"Kau tahu…" suaranya serak. "Aku pernah bersumpah tidak akan menyentuh ini lagi." Ia menunjuk senjata-senjata itu, matanya dipenuhi konflik.
Isabel melangkah mendekat, tatapannya tajam namun penuh empati. "Jadi benar… kau pernah menjadi teroris. Tapi kali ini… berbeda. Bukan untuk menghancurkan. Untuk menyelamatkan."
Raphael mengatupkan rahang, lalu perlahan meraih pistol itu. Dingin logam di telapak tangannya membawa kembali ribuan kenangan. Namun kali ini, ada sesuatu yang lain memenuhi dirinya, tekad.
"Aku akan menyelamatkan mereka," bisiknya.
Isabel mengangguk. Pria di hadapannya bukan lagi bayangan masa lalunya, melainkan seseorang yang siap bertarung demi orang-orang yang ia sayangi.
Angin malam berembus di sekitar mereka, membawa sunyi dari keputusan yang telah mereka ambil. Mereka meninggalkan vila itu, langkah mereka kini lebih mantap, digerakkan oleh tekad yang tak lagi goyah.
Isabel menarik napas dalam. Udara dingin menusuk paru-parunya. Raphael berdiri kaku di sampingnya, matanya terpaku pada kotak hitam itu, seolah itu adalah gerbang menuju luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
Ia tahu ia tak akan pernah sepenuhnya memahami beban yang dipikul Raphael, namun ia bisa merasakannya. Perang di dalam dirinya, antara siapa dirinya dulu dan siapa yang ingin ia jadi. Raphael menggenggam pisau tempur itu erat, peninggalan kegelapan yang kini siap menandai pertempuran baru.
"Kaivan… karena buku ini, dia bisa memprediksi semuanya, bukan?" gumam Isabel, suaranya lembut namun mantap. Tatapannya jatuh pada Tome Omnicent di tangannya, mencari jawaban, atau mungkin harapan terakhir yang tersisa.
Raphael hanya mengangguk. Wajahnya menyimpan banyak pertanyaan, namun tak ada gunanya menebak. Hanya ada satu pilihan, bergerak.
Isabel menarik napas dalam dan membuka buku itu lebih lebar. Jemarinya gemetar saat membalik halaman, berbisik, "Langkah berikutnya apa?"
Tinta itu menjawab, huruf-huruf hitam terbentuk perlahan, mencengkeram hati mereka: "Waktumu hampir habis. Mereka dibawa ke Stasiun Radio Malabar. Pergilah ke sana… dan kembalikan aku kepada Kaivan."
Isabel membaca ulang kata-kata itu, memastikan ia tidak salah melihat. Raphael, mendengar nama itu, terdiam.
"Stasiun Radio Malabar…? Bukankah itu hanya reruntuhan? Kenapa mereka dibawa ke sana?"
Isabel menatapnya. Ia tahu Raphael sedang merangkai potongan masa lalunya. Tapi ini bukan saatnya ragu.
"Kau siap?" tanyanya, lembut namun tegas.
Raphael membalas tatapannya dan mengangguk. "Aku harus siap. Kali ini, untuk mereka."
Ia mengangkat pisau tempur itu, bilahnya yang mengilap memantulkan cahaya lampu yang redup. Di sana, ia masih bisa melihat darah Kaivan, janjinya. Napasnya menjadi dalam, berat namun stabil. Bukan untuk membunuh… tetapi untuk menyelamatkan.
Isabel memperhatikannya dalam diam. Ia bukan seorang prajurit, namun dunia telah memaksanya berdiri di garis depan. Dan kini, hanya ada satu jalan, bertindak.
Dengan hati-hati, ia kembali membuka Tome Omnicent. Cahaya keemasan lembut berpendar saat tinta mistis menari di atas halaman, membentuk kata-kata baru: "Masuklah secara diam-diam, dan lumpuhkan beberapa dari mereka dalam keheningan."
Di dalam mobil, Raphael mengemudi dengan stabil menuju Gunung Puntang. Lampu depan membelah kegelapan, hanya untuk kembali ditelan bayangan pepohonan yang rapat. Udara terasa berat, kesunyian menekan seperti kabut di dada. Malam ini bukan malam biasa. Ini adalah malam yang akan menentukan segalanya.
Isabel duduk di sampingnya, tangannya terkepal di atas pangkuan. Tatapannya lurus ke depan, meski pikirannya dipenuhi badai kekhawatiran dan pertanyaan yang tak terjawab. Setelah hening yang panjang, ia menarik napas gemetar dan berbicara, suaranya bergetar meski berusaha terdengar tenang.
"Jadi… kau benar-benar pernah terlibat dengan teroris?"
Raphael tetap menatap jalan, rahangnya tegang, diterangi samar oleh cahaya bulan. Ia mengangguk. "Iya. Aku pernah."
Jawaban singkat itu memecah kesunyian. Isabel menunggu, dan tanpa perlu ditanya, Raphael melanjutkan. Kata-katanya mengalir seperti luka lama yang akhirnya terbuka kembali.
"Aku masih muda, marah pada dunia. Mereka memberiku tujuan. Mereka mengajariku taktik, senjata, cara merakit bom… Dan karena aku pandai bicara, mereka menjadikanku perekrut."
Isabel menatapnya, membaca lebih dari sekadar kata-kata. Raphael menarik napas lagi, suaranya rendah dan kasar.
"Kami menyebut mereka 'santri', kata yang seharusnya suci. Tapi kami memelintirnya. Kami mencuci otak mereka tanpa mereka sadari, mengubah mereka menjadi tentara untuk perang yang bahkan tidak mereka pahami. Dan aku… aku yang merekrut proses itu."
Isabel menelan ludah. Di matanya, Raphael bukan lagi sekadar sekutu atau mantan musuh. Ia adalah seseorang yang sedang berusaha melepaskan diri dari rantai masa lalunya.
