Konstelasi Draco berubah menjadi lautan api kosmik. Di tengah kehancuran itu, sosok Xyrares Vonalys berdiri dengan kedua pedang menyala di tangannya. Panas yang dipancarkan tubuh Storm membuat ruang di sekitarnya beriak, seolah hukum alam tidak lagi mampu menahan keberadaan kekuatan tersebut.
Zyron Dragonvor menatap lawannya dengan penuh kewaspadaan. Naluri bertarungnya terus memperingatkan satu hal. Jangan hadapi kekuatan itu secara langsung.
Storm tidak memberinya kesempatan untuk berpikir.
*Booom! *
Tubuh Storm menghilang. Dalam sekejap, ia melesat mendekati kecepatan cahaya, meninggalkan jejak api kosmik yang membelah ruang angkasa. Mata Zyron membelalak. "Terlalu cepat...!"
Sebelum naga bersayap enam itu sempat bereaksi—
*DRAAAK!! *
Storm sudah berada tepat di hadapannya. Dengan satu hantaman dari kedua pedangnya yang bersilang, tubuh Zyron terpental hebat. Naga raksasa itu meluncur menembus gugusan asteroid, melewati orbit-orbit planet, hingga terlempar keluar dari sistem bintang utama Konstelasi Draco. Ledakan demi ledakan memenuhi angkasa sepanjang lintasannya.
Namun Storm belum berhenti. Ia kembali mengangkat kedua pedangnya. Api kosmik berkumpul pada bilah senjata itu hingga membentuk cahaya yang begitu terang, seolah dua matahari baru telah lahir.
"Berakhir."
Storm mengayunkan kedua pedangnya secara bersamaan.
*SYRAAAK!! *
Dua lintasan tebasan api melesat melintasi ruang angkasa. Tekanan dari tebasan itu bahkan merobek kehampaan, meninggalkan retakan cahaya yang membentang sejauh jutaan kilometer.
---
Di hadapan serangan itu, Zyron merasakan bahaya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia segera mengepakkan keenam sayapnya sekuat tenaga. Bukan untuk menyerang. Melainkan... Melarikan diri.
Tubuh naga raksasa itu berbelok tajam, menghindari lintasan tebasan Storm. "Aku tidak bisa menang..." gumamnya. "Bahkan dengan kekuatan naga sepenuhnya... Aku tidak akan mampu mengimbanginya."
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zyron memilih bertahan hidup daripada melanjutkan pertarungan. Tetapi keputusan itu justru membawa bencana. Kedua tebasan Storm tidak berhenti setelah gagal mengenai sasaran. Lintasan api kosmik terus melaju menembus Konstelasi Draco. Sebuah bintang raksasa yang berada di jalurnya terbelah menjadi dua. Beberapa planet di sekitarnya hancur menjadi pecahan batu dan debu kosmik akibat gelombang energi yang menyertainya. Gugusan asteroid lenyap tanpa sisa. Nebula berwarna biru yang selama ribuan tahun menghiasi konstelasi itu tersapu oleh kobaran api kosmik. Seluruh sistem bintang berguncang.
---
Di kejauhan, Arabels menyaksikan semuanya dari dalam Ginga Stars. Matanya membelalak. "Konstelasi Draco..."
Proxi segera menampilkan hasil pemindaian. "Kerusakan berskala konstelasi terdeteksi. Beberapa objek astronomi telah musnah. Gelombang energi masih terus menyebar."
Arabels menggenggam sandaran kursinya. Ia menyadari bahwa kekuatan yang digunakan Storm kini telah berada pada tingkat yang dapat mengubah wajah sebuah konstelasi.
---
Di ruang angkasa, Zyron terus menjauh. Ia tidak lagi memikirkan kemenangan. Yang ada dalam benaknya hanyalah keluar dari jangkauan monster api kosmik itu. Sementara Storm tetap melayang dalam wujud Xyrares Vonalys. Api kosmik terus berkobar di sekeliling tubuhnya. Tatapannya masih terkunci pada Zyron yang melarikan diri.
Pertarungan belum benar-benar berakhir. Namun keseimbangan telah berubah sepenuhnya.
