Kesadaran Hina kembali… pelan, seperti ditarik dari dasar laut.
Namun saat matanya terbuka—yang ia lihat bukan lagi batu dingin, bukan lagi altar, bukan lagi belenggu energi hitam.
Yang ada… hanya putih.
Putih bersih, luas, dan sunyi.
Tidak ada dinding yang jelas. Tidak ada langit. Tidak ada lantai yang benar-benar punya batas. Seolah ia berdiri di dalam dunia yang belum selesai diciptakan.
Hina:
"Di… mana ini…?"
Ia menoleh ke kanan, ke kiri—kosong.
Ia menunduk—lantainya putih juga. Ia mengangkat tangan—tidak ada rantai, tidak ada belenggu. Tubuhnya terasa ringan, tapi justru itu yang membuat jantungnya makin cepat.
Hina (dalam hati):
Bukankah aku… diculik?
Apa aku… diselamatkan?
Tapi kenapa tempatnya seperti ini…?
Ia bangkit berdiri, lalu mulai berjalan.
Langkahnya terdengar jelas—padahal seharusnya ruangan seluas ini menelan suara. Tapi tidak… suaranya justru memantul, bergema, kembali padanya seperti ruangan ini sengaja mengulang setiap kata yang ia ucapkan.
Hina:
"Ravien…? Seris…? Sora…?"
"Kalian di mana? apakah ada orang?"
Tidak ada jawaban.
Hanya gema namanya sendiri yang menyebar, lalu mati perlahan.
Ia terus berjalan—tanpa arah, tanpa tanda, tanpa ujung. Entah berapa lama.
Putih tetap putih.
Sunyi tetap sunyi.
Entah sudah berapa lama ia berjalan.
Dan perlahan, semangatnya mulai terkikis.
Hina berhenti. Lalu duduk lemas, seolah kaki dan pikirannya sama-sama menyerah.
Hina:
"…Sebenarnya… ini di mana…?"
"Kenapa… tidak ada apa pun…"
Ia menunduk. Napasnya bergetar.
Hina (dalam hati):
Aku… sendirian lagi…?
Kenapa harus seperti ini lagi…?
Dan tepat ketika kata "sendirian" terasa akan menghancurkannya—
Krek.
Suara seperti pintu dibuka memecah kesunyian.
Hina tersentak, menoleh cepat ke arah suara itu.
Di ruang putih yang barusan kosong… muncul sebuah pintu.
Bukan muncul perlahan—tapi seperti tiba-tiba ada, seolah pintu itu selama ini ada di sana namun baru diizinkan untuk terlihat.
Pintu itu terbuka… tapi di baliknya bukan ruangan lain.
Yang terlihat hanya "putih" yang lebih dalam—seperti gerbang dimensi, berkilau halus, tanpa memperlihatkan apa pun di seberangnya.
Hina menelan ludah.
Hina (dalam hati):
Kalau aku tetap diam… aku tidak akan mendapat jawaban.
Tapi kalau aku masuk… bagaimana kalau ini jebakan lain…?
Keraguannya bertarung dengan rasa ingin hidup.
Akhirnya, Hina berdiri. Perlahan. Tangannya gemetar saat ia mendekat.
Di depan pintu itu, hawa putihnya terasa… aneh. Bukan dingin. Bukan panas. Seperti angin yang tidak punya suhu.
Ia menutup mata.
Hina:
"…Baiklah."
Satu langkah.
Dan ketika ia melangkah menembus "putih" itu—
dunia berubah.
Hina membuka mata… dan untuk sesaat ia lupa bernapas.
Ia berdiri di hamparan sabana luas—bukan padang rumput biasa, melainkan lautan bunga berwarna-warni yang bergerak lembut ditiup angin.
Langitnya cerah. Udara wangi. Kupu-kupu berterbangan. Suaranya… hidup.
Hina:
"…Indahnya…"
Pintu yang tadi ia lewati masih ada—di belakangnya.
Tapi sebelum ia sempat melangkah kembali…
TUK.
Pintu itu tertutup sendiri.
Hina menoleh cepat, panik.
Hina:
"Eh—tunggu!"
Namun pintu itu… seolah menolak untuk dibuka lagi.
Ia berdiri kaku, menahan napas.
Hina (dalam hati):
Aku terjebak…?
Atau… ini memang tujuannya…?
Dan tepat ketika ia mencoba memutuskan harus ke mana—
tanah di depan kakinya bergerak.
Bukan berguncang, bukan retak—melainkan bunga-bunga itu menyingkir rapi, membentuk jalan setapak yang jelas, seolah ada tangan tak terlihat sedang menggambar jalur untuknya.
Hina membeku, menatap jalan itu.
Hina (dalam hati):
Ini… memanggilku?
Atau menuntunku?
Ia tidak punya pilihan lain.
Hina mulai mengikuti jalan setapak itu.
Langkah demi langkah, ia menatap sekeliling—padang bunga terus berlanjut. Kupu-kupu seolah ikut mengiringi. Angin mengusap rambutnya dengan lembut, seperti menenangkan.
Dan tanpa ia sadari… ketegangannya turun sedikit.
Hina (dalam hati):
Entah mengapa…
aku justru tidak ingin pergi dari sini.
Kenapa… rasanya tenang…?
Tapi ketenangan itu justru membuat Hina takut.
Karena ia belum menemukan Ravien.
Dan ia belum tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhnya sendiri.
Setelah berjalan cukup lama, ia melihat sesuatu di kejauhan.
Sebuah pohon besar.
Akar-akar kuat, daun rimbun, berdiri seperti pusat dari dunia kecil ini.
Di bawah pohon itu ada sebuah meja dan dua kursi.
Rapi, seolah seseorang memang sudah menyiapkannya untuk sebuah pertemuan.
Hina berhenti tepat di depan meja itu.
Hina:
"…Kenapa… ada meja di sini…?"
"Untuk siapa…?"
Ia menoleh ke kanan-kiri—tidak ada siapa pun.
Hina:
"Halo, apakah ada orang?"
Namun sebelum ia sempat berbalik lagi—
sebuah suara terdengar dari belakangnya.
Suara seorang gadis. Tenang. Asing—tapi anehnya, membuat bulu kuduk Hina berdiri.
Gadis asing:
"Apa kamu… Hina?"
Hina membeku.
Ia menoleh perlahan, jantungnya menghantam dada.
Mata Hina melebar.
Hina:
"…Kamu—"
