Cherreads

Chapter 35 - Bab 35

Boom! Deru angin kencang tiba-tiba terhempas ke suatu arah, detik berikutnya pohon besar yang berdiri menghalangi jalannya hancur dan tumbang sampai menghantam tanah.

Netero yang telah was-was berhasil menghindari serangan tiba-tiba barusan. Bahkan jika tubuhnya sekeras baja, dia tidak akan berani menahan tendangan barusan.

Dari dalam debu yang menghalangi pandangannya, Netero melihat sesuatu yang membuatnya tidak bisa menahan senyumnya. Aura... begitu kasar dan luas. Belum terasah, ya, tapi potensinya begitu luar biasa.

"Ives." Ucapnya dengan nada enteng dan menyambut.

Berjalan ke depan, Ives mendengus. Melihat sosok Biscuit yang terbaring tak beradaya di tanah, kemarahannya tersulut.

Melihat kondisinya sekarang membuatnya menjadi kasihan dan marah kepada pak tua sialan itu.

"Apa yang salah denganmu, pak tua? Apakah kamu benar-benar ingin melukai kita?" Tanyanya sambil menggertakkan giginya. Auranya terpancar dari tubuhnya lebih keras.

"Hmm, mungkin. Jika kalian tidak bisa mengatasinya maka lebih baik menyerah saja, aku tidak menerima murid yang lemah." Jawabnya dengan nada mengejek.

"Tch, persetan denganmu." Dia segera berteleportasi ke depan Netero dan meluncurkan pukulan terkonsentrasi ke arah perutnya.

'Ryu?' Gumamnya dengan sedikit nada terkejut. Netero mengambil posisi kuda-kuda lalu mengerahkan Auranya. Dia ingin melihat seberapa keras pukulan yang dapat diluncurkan oleh Ives.

Saat kontak terjadi, tubuhnya mundur dua meter. "Lumayan." Katanya sambil bersiul. Tidak pernah dia sangka bahwa pria muda ini berhasil mempelajari teknik lanjutan seperti itu dengan sendirinya. Dia dapat melihat bahwa dia melakukannya menggunakan perasaannya, yang berarti dia masih tidak menyadari sepenuhnya apa yang telah dia lakukan.

Seperti contoh, Gon, dia berhasil menguasai Zetsu bahkan tanpa mengetahui Nen ada, itulah sebabnya dia salah satu dari jenius.

Melirik ke sebalah kiri, Netero menghindari serangan lain lalu menyerang balik dengan cepat.

Berlari mengikuti pergerakan pria muda itu, Netero melancarkan beberapa serangan beruntun sembari mencoba memojokkannya.

Kiri, kanan, bawah... Ives berhasil membaca dan mengindari setiap pukulannya dengan lihai. Dalam hati dia kaget, sejak kapan dia menjadi secepat ini? Sejak kapan dia bisa membaca pergerakan Netero tanpa terbata-bata? Tidak ingin terlalu memikirkannya, dia kembali menyerang pak tua itu.

Pertarungan terus berlangsung selama beberapa jam. Tanah lapangan menjadi retak-retak karena bantingan tubuh, batu hancur menjadi kerikil karena pukulan dan tendangan, dan pohon tumbang karena serangan ekstreme mereka.

Saat matahari tenggelam, Ives jatuh ke tanah dengan napas tersenggal-senggal, sedangkan Netero tetap berdiri, kali ini dengan senyum puas. Tidak seperti Biscuit dan Ives yang babak belur dengan luka lebam, dia terlihat jauh lebih baik, mungkin dengan sedikit darah yang mengalir dari sudut mulutnya.

Access 40 extra chapters here: patréon.com/mizuki77

Use code: SUMMER for 50% Discount. Valid till July 26, 2026.

More Chapters