Cherreads

Chapter 3 - Bab 3 kartu

Hujan di luar belum juga reda.

Tetesannya beradu dengan jendela besar ruang baca, memantulkan cahaya lilin yang menari di dinding.

Sam — masih terjebak dalam tubuh Sophia Kailn — menatap ke arah papan catur yang kini tergeletak di lantai. Tapi bukan itu yang membuat dadanya sesak. Di meja, di samping tumpukan surat-surat berdebu, ada sesuatu yang menonjol: sebuah kotak kecil dari beludru biru tua, dengan kunci emas yang sudah berkarat.

Ia tak tahu kenapa, tapi matanya terpaku pada benda itu.

Harven Kailn, pria tua di kursi rodanya, mengikuti arah pandang Sophia.

“Ah... kau memperhatikannya,” katanya pelan. “Aku sengaja membiarkan kotak itu di sana. Dulu kau sangat menyukainya.”

Sam menelan ludah. “Apa itu?”

Harven tersenyum tipis, tapi matanya tampak jauh. “Kartu keluarga Kailn. Tiga belas lembar yang diwariskan turun-temurun. Setiap lembar melambangkan nasib pemiliknya.”

“Nasib?” Sam mengulang pelan.

“Ya,” lanjut Harven. “Namun, sejak malam kau menghilang, satu kartu dari set itu ikut lenyap.”

Ia menatap Sophia dengan mata yang agak bergetar. “Kartu itu... kartu The Caller. Tidak pernah kembali.”

Sam mendekati meja perlahan, menyentuh permukaan kotak yang dingin dan lembap. Ia bisa merasakan sesuatu — seperti denyut samar dari balik kotak.

“Apakah kartu itu penting?”

“Lebih dari penting,” jawab Harven lirih. “Tanpa kartu itu, keluarga Kailn kehilangan pelindungnya. Dan setiap mimpi buruk yang dulu hanya legenda... mulai kembali.”

Suara jam di dinding berdentang tiga kali.

Suasana rumah seolah ikut menegang.

Sam menatap ke arah Harven. “Dan Anda yakin... saya yang terakhir kali menyentuhnya?”

Pria tua itu mengangguk. “Kau menyimpannya di gaun putih malam itu. Kami semua mencarimu... dan kartu itu.”

Sam menunduk, menatap jemarinya — tangan ramping milik Sophia — lalu perlahan membuka saku kecil di sisi gaunnya. Di dalamnya hanya ada selembar surat yang sudah ia temukan sejak awal, dan potongan kertas lain yang baru kini ia perhatikan.

Kertas itu lembap, tintanya hampir pudar. Tapi ada tulisan samar di ujungnya:

“Jangan percaya pada bayangan di cermin.

Kartu itu memilih siapa yang akan memanggil.”

Sebuah getaran dingin menjalar di punggungnya.

Ia menatap ke arah Harven, tapi pria itu kini menatap kosong ke jendela.

“Bayangan di cermin...” gumam Sam. Ia tiba-tiba teringat pantulan aneh di lorong tadi — dirinya sendiri dalam tubuh Sam, bukan Sophia.

“Apakah ada cermin tua di rumah ini, Tuan Harven?” tanyanya pelan.

Harven menoleh perlahan. Tatapannya berat, penuh sesuatu yang tak diucapkan. “Ada. Di ruang bawah... tempat kartu itu pertama kali ditemukan.”

“Ditemukan?”

“Ya. Kartu itu tidak dibuat. Ia... muncul,” jawab Harven lirih. “Dari balik cermin itu.”

Cahaya lilin di meja tiba-tiba bergoyang kencang, seolah ditiup angin padahal tak ada celah di ruangan itu.

Sam melangkah mundur.

Dari dalam kotak beludru, terdengar klik lembut — seperti kunci yang terbuka sendiri.

Kotak itu bergeser sedikit, lalu diam.

Di dalamnya hanya tersisa dua belas kartu, tersusun rapi. Setiap kartu bergambar dengan tinta perak: The Queen, The Tower, The Serpent, The Moon… — tapi satu ruang di tengahnya kosong.

Kosong. Tapi dari ruang kosong itu, keluar kabut tipis keperakan, berputar lembut, lalu menghilang.

“Tidak mungkin…” bisik Harven. “Kau sudah kembali…”

Sam menatapnya. “Siapa yang kembali?”

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah kartu kosong itu dengan wajah pucat.

“Jika The Caller telah bangun… maka cermin itu akan memanggil lagi.”

Sophia pun langsung terdiam dan hanya berkeringat dingin

⚜️

bersambung

More Chapters