Seluruh medan perang di Gamma Draconis seakan berhenti sejenak. Armada kekaisaran, armada Tartanos, tim X.A.R.A., dan para naga semuanya menatap ke satu arah. Di kejauhan... Ice Dragon raksasa milik Storm berhadapan dengan Zyron. Dua naga dengan ukuran luar biasa memenuhi langit Draco. Setiap pergerakan mereka menghasilkan gelombang energi yang mengguncang ruang di sekitar mereka. Para prajurit dari kedua armada bahkan kesulitan mempertahankan posisi kapal mereka.
Dargon melayang dengan tenang. Tatapannya tertuju pada Storm. Ia akhirnya mengakui sesuatu yang sebelumnya tidak ingin ia akui. "Manusia itu..." Dargon menggenggam Eternal Golden Dragon Sword. "...bukan lawan yang bisa dianggap remeh." Zyron bahkan sudah berkali-kali berhasil mendesak Storm. Namun dalam kondisi tubuh yang terluka dan energinya hampir habis... Storm justru mampu memanggil naga es sebesar itu.
Dargon menyipitkan matanya. "Dia mampu memaksa Zyron berada dalam keadaan seperti itu... Padahal tubuhnya sendiri sudah berada di ambang batas." Untuk pertama kalinya... Dargon tidak lagi melihat Storm sebagai manusia biasa dari planet kecil. Ia melihatnya sebagai ancaman yang harus diperhitungkan.
---
Di sisi lain medan perang... Napstylea melesat cepat. Armor Silver menyala terang saat ia menembus ruang angkasa. Di belakangnya, Arabels ikut bergerak. Namun kecepatan Arabels jauh lebih rendah. "Storm!" Napstylea mempercepat lajunya. Ia ingin memastikan kondisi Storm setelah menggunakan energi sebesar itu. Arabels mengikuti dari belakang. Wajahnya penuh kecemasan. "Semoga kamu baik-baik saja..." Matanya tertuju pada Storm yang melayang tidak jauh dari Ice Dragon. Tubuh Storm terlihat semakin lemah. Armor Skycrimson masih dipenuhi kerusakan. Aura Ice Emperor juga mulai tidak stabil.
Arabels mempercepat gerakannya. "Storm!" Napstylea akhirnya mendekati Storm. "Kau masih sadar?"
Storm menoleh perlahan. "Aku..." Ia menarik napas panjang. "...masih bisa berdiri."
Napstylea tidak sepenuhnya percaya. Sementara Arabels akhirnya tiba. Ia langsung menatap Storm dengan cemas. "Kamu terlalu memaksakan diri."
Storm hanya tersenyum tipis. "Tenang saja." Tatapannya kembali menuju Ice Dragon dan Zyron. "Pertarungannya belum selesai."
Di kejauhan... Ice Dragon menggerakkan puluhan sayapnya. Zyron juga mulai bersiap. Seluruh medan perang kembali bergetar.
