Suara misterius itu kembali terdengar, dingin dan menekan.
Suara Pria Misterius:
"Apa urusan kalian… sampai merasa berhak memaksa menemui kepala keluarga?"
Ayah Mina, Ibu Mina, dan Mina menoleh bersamaan.
Dari arah koridor, dua sosok mendekat.
Seorang pria ras demon—posturnya tegap, aura wibawanya jelas, tatapannya tajam namun terukur.
Di sampingnya, seorang wanita beastskin ras kucing—geraknya anggun, wajahnya tenang, tapi ada ketegasan yang membuat ruangan seperti ikut diam.
Ayah Mina buru-buru berdiri, menunduk sopan.
Ayah Mina:
"Maaf telah mengganggu."
"Kami keluarga Sakurai."
"Datang karena keluarga kami sedang… dalam keadaan genting."
Ia menjelaskan singkat: pertunangan yang diputus, ancaman yang makin nyata, rumah yang baru saja habis terbakar, dan satu harapan terakhir—meminta perlindungan, atau setidaknya jalan keluar.
Pria demon itu diam sesaat, seolah mengukur setiap kata.
Lalu ia menoleh ke wanita di sampingnya.
Pria Demon:
"Sayang… bukankah ini seperti yang kita bicarakan pagi tadi?"
Wanita beastskin menghela napas kecil.
Wanita Beastskin:
"Kemungkinan."
"Tapi… biarkan saja dulu."
Ayah Mina—yang menangkap nada itu—menelan ludah.
Ayah Mina:
"Apakah ada masalah dengan cerita kami…?"
"Dan… apakah keluarga Anda bisa membantu keluarga kami?"
Mina yang sedari tadi menahan diri akhirnya melangkah setengah langkah maju. Suaranya gemetar, tapi ia paksa tegas.
Mina:
"Saya mohon… tolong bantu keluarga kami."
"Saya akan melakukan apa pun… selama syaratnya tidak memberatkan keluarga kami."
Wanita beastskin menatap Mina lama—bukan tatapan merendahkan, melainkan tatapan orang yang sedang menimbang harga sebuah keputusan.
Lalu ia bicara pelan, jelas.
Wanita Beastskin:
"Untuk membantu kalian… aku tidak bisa menjanjikan apa pun."
"Karena keputusan itu bukan ada di tangan kami."
Ia menatap suaminya sebentar, lalu kembali ke Mina.
Wanita Beastskin:
"Yang mengambil keputusan di rumah ini adalah putri kami."
"Sejatinya, semua yang kalian lihat di sini… miliknya."
"Kami hanya mengelola."
Kalimat itu jatuh seperti batu ke dasar dada Mina.
Mina (dalam hati):
Jadi benar… kepala keluarga itu… anak mereka…
Kalau aku bisa membuat putri mereka mau mendengar… mungkin keluarga kami selamat…
Tapi… kalau dia sama seperti Kurogane…?
Dan kenapa aku seperti melupakan sesuatu.
Ayah Mina menahan kaget, lalu bertanya hati-hati.
Ayah Mina:
"Kalau begitu… apakah kami bisa bertemu kepala keluarga Anda?"
Wanita beastskin menggeleng.
Wanita Beastskin:
"Putri kami sedang pergi."
"Untuk inspeksi hasil kerja sama… dengan perusahaan Kurogane."
Nama itu seperti pisau yang tiba-tiba menekan tenggorokan Mina.
Mina:
"Kurogane…?"
"Kalian… bekerja sama dengan mereka…?"
Mina terpaku—seolah baru sadar bahwa mereka mungkin berdiri di depan pintu bahaya yang lebih besar.
Pria demon itu menatap mereka tanpa simpati berlebihan—lebih seperti orang yang sudah terlalu sering melihat orang datang memohon.
Pria Demon:
"Kalian tidak perlu terkejut."
"Kerja sama itu keputusan putri kami."
"Kami mengizinkan kalian masuk… hanya karena penasaran."
"Bukan berarti kami akan membantu."
Mina merasa lututnya melemah, tapi ia menahan. Ia tidak boleh runtuh di sini.
Lalu—dari arah pintu depan—terdengar suara langkah yang cepat. Suara seorang gadis.
Suara Gadis:
"Ayah, Ibu… urusan kerja dengan Kurogane harus dikaji—"
Suara itu terhenti di tengah kalimat.
Sumbernya baru melihat bahwa ruang tamu sedang "penuh".
Dan Mina membeku.
Itu suara yang ia kenal.
Gadis itu melangkah masuk, menatap keluarga Sakurai—lalu tatapannya bertemu Mina.
Waktu seperti berhenti sepersekian detik.
Natsumi:
"Halo, Mina."
Mina hanya mampu menyebut namanya, pelan—campuran kaget, marah, dan bingung.
Mina:
"…Natsumi."
—Pantai dan Janji Darah
Sore di pantai itu berangin.
Langit memerah, ombak memukul garis pantai seperti detak yang tidak sabar.
Ravien berdiri sendiri, menatap laut tanpa benar-benar melihatnya.
Kepalanya penuh satu nama.
Ravien (dalam hati):
Lunaria… kali ini kau sudah tidak termaafkan.
Akan kucari kalian… di mana pun.
Dan Hina… tunggulah aku.
Langkah kaki mendekat dari belakang, pelan tapi pasti.
Rei:
"Akhirnya aku menemukanmu."
Ravien tidak menoleh. Suaranya rendah, seperti menahan api.
Ravien:
"Pergilah."
"Tinggalkan aku sendiri… sebelum aku lepas kendali."
Rei berdiri di sampingnya—tak bergeser sedikit pun.
Rei:
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Ravien."
"Aku sudah dengar cerita masa lalumu… dari Seris."
Ravien tertegun sesaat, lalu mendecakkan lidah.
Ravien:
"Lalu apa?"
"Kau mau menghakimi aku setelah tahu masa laluku?"
"Bukankah kau juga pernah melalui hal yang sama?"
Rei membeku sebentar—lalu menghela napas.
Rei:
"Pasti Hina yang cerita."
"Dan… ya, aku juga pernah dikhianati."
"Tapi kau lebih 'beruntung'."
"Kau punya kekuatan untuk melawan."
"Sedangkan aku…"
"Aku cuma bisa memaafkan kebodohanku sendiri."
"Dan memaksa diriku memaafkan orang yang menyakitiku."
Ravien menatap laut, suaranya berubah lebih pelan—lebih jujur.
Ravien:
"Aku malah iri padamu, Rei."
"Kau bisa memaafkan mereka."
"Sedangkan aku… tanganku sudah penuh darah di masa lalu."
"Lalu Hina datang… dan luka itu mulai sembuh."
"Tapi mereka merenggut dia."
"Seolah memaksaku kembali… melumuri tangan ini."
Rei menepuk pundak Ravien—tegas, bukan menghibur kosong.
Rei:
"Balas dendam bukan segalanya."
"Untuk Hina… kita cari bersama."
"Tapi sebelum itu—tenangkan dirimu."
"Kalau Hina melihatmu seperti ini… dia akan sedih."
"Dan aku percaya… Hina akan baik-baik saja."
Ravien akhirnya menoleh sedikit, mata tajamnya bergetar tipis.
Ravien:
"…Terima kasih, Rei."
"Aneh. Kata-katamu mirip Hina."
"Aku tidak bisa membantah."
Rei menatapnya datar, lalu berkata pelan.
Rei:
"Itu kelebihanku."
"Bukan kekuatan… tapi kata-kata."
Ravien tertawa pendek—tawa yang pahit.
Ravien:
"Kau bukan tidak punya kekuatan, Rei."
"Kau hanya… belum bisa menggunakannya."
Rei terkejut mendengar ucapan Ravien.
Rei:
"Jangan bercanda di saat seperti ini, Ravien."
"Tidak mungkin aku memiliki kekuatan."
"Tapi kalau itu benar… mungkin aku bisa membantumu."
Ravien:
"Aku tidak ingin menghajar temanku sendiri hanya karena dia tak bisa mengendalikan kekuatannya."
Rei hanya bisa tersenyum mendengar kekhawatiran Ravien padanya.
Rei (dalam hati):
Aku berharap memiliki kekuatan yang kau maksud, Ravien.
Agar aku bisa melindungi kalian semua dan membantu masalahmu.
