Perlahan, Ginga Stars memasuki hanggar utama Nexus S-4473. Dengan suara mesin yang semakin pelan, mecha itu akhirnya mendarat dengan mulus di atas landasan baja. Beberapa teknisi X.A.R.A segera menghampiri untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi Ginga Stars yang dipenuhi bekas pertarungan.
Pintu kokpit terbuka. Storm menjadi orang pertama yang keluar. Tubuhnya memang sudah jauh lebih baik setelah meminum ramuan buatan Proxi, meski wajahnya masih tampak sedikit pucat. Di belakangnya, Arabels melangkah turun sambil mengamati hanggar yang begitu luas. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Sudah lama sekali..." gumamnya. Proxi turun paling akhir. Robot itu langsung memindai seluruh area hanggar untuk memastikan tidak ada ancaman di sekitar mereka.
Belum lama mereka berjalan... Beberapa orang segera menghampiri. "Storm!" Suara yang penuh semangat menggema di dalam hanggar. Violys melambaikan tangannya lebih dulu. Tak lama kemudian, Lira, Zero, Jester, Napstylea, Roxis R-5, dan Aryes ikut mendekat. Akhirnya... Tim X.A.R.A kembali berkumpul setelah cukup lama menjalankan misi masing-masing.
Aryes menghampiri Storm. Ia memperhatikan keadaan rekannya itu selama beberapa detik sebelum menganggukkan kepala. "Kau masih bisa hidup rupanya."
Storm tersenyum kecil. "Aku tidak selemah itu."
Aryes menghela napas pelan. "Kurasa benar. Kau seperti bukan manusia biasa lagi." Meski terdengar memuji, Storm memahami bahwa itulah cara Aryes menunjukkan rasa khawatirnya.
Sementara itu, Arabels disambut hangat oleh anggota tim lainnya. "Akhirnya kita bertemu lagi," ucap Lira sambil tersenyum. Arabels mengangguk. "Aku juga senang bisa kembali."
Di sisi lain, Storm berjalan santai melewati hanggar. Di sela-sela jarinya, sebuah bilah kecil Blades Crimson yang sudah tidak aktif terus diputar dengan lincah. Gerakan itu tampak seperti kebiasaan yang ia lakukan saat sedang berpikir. Arabels memperhatikannya sambil tersenyum kecil. Melihat Storm masih bisa bersikap santai membuatnya merasa jauh lebih tenang.
---
Tak jauh dari sana... Proxi berjalan menuju ruang kendali. Di depan panel utama, Roxis R-5 masih memeriksa berbagai data penerbangan Nexus S-4473. Proxi berhenti di sampingnya. "Kemampuan pengendalianmu meningkat. Manuver pendaratan yang dilakukan memiliki tingkat akurasi sembilan puluh sembilan koma delapan persen."
Roxis mengalihkan pandangannya. "Itu hanya hasil dari menjalankan perintah Komandan Aryes. Aku hanya mengoptimalkan jalur penerbangan."
Proxi mengangguk. "Efisiensi tetap berada dalam batas optimal."
Roxis segera membuka beberapa data baru. "Aku juga telah menyelesaikan analisis terhadap cadangan energi Ginga Stars. Masih ada beberapa bagian yang tidak dapat kujelaskan."
Proxi menatap layar holografik. "Kirimkan seluruh datanya. Aku akan membandingkannya dengan hasil analisisku."
"Perintah diterima." Dalam sekejap, puluhan grafik dan angka memenuhi layar. Percakapan keduanya terus berlanjut. Bukan mengenai hal-hal ringan. Melainkan efisiensi mesin, kestabilan reaktor, pola gelombang energi, hingga hasil pemindaian Konstelasi Draco. Meski sama-sama merupakan robot dengan kecerdasan buatan tingkat tinggi, Proxi dan Roxis memiliki kemampuan berpikir layaknya manusia. Mereka mampu mengambil keputusan sendiri. Mampu menganalisis situasi. Bahkan mampu mengembangkan strategi. Hanya saja... Cara mereka berkomunikasi lebih sering dipenuhi data, perhitungan, dan analisis daripada percakapan santai seperti manusia pada umumnya.
Di sisi lain hanggar, seluruh anggota X.A.R.A akhirnya berkumpul kembali. Untuk sesaat, mereka dapat melupakan berbagai peperangan yang sedang melanda galaksi.
