa yang dilakukan Oreons. Selama ia bisa menemaninya.

---

Sementara itu. Di kursi lain yang tidak jauh dari balkon utama —

Terdengar suara keras yang membuat beberapa orang menoleh. "Aku ingin ikut!" teriak Lord Rylos. Pemimpin Black Pirates itu berdiri dari kursinya. Jubah hitamnya berkibar. Senyum lebar terlihat di balik topeng armornya. "Ayo, Rangers! Biarkan aku bertarung! Sudah lama aku tidak menghajar orang!"

Beberapa peserta yang mendengar itu langsung pucat. Sebagian bahkan menelan ludah. Mereka tentu mengenal nama Lord Rylos. Salah satu makhluk paling berbahaya di galaksi.

Rangers menoleh sekilas. Ekspresinya tetap datar. "Tidak bisa," jawabnya singkat.

"Hah?" Rylos mengangkat alis. "Kenapa?"

Rangers kembali melihat arena. "Karena kau terlalu kuat," jawabnya tenang. "Jika kau turun ke sana. Turnamen ini selesai dalam beberapa menit."

Beberapa petinggi langsung mengangguk setuju. Peserta di arena diam-diam merasa lega.

Lord Rylos justru tampak kecewa. "Aku bisa menahan diri," katanya.

Rangers menggeleng. "Tidak bisa. Aku mengenalmu."

Lord Rylos terdiam beberapa detik. Lalu tertawa keras. "Hahahahaha! Baiklah! Kurasa kau benar." Ia kembali duduk di kursinya.

More Chapters