Bab 7
Tanah di utara Troya tidak pernah terasa seberat ini. Paris menyeka keringat yang bercampur dengan percikan lumpur di dahinya, menatap nanar ke arah lembah di hadapannya.
Udara lembap dan bau tanah basah yang membusuk menusuk penciumannya.
Di bawah sana, sebuah pemukiman kecil tampak seperti luka yang menganga di kaki perbukitan hancur, berlumpur, dan sunyi.
Kedatangan di Desa yang Terluka
Langkah kaki Paris terhenti saat ia mencapai batas desa. Beberapa pria dengan pakaian linen kasar dan wajah yang kuyu berdiri menghadangnya.
Mereka memegang tombak kayu yang ujungnya sudah tumpul, lebih mirip alat penggaruk tanah daripada senjata perang.
"Berhenti, wahai orang asing," salah satu dari mereka berseru, suaranya parau. "Siapa kau dan apa urusanmu di tanah yang dikutuk Poseidon ini?"
Paris mengangkat tangannya terbuka, menunjukkan bahwa ia tidak membawa pedang maupun perisai.
"Namaku Demetrius," jawabnya tenang, suaranya berwibawa namun lembut. "Aku hanya seorang pengelana yang mencari tempat berteduh, tapi yang kutemukan di sini hanyalah duka."
Siapa itu Demetrius, Direktur? Tanya Alexander, Kenapa kita harus berbohong dengan nama itu...
Kita tidak berbohong, Alexander. Kita hanya memakai nama lain saja... kata Direktur Utama.
Pangeran Paris menatap curiga, Kau merencanakan apalagi sebenarnya, Manusia dunia lain...
Direktur Utama menoleh, Kalian berdua tenang saja. Kita masih harus melaksanakan misi dari Themis untuk menghindari loss takdir yang seharusnya terjadi.
Alexander mengangguk setuju, Selama ayah Agelaus dan ibu Thalia baik-baik saja, aku akan ikut.
Pangeran Paris meludah, Terserahlah...
Mendengar nama itu, ketegangan sedikit mengendur, meski kecurigaan tetap membayang. Seorang pria tua keluar dari balik kerumunan.
"Aku Arcas, kepala desa ini. Jika kau mencari tempat berteduh, kau salah tempat, Demetrius. Dewa-dewa telah memalingkan wajah dari kami. Setiap kali hujan turun dari langit utara, sungai di atas sana mengamuk dan menelan rumah kami. Kami telah memberikan persembahan, tapi air tetap datang seperti murka yang tak terpadamkan."
Jejak Pengkhianatan Terhadap Alam
Paris tidak langsung menjawab. Ia mengamati aliran lumpur kering yang melapisi dinding-dinding gubuk.
Pikirannya tidak tertuju pada kemarahan dewa, melainkan pada hukum alam yang ia pahami. Ia meminta izin untuk melihat hulu sungai, dan dengan enggan, Arcas mengizinkannya.
Pariss mendaki lereng bukit di belakang desa. Semakin tinggi ia melangkah, semakin jelas penyebab bencana itu. Matanya menyipit saat melihat hamparan tunggul pohon yang mencuat seperti gigi yang patah.
Ini bukan murka dewa, kata Direktur Utama pada dirinya sendiri.
Apa maksudmu, Direktur? Tanya Alexander di dalam kepala Paris.
Hutan yang seharusnya lebat menutupi lereng menuju arah Troya kini gundul. Pohon-pohon ek dan pinus raksasa telah ditebang secara liar, mungkin untuk membangun kapal-kapal perang atau memperkuat tembok kota-kota besar di selatan, Alexander, kata Direktur Utama.
Tanah di sana pecah-pecah, tanpa akar yang mengikatnya. Saat hujan turun, tak ada yang menahan air; tanah itu berubah menjadi bubur yang meluncur bebas menghancurkan apa pun di bawahnya.
Pelajaran dari Masa Depan
Kembali ke desa, Paris mengumpulkan warga di lapangan tengah yang masih tergenang air setinggi mata kaki. Mereka menatapnya dengan penuh harap, seolah ia adalah peramal yang akan memberikan mantra pengusir banjir.
"Dengarkan aku, warga Arcas!" seru Paris. "Kalian menyalahkan dewa, tapi tangan manusia pulalah yang mengundang bencana ini. Pohon-pohon di atas sana adalah pelindung kalian. Akar mereka adalah jemari yang mencengkeram bumi, dan dedaunan mereka adalah payung yang memecah amarah langit."
Ia berjongkok, mengambil segenggam lumpur.
"Tanpa hutan, tanah ini kehilangan jiwanya. Ia menjadi lemah dan hanyut terbawa air. Jika kalian ingin banjir ini berhenti, kalian tidak bisa hanya berdoa. Kalian harus mengembalikan apa yang telah diambil."
Paris menjelaskan konsep yang melampaui zaman mereka, bagaimana hutan berfungsi sebagai spons raksasa yang menyerap air hujan ke dalam tanah, mencegahnya meluap sekaligus menjaga mata air tetap hidup saat musim panas tiba.
Ia berbicara tentang reboisasi, sebuah kata yang asing bagi mereka, namun ia sederhanakan sebagai "menanam kembali nafas bumi."
Menanam Harapan Baru
Tanpa menunggu perintah, Paris berjalan ke tepi hutan yang tersisa. Ia menggali lubang kecil dengan tangannya, lalu mengambil bibit pohon pinus muda yang ia temukan di sela-sela semak.
"Mulai hari ini, kita tidak hanya akan membangun kembali rumah yang hancur," ujar Pariss sambil menanam bibit itu ke dalam tanah. "Kita akan membangun kembali benteng hijau kita. Setiap pohon yang kalian tanam adalah janji bagi anak cucu kalian bahwa mereka tidak akan lagi terbangun oleh gemuruh banjir."
Melihat Paris yang kotor oleh tanah, warga desa mulai bergerak. Tergerak oleh keyakinan pria asing itu, mereka mulai mengumpulkan bibit-bibit liar.
Arcas, sang kepala desa, menjadi orang pertama yang mengikuti jejaknya, menanam bibit ek kecil di samping Paris.
Matahari mulai terbenam di ufuk barat, membiaskan cahaya jingga di atas tanah yang gundul.
Paris tahu ini akan memakan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Namun, saat ia melihat para pemuda desa mulai menggali lubang-lubang baru, ia tahu bahwa benih kesadaran telah tertanam lebih dalam daripada akar pohon mana pun.
"Oh... Dewi Demeter..." ucap Paris, "Kami di sini mengembalikan apa yang seharusnya menjadi bagian dari alammu..."
Hei, apa yang kau lakukan, Alexander... Pangeran Paris mencekram dada Alexander.
Direktur Utama menatap keduanya.
Cahaya hijau berpendar, tanah di sekitar Paris bergetar.
Tidak lama kemudian mata warga desa terbuka saat benih yang mereka tanam berubah menjadi pohon besar yang hijau.
"Terima kasih... tuan Demetrius," ucap para warga desa.
"Anda benar-benar memiliki nama yang terhubung dengan dewi Kesuburan, Demeter..."
Lihat wajah bahagia mereka, Pangeran... ujar Alexander, inilah kekuatan ibu Demeter...
Pangeran Paris melepaskan Alexander, Direktur Utama tenang melihat keduanya.
Demeter... aset yang akan berguna di masa depan... kata Direktur Utama.
Apa maksudmu itu, Manusia dunia lain? Lirik Pangeran Paris.
Alexander gemetar, kau tidak akan menggunakan dia sebagai alat bukan, Direktur?
Direktur Utama tidak menjawab. Ia hanya menatap hamparan hutan baru itu dengan warga desa yang mulai mengagungkan nama Demeter.
Bersambung.
