Di ruang komando Nexus S-4473... Arabels terus menatap layar utama yang menampilkan pertarungan Storm dan Zyron. Setiap benturan membuat jantungnya berdegup semakin cepat. Ia tidak sanggup hanya berdiri dan menyaksikan dari kejauhan.
Tanpa berkata apa pun... Arabels berbalik. Lalu berlari keluar dari ruang komando.
"Arabels...!" Lira sempat memanggilnya. Namun Arabels tidak berhenti. Langkahnya terus berlari melewati lorong-lorong kapal menuju bagian hanggar.
Di sana... Mecha raksasa Ginga Stars masih berdiri dengan kokoh. Meski mengalami beberapa kerusakan akibat pertarungan sebelumnya, mecha itu telah berada dalam kondisi siap digunakan. Arabels menghentikan langkahnya di depan kaki Ginga Stars. Ia mengepalkan tangannya. "Aku tidak bisa hanya diam... Aku harus membantu Storm." Walaupun ia bukan petarung sekuat Storm... Setidaknya ia masih bisa mengendalikan Ginga Stars.
Namun... Sebelum sempat menaiki kokpit... Suara langkah logam terdengar dari belakangnya. "Analisis. Keputusan tersebut memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi."
Arabels menoleh. Proxi telah menyusulnya. Robot itu berjalan mendekat dengan tatapan datarnya. "Nona Arabels. Kau bukan pilot utama Ginga Stars. Mengendalikan mecha sebesar ini tanpa pengalaman tempur penuh sangat berbahaya."
Arabels menggigit bibirnya. "Aku tahu. Tapi aku tidak bisa membiarkan Storm bertarung sendirian."
Proxi terdiam sejenak. Sensor matanya berkedip beberapa kali. Ia menganalisis berbagai kemungkinan. Lalu akhirnya berkata, "Kalau begitu... Aku yang akan mengendalikan Ginga Stars."
Arabels menatapnya. Proxi melanjutkan, "Kau tetap dapat berada di dalam kokpit. Namun seluruh kendali utama akan berada padaku. Dengan begitu kestabilan Ginga Stars tetap terjaga."
Arabels terdiam beberapa saat. Kemudian ia menganggukkan kepala. "Baik."
---
Di ruang komando... Aryes melihat semua itu melalui kamera pengawas. Ia tidak menghentikan mereka. Sebaliknya... Ia mengembuskan napas pelan. "Kalau Proxi yang mengendalikan... Risikonya jauh lebih kecil."
Roxis mengangguk. "Proxi memiliki kemampuan analisis yang hampir setara denganku."
Violys ikut menambahkan. "Bahkan dalam beberapa simulasi... Kecepatan kalkulasinya melampaui pilot biasa."
Zero menyilangkan kedua tangannya. "Ginga Stars akan tetap stabil."
Jester tersenyum tipis sambil memainkan kartu Arcana di tangannya. "Robot itu memang bisa diandalkan."
Aryes kembali menatap layar utama. Ia percaya kepada Proxi. Walaupun hanyalah sebuah robot... Kemampuan analisis, pengambilan keputusan, dan kendali presisinya telah berkali-kali menyelamatkan tim X.A.R.A.
---
Di hanggar... Pintu kokpit Ginga Stars perlahan terbuka. Arabels dan Proxi menaikinya. Mesin utama mulai menyala. Lampu-lampu di seluruh tubuh mecha raksasa itu perlahan memancarkan cahaya. Suara sistem aktivasi menggema di seluruh hanggar. "Ginga Stars... Initializing."
Pertarungan di Konstelasi Draco belum berakhir. Dan kini... Satu mecha raksasa bersiap memasuki medan perang.
