Waktu seolah berputar mundur, menghancurkan logika dan merajut kembali takdir. Rasa sakit yang menusuk tulang, bau anyir darah, dan dinginnya lantai gudang tempat ia mati perlahan menghilang. Digantikan oleh dinginnya lantai marmer yang familiar namun telah lama ia lupakan.
Elisa tersentak bangun, napasnya memburu seakan baru saja lolos dari jeratan maut. Jantungnya berdegup kencang, siap meledak dari dada. Ia menunggu rasa sakit berikutnya—pukulan sapu lidi atau tendangan keras di rusuk. Tapi tidak ada rasa sakit. Yang ia rasakan hanyalah kemewahan ruangan yang terlalu silau.
"Elisa Wangsa! Apa benar kamu telah mencuri cincin berlian Linda?"
Suara melengking itu membelah kesadarannya. Helen Wangsa, wanita yang dulu ia panggil Ibu, berdiri tegak dengan wajah merah padam menahan amarah. Di belakangnya, berbaris seperti algojo kecil, terdapat Linda, Michael, dan Rado. Tatapan mereka penuh kebencian dan kepuasan tersembunyi. Sementara di sudut sofa, Suryo, ayah angkatnya, duduk diam dengan wajah lelah, membiarkan istrinya mengamuk tanpa membela.
Elisa mengerjapkan mata, bingung. Bau parfum mahal dan kemewahan ruangan ini menyadarkannya. Ia bukan lagi di neraka dunia tempat ia disiksa hingga mati. Ia telah kembali ke tiga tahun lalu. Ke hari paling memalukan dalam hidupnya: hari di mana ia dituduh mencuri cincin berlian Linda, tepat beberapa hari setelah ia "dipulangkan" ke keluarga yang ia kira orang tua kandungnya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Elisa, membuatnya tersentak. Rasa perih itu nyata. Sangat nyata. Ini bukan mimpi.
"Aku tanya padamu, Elisa! Apa benar kamu telah mencuri cincin berlian adikmu?" bentak Helen yang matanya melotot ngeri, tangannya masih terangkat siap menampar lagi.
Sebelum Elisa sempat menjawab, Linda maju selangkah dengan air mata buaya yang sudah siap mengalir. Wajahnya tampak begitu polos, begitu menderita, sebuah topeng sempurna yang selama ini menipu semua orang.
"Ma, sudahlah! Jangan memukul Kakak lagi. Aku yakin Kakak tidak berniat mencurinya. Mungkin dia hanya butuh uang. Benarkan, Kak?" rintih Linda dengan suara bergetar palsu.
Elisa menatap Linda. Dulu, kata-kata manis berbisa itu membuatnya hancur karena merasa berhutang budi. Kini, setelah mengalami kematian tragis akibat keluarga ini, Elisa hanya bisa menyeringai dingin. Ia melihat topeng itu dengan jelas. Topeng yang akan segera ia robek.
"Nak, kamu sudah terlalu baik padanya!" puji Helen sambil mengelus punggung tangan Linda, seolah Linda adalah malaikat dan Elisa adalah iblis. "Kalau saja kakakmu ini sepertimu, pasti Papa dan Mama akan sangat senang. Elisa, lihat adikmu sangat membelamu. Apa sampai sekarang kamu tetap tidak mau mengakui kalau kamu mengambil cincin adikmu?" lanjut Helen menoleh tajam pada Elisa, wajahnya mendominasi ruangan.
Elisa berdiri tegak, menghapus darah di sudut bibirnya. Matanya yang dulu sayu dan penuh ketakutan kini berbinar tajam, penuh tantangan yang membuat Helen sedikit mundur secara insting. Aura gadis itu berubah total. Bukan lagi korban, tapi predator.
"Kenapa tidak dilaporkan saja ke polisi?" tanya Elisa tenang, suaranya datar namun menusuk langsung ke jantung ketakutan mereka.
Linda tersentak. Topengnya retak sejenak. Kecerobohan itu terlihat jelas di matanya. "Ti ... tidak perlu sampai segitunya, Kak. Ini kan urusan keluarga kita." jawab Linda gugup, matanya mulai menghindari tatapan tajam Elisa.
"Benarkah? Bukankah kamu sudah menuduhku mencuri? Kalau begitu, lapor polisi saja. Biar polisi yang menyelidiki sidik jariku, atau mungkin kita cek CCTV rumah ini yang baru dipasang minggu lalu. Atau ... kamu takut sesuatu terungkap, Linda? Takut kalau ketahuan kalau ini semua rekayasamu?" jawab Elisa tertawa kecil, tawa penuh sinisme yang membuat bulu kuduk Helen berdiri.
"Benar, Linda! Kita lapor polisi saja. Biar dia dipenjara!" seru Rado, si anak angkat sombong yang selalu ingin menjatuhkan Elisa. Ia yakin Elisa akan menangis minta ampun seperti biasa.
"Ini ..." Linda mulai panik, keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Tiba-tiba, seorang ART berlari tergopoh-gopoh masuk ke ruang tamu, wajahnya pucat pasi membawa sebuah benda berkilau. "Nona! Nona Helen! Cincin sudah ditemukan! Nona Linda tadi meletakkannya di wastafel kamar mandi pribadinya setelah cuci tangan, mungkin lupa!"
Hening. Suasana mencekam seketika. Suara detak jam dinding terdengar begitu nyaring.
Linda mengertakkan gigi, wajahnya memerah padam karena malu dan kesal. Rencana jahatnya gagal total di depan mata semua orang. Dengan tangan gemetar, ia mengambil cincin dari tangan ART dan memasangnya kembali di jari telunjuknya.
"Kak! maafkan aku ya! Aku salah tuduh. Sekarang Kakak boleh melakukan apa saja padaku. Memukulku juga boleh, aku ikhlas!" saran Linda dengan nada terpaksa, menunduk dalam-dalam agar tidak terlihat marah.
Linda menyipitkan mata saat menunduk, mengirimkan pesan terselubung yang biasa berhasil menakuti Elisa. 'Coba saja pukul aku, nanti Papa dan Mama akan menghabisimu habis-habisan.' batinnya.
"Benarkah aku boleh memukulmu?" tanya Elisa, melangkah mendekati Linda. Suaranya rendah namun penuh ancaman.
Linda hanya mengangguk kaku, menyiapkan diri untuk berpura-pura pingsan atau menjerit minta tolong agar Elisa dihukum berat.
Plak!
Tamparan pertama mendarat telak di pipi Linda. Bukan tamparan main-main, tapi penuh dengan dendam tiga tahun penyiksaan di kehidupan sebelumnya. Suara itu menggema di seluruh ruangan.
Plak!
"Tamparan kedua, beraninya kamu menjebak kakakmu sendiri! Dasar adik sial!" maki Elisa lantang, suaranya tidak bergetar sedikitpun.
Semua orang terbelalak. Helen syok bukan main. "Elisa! Apa-apaan kamu?! Beraninya kamu menampar putriku!" ujar Helen yang sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hendak membalas memukul Elisa dengan sekuat tenaga.
Namun, kali ini Elisa lebih cepat. Ia menangkap pergelangan tangan Helen di udara, cengkeramannya begitu kuat hingga Helen meringis kesakitan. Dengan satu gerakan tegas dan liar, Elisa menarik Helen dan menampar wajah wanita itu hingga terpental jatuh ke sofa.
"Helen Wangsa! Jika kamu berani mengangkat tangan dan menyentuhku sedikit saja mulai hari ini, aku pastikan kamu dan semua anak sampahmu akan keluar dari rumah ini malam ini juga! Plak!" ancam Elisa yang bahkan memberikan tamparan tambahan pada Helen yang masih ternganga tak percaya.
"Apa... apa maksud ucapanmu itu?" tanya Helen, nadanya berubah dari marah menjadi takut melihat perubahan drastis Elisa.
Suryo pun ikut berdiri, wajahnya pucat pasi. "Elisa! Kau gila? Bagaimana kau bicara pada Ibumu? Pada Ayahmu?"
Elisa menoleh tajam pada Suryo, lalu kembali menatap Helen. Ia melangkah mendekat, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Helen, dan berbisik cukup keras hingga terdengar jelas oleh semua orang, terutama Suryo yang sedang terpaku.
"Helen, jangan kira aku bodoh. Aku tahu semuanya! Aku tahu rahasia terbesar keluarga ini yang kalian kubur rapat-rapat. Aku tahu kalau Linda, Michael, dan Rado BUKAN anak kandung Suryo. Karena faktanya, Suryo mandul! Dia seumur hidup tidak akan bisa punya anak alias steril total sejak lahir!" bisik Elisa, matanya menyala seperti api neraka.
BLAM!
Dunia Suryo seakan runtuh. Wajah pria itu langsung putih bagai kertas, lututnya lemas hingga ia jatuh terduduk kembali ke sofa. Itu adalah rahasia medis yang hanya diketahui dokter spesialis dan Helen. Tidak ada orang lain yang tahu. Bagaimana mungkin Elisa tahu?
Helen tercekik, matanya melotot ngeri menatap suaminya yang hancur mendengar kebenaran itu dibongkar di depan anak-anak angkat mereka. "Kau! Kau dari mana tahu?" desis Helen ketakutan, seluruh tubuhnya gemetar.
"Dari mana aku tahu tidak penting! Yang penting, sebentar lagi seluruh dunia akan tahu bahwa 'Keluarga Wangsa yang Sempurna' hanyalah kebohongan besar! Linda bukan anak Papa, begitu juga dengan Michael dan Rado! Mereka semua anak haram hasil hubungan gelapmu dengan pria lain, Helen! Dan kalian memanfaatkan aku, anak yatim piatu yang kalian ambil dari panti, hanya untuk menutupi aib memalukan bahwa Suryo tidak bisa memberi keturunan pada istri sah nya!" lanjut Elisa lantang, menikmati kehancuran mental mereka satu per satu.
"Sialan kamu, Elisa! Beraninya kamu menghancurkan nama baik Papa!" teriak Linda histeris, mencoba menutupi kebenaran yang jauh lebih menyakitkan bagi Suryo daripada tuduhan pencurian.
"Hahaha!Nama baik? Kalian tidak punya nama baik untuk dihancurkan!" Elisa tertawa lepas, tawa kebebasan yang lama ia pendam di dalam kubur.
Tanpa membuang waktu lagi, Elisa berbalik badan dan melangkah gagah keluar dari rumah mewah yang terasa seperti neraka itu. Pintu utama dibanting keras, meninggalkan Suryo yang terpaku menatap lantai dengan hati hancur berkeping-keping, dan Helen yang gemetar ketakutan karena topeng kesombongannya telah robek sepenuhnya.
Di luar, udara sore menerpa wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Elisa menarik napas panjang. Langkah selanjutnya sudah jelas di kepalannya. Ia harus menemukan ayah kandungnya, Jonathan Suryahadiatmaja. Pria yang di masa depan akan menjadi orang terkaya seantero Indonesia, pemilik kerajaan bisnis yang menguasai separuh ekonomi negeri, dan satu-satunya orang yang benar-benar mencarinya dengan hati hancur.
Elisa membuka ponselnya, jari-jarinya menari cepat di layar. Ia mengetik nama "Jonathan Suryahadiatmaja". Hasil pencarian muncul seketika. Kantor pusat perusahaannya ternyata hanya berjarak 200 meter dari rumah keluarga Wangsa. Takdir memang sedang bekerja sama dengannya.
Dengan langkah mantap penuh tekad, Elisa menuju gedung pencakar langit yang megah itu. Kaca-kaca gedung memantulkan sosok gadis muda dengan tekad baja di matanya. Perang baru saja dimulai, dan kali ini, Elisa tidak akan kalah.
