Cherreads

Chapter 874 - Keheningan di Istana Urco Tastarius

Armada Tartanos akhirnya berhenti.

Kapal-kapal perang mereka mengelilingi Planet Urco Tastarius, menjaga jarak dari pusat planet yang menjadi jantung Kekaisaran Galaksi.

Di kejauhan, Urco Tastarius tampak begitu megah.

Benua-benua luas terbentang di permukaannya, dihiasi kota-kota bercahaya dan bangunan raksasa yang menjulang hingga menembus awan.

Di antara semuanya, Istana Kekaisaran berdiri paling tinggi.

Sebuah bangunan raksasa yang menjadi simbol kekuasaan Oreons.

Tak lama kemudian, kapal Nexus memasuki atmosfer.

Di belakangnya, Ginga Stars turun perlahan menuju area pendaratan yang telah disediakan.

Suara mesin terdengar menggema di seluruh pelabuhan istana.

Namun tidak ada sorakan.

Tidak ada penyambutan meriah.

Semua orang tahu siapa saja yang baru saja kembali dari Gamma Draconis.

Mereka adalah orang-orang yang baru melewati salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah galaksi.

Dan di antara mereka...

Ada Tyrannos.

Ada Maxtis.

Ada Aryes.

Dan ada Storm.

Pintu aula utama Istana Kekaisaran terbuka perlahan.

GRAAAK...

Puluhan prajurit Kekaisaran yang berjaga langsung menegakkan tubuh.

Para pejabat yang telah berkumpul di dalam aula ikut terdiam.

Mereka menatap ke arah pintu.

Lalu...

Empat sosok muncul lebih dulu.

Tyrannos berjalan di bagian depan.

Pedangnya tergantung di sisinya.

Jubah panjangnya bergerak perlahan di belakang tubuhnya, meskipun tidak ada angin yang berembus di dalam aula.

Tatapannya lurus.

Tidak ada keraguan.

Di belakangnya berjalan Maxtis.

Langkahnya santai.

Namun wajahnya justru menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Kekecewaan.

Gamma Draconis telah menjadi medan perang yang luar biasa.

Begitu banyak petarung kuat berkumpul di sana.

Namun sekarang semuanya telah berakhir.

Maxtis bahkan belum sempat benar-benar menikmati pertarungan terakhirnya.

Ia menghela napas panjang.

"Sayang sekali..."

Tyrannos meliriknya.

"Masih memikirkan pertarungan?"

"Pertarungan seperti itu tidak seharusnya berakhir secepat itu."

Maxtis tersenyum tipis.

"Terutama ketika aku belum menemukan lawan yang benar-benar membuatku puas."

Tyrannos hanya menggeleng.

"Dasar gila bertarung."

Maxtis terkekeh.

Kemudian langkah mereka berhenti sesaat.

Karena dua sosok lain muncul dari balik pintu.

Aryes.

Dan...

Storm.

Aryes berjalan dengan tenang seperti biasanya.

Tatapannya menyapu seluruh aula, memperhatikan para prajurit dan pejabat Kekaisaran yang berdiri di kedua sisi.

Namun perhatian semua orang justru tertuju kepada sosok di belakangnya.

Storm.

Langkahnya perlahan.

Tidak tergesa-gesa.

Tidak pula menunjukkan tanda-tanda ingin berbicara dengan siapa pun.

Wajahnya kosong.

Tatapannya diam.

Dingin.

Sejak kehilangan Arabels...

Storm berubah.

Sebelumnya, ia masih bisa tersenyum.

Masih bisa berbicara dengan orang lain.

Masih bisa menunjukkan kemarahan ataupun kegembiraan.

Namun sekarang...

Hampir tidak ada ekspresi yang tersisa.

Storm berjalan melewati aula seperti seseorang yang pikirannya berada di tempat lain.

Tangannya mengepal sebentar.

Kemudian kembali rileks.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Aryes sempat meliriknya.

Namun ia tidak memaksanya berbicara.

Di sisi lain aula...

Para prajurit Kekaisaran yang baru tiba bersama Maxtis langsung bergerak.

CLACK!

Senjata mereka disiapkan.

Barisan terbentuk.

Satu demi satu prajurit berdiri dalam formasi pertahanan.

Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi.

Tartanos telah memasuki jantung Kekaisaran.

X.A.R.A. juga berada di dalam istana.

Dan di antara mereka ada beberapa sosok yang memiliki kekuatan luar biasa.

Kesalahan kecil saja bisa menyebabkan pertempuran baru.

Seorang prajurit berbisik kepada rekannya.

"Jangan lengah."

"Jika mereka menyerang..."

"Kita harus siap."

Formasi semakin rapat.

Namun...

Tidak terjadi apa-apa.

Tyrannos tidak menghunus pedangnya.

Maxtis tidak bergerak menuju para prajurit.

Aryes hanya berjalan.

Dan Storm...

Tetap diam.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada provokasi.

Tidak ada suara benturan senjata.

Hanya langkah kaki yang terdengar menggema di aula.

Tak...

Tak...

Tak...

Semakin mereka mendekati singgasana Kekaisaran...

Semakin berat suasana di dalam aula.

Oreons duduk di atas singgasananya.

Tatapannya tertuju kepada putranya.

Tyrannos akhirnya berhenti beberapa meter di depan sang Kaisar.

Untuk beberapa saat...

Ayah dan anak itu hanya saling memandang.

Yllarxa yang berdiri di samping singgasana memperhatikan keduanya dengan penuh perhatian.

Ia kemudian melihat ke belakang.

Tatapannya berhenti pada Storm.

Ia pernah mendengar banyak hal tentangnya.

Tentang pertarungannya melawan naga.

Tentang kekuatannya.

Tentang bagaimana ia mengalahkan Dargon.

Namun sekarang...

Yang terlihat olehnya bukanlah seorang pejuang yang penuh amarah.

Melainkan seseorang yang kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Storm berdiri tanpa ekspresi.

Seolah seluruh keramaian di aula tidak berarti apa-apa baginya.

Rangers yang berada tidak jauh dari singgasana juga memperhatikan Storm.

Tatapannya serius.

Ia bisa merasakan bahwa aura Storm berbeda dari sebelumnya.

Bukan karena kekuatannya meningkat.

Melainkan karena ada sesuatu dalam dirinya yang telah berubah.

Maxtis menyadarinya juga.

Ia melirik Storm dari samping.

"Dia benar-benar berbeda..."

Tyrannos mendengar perkataan itu.

Namun tidak menjawab.

Aryes pun tetap diam.

Hanya Storm yang tidak menunjukkan reaksi.

Kemudian...

Oreons akhirnya berdiri dari singgasananya.

Suara seluruh aula langsung lenyap.

Kaisar Urco Tastarius menatap putranya.

"Tyrannos."

Tyrannos mengangkat wajah.

"Ayahanda."

Satu kata sederhana.

Namun seluruh aula terasa semakin tegang.

Karena semua orang tahu...

Pertemuan ini bukan sekadar tentang kepulangan seorang pangeran.

Ini adalah pertemuan antara seorang Kaisar...

Dan putranya yang selama ini berdiri di pihak yang berseberangan dengannya.

Sementara di belakang Tyrannos, Storm tetap berdiri dalam diam.

Tatapannya kosong.

Tidak ada yang tahu apa yang sedang ada di pikirannya.

More Chapters