Suasana Arena Kekaisaran kembali bergemuruh. Sorakan jutaan penonton memenuhi langit Urco Tastarius ketika pertandingan berikutnya akan segera dimulai.
Di sisi lain arena... Seorang pria melangkah memasuki area tunggu dengan langkah santai. Seragam perwira Kekaisaran Galaksi yang dikenakannya tampak rapi tanpa sedikit pun noda. Dialah Olymxorth Nyxor. Seorang perwira kekaisaran yang namanya telah dikenal di berbagai konstelasi. Rekor kemenangannya nyaris sempurna. Bahkan dalam sebagian besar pertarungannya, ia tidak pernah bertarung dengan kemampuan penuh. Meski demikian... Ia selalu keluar sebagai pemenang.
Tatapannya kemudian berhenti pada seorang pemuda yang berdiri tak jauh darinya. Varxa Agxorath.
Olymxorth tersenyum tipis. "Jadi kau lawanku?"
Varxa tidak menjawab. Ia hanya menatap Olymxorth dengan wajah datar.
"Banyak petarung kehilangan keberanian hanya karena mengetahui namaku. Tapi kau... Sama sekali tidak terlihat takut."
Varxa tetap diam. Perlahan, ia meraih gagang pedang yang tersimpan di punggungnya. Suara logam bergesekan terdengar pelan ketika bilah pedang itu keluar dari sarungnya. Ia mengambil posisi bertarung. Tatapannya tetap dingin. Baginya, nama besar lawan tidak memiliki arti. Yang penting hanyalah hasil pertarungan.
Olymxorth tertawa kecil. "Kalau begitu... Jangan mengecewakanku."
---
Di tribun khusus para tamu kehormatan...
Seorang pria bertopeng duduk dengan santai sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. Jubah hitam panjang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Di balik topeng itu, hanya sepasang mata tajam yang terlihat. Lord Rylos. Pemimpin kelompok Black Pirates, bajak laut angkasa yang namanya dikenal di seluruh galaksi. Meskipun statusnya termasuk salah satu tokoh berpengaruh di galaksi, ia lebih sering menghabiskan waktunya menghadiri turnamen-turnamen besar seperti ini. Alasannya sederhana. Ia menyukai pertarungan.
Lord Rylos memperhatikan setiap duel yang berlangsung. "Hm... Ayunan pedangnya lumayan. Teknik gadis itu juga cukup menarik." Sesekali ia memberikan komentar sambil terkekeh pelan. Beberapa saat kemudian ia menghela napas panjang. "Membosankan... Tidak ada satu pun yang mampu mengguncang arena ini." Ia menopang dagunya dengan tangan. Baginya, para petarung memang berbakat. Tetapi belum ada satu pun yang mampu memperlihatkan kekuatan yang benar-benar membuat darahnya berdesir.
Di dekat arena... Rangers melirik ke arah tribun kehormatan. "Lord Rylos. Jangan mencampuri jalannya pertandingan."
Lord Rylos hanya memiringkan kepalanya. "Aku bahkan belum melakukan apa pun."
"Kau lebih banyak berbicara daripada bergerak," balas Rangers tanpa mengubah ekspresinya. Beberapa bangsawan yang duduk di sekitar mereka mengangguk setuju. Mereka memang sudah lama merasa terganggu dengan tingkah Lord Rylos yang terus mengomentari setiap pertandingan.
Lord Rylos sama sekali tidak memedulikannya. Ia tetap duduk santai. Kakinya disilangkan. Tangannya bertumpu di sandaran kursi. Di balik topengnya, senyum tipis perlahan muncul. "Rangers tetap sama seperti dulu. Terlalu serius untuk sebuah hiburan."
Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arena. Dalam benaknya, pertarungan hari itu masih belum memenuhi harapannya. Belum ada benturan kekuatan yang cukup besar untuk membuat arena megah itu benar-benar berguncang. Meski begitu... Ia tidak berniat pergi. Karena ia percaya, cepat atau lambat akan muncul seseorang yang mampu mengubah suasana. Tatapannya kemudian berhenti pada Varxa Agxorath yang telah bersiap dengan pedangnya. "Hm... Mungkin... Kau bisa memberiku sedikit hiburan."
Sorak-sorai penonton kembali menggema. Pertandingan berikutnya akhirnya akan dimulai, sementara banyak pasang mata mulai tertuju pada dua petarung yang berdiri saling berhadapan di tengah arena.
