"Hei, anak pembunuh!"
"Aku anak polici, ayahku seorang monyet! HAHAHA."
"Aku ... AKU JUGA BENCI AYAHKU!"
Lehernya berurat, menghadap langit sambil memejamkan mata.
"Hah, itu dia."
"Bu Jain. Katanya anaknya meninggal ditembak isolop."
"Heh, dan kau jangan malah mendukung kami. Kau selama ini hidup kaya tau!" ucap seorang manusia dewasa.
"Tapi ... aku juga benci—
-
... benci ... benci ... apa ya?"
Wanita itu tiba-tiba datang, tangannya mencengkram leher Zana.
"Putra-ku...
—Hans..."
"Zana..."
"Zana ... ayo berangkat."
"Hoh, iya ma.
—
Mama ... kenapa kita pindah?"
"Kita cuman main nak ... mama udah lama nggak ketemu saudara mama, jadi tidak usah khawatir ya, Sayangku."
Ibu itu memeluk Zana, tak lupa jua sang ibu mengecup dahinya.
Mereka membawa dua tas ransel, yang kecil dan yang besar.
Si Ibu membawa yang setara dengannya, sedangkan si kecil membawa yang tersisa di sebelahnya.
Si Ibu membuka pintu mereka.
Pintu yang tak kuasa menahan teriknya sinar mentari.
Zana dan ibunya berjalan secara senyap menuju sebuah terminal bus.
Jalan pagi ini lumayan sunyi.
Lampu lalu lintas yang sudah tidak dapat beroperasi, membuat kendaraan-kendaraan hanya mengikuti keinginan pribadi mereka.
Tak semua, hanya sebagian.
Sampah botol plastik yang berserakan tepat di pijakan mereka.
Mobil yang berhenti di tengah jalan.
Mobil yang sangat gelap.
Pecahan kaca yang berserakan di pinggir ruko.
Kain merah yang melekat dengan aspal.
Semua itu hanyalah kesunyian.
Tidak seperti saat matahari berada di bawah kaki kita.
Pria berseragam dengan manusia berkain murah.
Tidak ada yang benar-benar paham.
Kecuali diri mereka dan keluarganya.
Wanita itu menenteng semua yang anak itu perlukan.
Ia akan bolos sekolah hari ini.
Mungkin anak-anak lain juga.
Mereka tiba di suatu aspal.
Aspal yang beraroma kelabu menyelimuti dua jurang di indra penciuman mereka.
Mataku perih.
"Uhuk ... Ohok..."
"Ayo kita pergi ... Nak."
"Baik, Mama."
-
-
"Oi, polisi sialan!"
"Polisi pembunuh! Bicara kau!"
-
"Bos ... bagaimana ini?"
"Cih, tahan saja, kampret! Kalau tidak, masa depan kita akan hilang!"
"Sialan kau!"
Sebuah batu menyambar mulut Pak Bos.
"Gagek, gugukgu."
"Bos, seharusnya aku membawamu ke psikolog sebelumnya."
"Semuanya ... silahkan..."
"Eh ... silahkan?"
"Silahkan .... basmi semua agar tidak mengganggu warga lain. Ini arahan dari atasan."
"Kenapa, Pak?"
"Tidak tahu ... Qor. Aku juga tidak tahu..."
Malam itu—
DOR!
"Woi, jangan tembak!"
"Polisi ******!"
"T-temanku ... telah—"
Seorang pelajar memperhatikan teman masa kecilnya.
"SIALAN!"
Para keju itu menggerogoti tikus—atau makanan lain?
"PAK BOS!"
Kerumunan keju yang membusuk satu per satu, meminum air kehidupannya sendiri.
Dari kejauhan terlihat seorang anak muda dengan rambut coklat.
Ia berjalan dengan tenang.
Melewati setiap ketenangan tiada akhir.
Melantunkan sebuah nada.
Nada yang hangat serta mengganggu.
"Oi, jangan ke sana!"
Keju kecil itu ingin menahan seekor ikan untuk berenang kembali.
Anak muda itu sampai di hadapan para pria dengan sepatu hitam.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Wajah pria di hadapannya tampak mengerut.
Mulutnya memerah.
Ia tidak bisa bergerak.
"Aku ... hanya ingin—"
Semuanya menunggu ... menunggu suatu kata...
"—ibuku hidup kembali."
Tangan anak muda itu perlahan bergerak ke arah langit biru di atasnya.
Menuju ke suatu tempat.
Suatu planet yang dipenuhi dengan kristal.
Pria berseragam segera menunjukkan alat sihirnya di hadapan sang monster.
Keringat memenuhi wajah mereka.
"K-kau ... m-makhluk macam apa kau ini?"
"Aku? Aku bukan siapa-siapa ... hanya makhluk purba yang selalu kalian hina-hina ... tidak, bukan kalian, tapi mereka!"
"Mas, Tully gantian dong! Btw, kau itu ngomong apa sih."
"Sabar monyet ... aku lagi pidato ini."
-
"POLISI!"
"Huh?"
"Huh?" ~ Sazha.
Pria berseragam itu termenung, menatap seorang keju yang memegang sebuah mainan anak-anak.
"KE–KEMBALIKAN! U-UANG ... RAKYAT!"
Duar!
Dan yah, Tully Monster mati lagi.
"DASAR RAKYAT BODOH!" ~ teriak seorang pria dengan helm.
-
-
"Dedi ... gimana ini?"
"Nak ... jangan khawatir ya ... kita pasti bisa lalui semua ini."
Mereka bertiga berada di sebuah penginapan.
Kenapa ada aroma roti di sini?
"Agh ... mabuk ... mantap!"
"Bersulang!"
"Yo!"
-
-
"Dedi...
Mengapa aku ada di sini?"
"Anak itu menatap ... sebuah jendela atau ... dirinya sendiri?"
-
-
"Ha ... ha ... hhhh ... Q-qora...
Qora...
Qora...
K-kalau kau sudah m-mati bilang y-yoo..."
Sayangnya pria bulat itu hanya berbicara dengan semut.
Semut yang terinjak oleh nyamuk.
Di permukaan badai kelabu, puluhan semut dan nyamuk saling menyatu dengan bulan.
Ratusan dari mereka masih mencapai atmosfer bulan.
"B-bos..."
Tangan Qora mengarah ke arah bosnya.
"Qora ... aku lupa memberitahu istriku untuk pergi dari rumah."
"T-tidak mungkin..."
"Tidak ... aku ingat ... maaf, aku bohong."
"B-bagaimana ini bos ... apa perlu pakai teleponku?"
"Terima kasih ... tapi tidak perlu."
"Kalau begitu ... aku yang akan memanggilnya ... beri tahu aku nomornya—"
"Maaf ... aku tidak bisa mengingat nomor apapun."
"Oh iya, maafkan aku ... aku lupa kau hilang ingatan."
"Heh ... tidak masalah anak muda ... di saat seperti ini ... entah kenapa ... aku tidak peduli lagi pada rumah serta barang-barang mahalku."
"Ya..."
"A-aku hanya bisa memikirkan satu hal...
kesalahanku kepada ... istriku."
Kelopak mata pria bulat itu seketika membeku dalam waktu.
Melihat suatu emosi dihadapannya.
Emosi yang tak berwarna terang.
Dan tak juga bersinar gelap.
"M-maafkan aku ... Ayah." ~ Qora
