Mereka keluar dari ruang tamu bersama. Tawa perlahan kembali di antara langkah mereka, seolah semuanya telah kembali normal. Namun jauh di dalam hati, ketiganya tahu, ada sesuatu yang berubah. Hubungan mereka bergerak pelan, sedikit demi sedikit, menuju tempat yang belum pernah mereka pijak sebelumnya.
Bengkel itu dipenuhi dengungan mesin yang lembut. Aroma logam hangat dan sedikit jejak ozon mengambang di udara. Cahaya neon memantul di atas meja kerja yang berantakan, dipenuhi kabel terkelupas, solder yang masih menyala, dan motherboard yang setengah terbongkar.
Dua sosok duduk berdampingan di tengah kekacauan yang tertata itu: Zinnia dan Kaivan.
Zinnia, gadis berambut ungu gelap, duduk anggun di kursi kerja berbahan kulit sintetis, satu kaki menyilang di atas yang lain. Jarinya bergerak lincah di atas PCB, mengikuti jalur sirkuitnya. Namun sesekali, tatapannya melirik ke arah Kaivan, diam-diam mengamatinya yang tampak lesu di kursinya, dagu bertumpu pada tangan, menatap layar monitor yang tak disentuhnya selama beberapa menit.
Zinnia meletakkan alat soldernya, lalu memiringkan kepala sedikit, rambutnya jatuh lembut menyentuh bahu. "Jadi," ucapnya pelan, suaranya halus, "kenapa kamu kelihatan capek banget, Kaivan?"
Kaivan menoleh perlahan, seolah baru sadar dia diajak bicara. Ia menunduk, mengusap tengkuknya dengan canggung. "Aku dimarahin ibu karena Thivi sama Felicia tidur di sebelahku kemarin," katanya jujur, tanpa menyaring.
Dunia seolah berhenti.
Zinnia menegang. Mata gelapnya membesar, jari-jarinya terhenti di udara. Perlahan, ia meletakkan pinsetnya di meja. Lalu dalam satu gerakan cepat, ia berbalik dan menggenggam bahu Kaivan.
"Apa?!" serunya. Napasnya menyentuh kulit Kaivan, jarak wajah mereka begitu dekat hingga hampir bersentuhan. Pipinya memerah, bukan karena malu, tapi karena terkejut bercampur rasa kesal yang samar.
Kaivan panik, kedua tangannya terangkat refleks. "T-tunggu… aku bisa jelasin!" katanya terbata, tubuhnya mundur.
Dengan wajah memerah dan suara gemetar, ia menceritakan semuanya. Dari Felicia dan Thivi yang diam-diam masuk ke kamarnya, foto yang diambil Ethan, hingga nasihat ibunya yang serius tapi tidak memarahinya dengan keras.
Zinnia diam sepanjang penjelasan itu. Ekspresinya sulit dibaca, tapi matanya tajam, seolah menganalisis setiap detail yang ia dengar.
Saat Kaivan selesai, Zinnia menutup mata. Ia menarik napas panjang, bahunya naik turun perlahan, seperti melepas sesuatu yang berat.
"Jadi… ibumu sekarang membiarkan kamu memilih siapa saja?" tanyanya tenang. Namun di balik nadanya, tersimpan sesuatu yang tak terucap, seperti ujian kecil, atau pengakuan yang belum sempat lahir.
Kaivan mengangguk pelan. "Tapi… aku belum kepikiran ke sana. Aku belum siap."
Zinnia menatapnya. Senyum tipis muncul di bibirnya, lembut, ringan, tapi penuh makna. Ia menghela napas lega. "Bagus… aku senang kamu belum jatuh cinta ke siapa pun," gumamnya pelan.
Kaivan berkedip bingung. "Maksudnya?"
Zinnia tampak ingin menjawab, tapi suara lain memotong.
"Kaivan. Sudah waktunya," ujar Isabel, muncul dari balik tumpukan alat. Rambut merah mudanya bergoyang lembut saat ia melangkah mendekat. Wajahnya tenang seperti biasa.
Kaivan dan Zinnia menoleh bersamaan. Udara sempat menegang, lalu kembali longgar dalam diam.
Zinnia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Ia berdiri, merapikan sisi roknya, lalu menatap Kaivan dengan lembut. "Kita lanjut nanti," bisiknya.
Kaivan mengangguk.
Di tengah bengkel, Kaivan berdiri di depan tas selempang hitam yang terbuka di atas meja. Tangannya bergerak cepat memasukkan peralatan: kompas digital, radio kecil, pisau lipat, dan sebotol cairan. Gerakannya efisien, matanya fokus.
"Dengar. Kita berangkat. Kalian tetap di sini. Kalau ada apa-apa, kalian aman bersama Felicia," ujar Kaivan tenang, meski ada ketegangan tipis di suaranya.
Frans yang tadi bersandar santai kini berdiri lebih tegap. "Iya, kami paham," jawabnya.
Tanpa banyak kata, Kaivan, Raphael, Ethan, dan Radit keluar dari bengkel. Pintu besi berderit saat dibuka, dan udara dingin langsung menyapu wajah mereka.
Mereka berjalan menuju halte, langkah mantap meski pikiran masing-masing melayang. Kaivan di depan dengan wajah serius. Raphael di kanan, waspada. Ethan di kiri, memainkan vape di tangannya. Radit di belakang, terlihat santai namun tetap memperhatikan sekitar.
Transportasi umum yang mereka naiki cukup ramai, bergoyang pelan setiap berbelok. Kaivan berdiri memegang pegangan atas, tubuh tegap namun wajahnya berat. Raphael bersandar di tiang dekat pintu. Ethan menatap ponselnya. Radit diam mengamati penumpang lain.
Beberapa pemberhentian kemudian, mereka turun, mengikuti tarikan halus dari Tome Omnicent yang dibawa Kaivan. Suara kota menyambut mereka, klakson, pedagang, langkah kaki tergesa, semua bercampur menjadi irama yang akrab namun gelisah.
Radit akhirnya membuka suara. "Jadi… orang yang kita cari ini… cowok atau cewek, Van?"
Kaivan membuka Tome tanpa menghentikan langkah. Halamannya semula kosong, lalu perlahan sebuah gambar mulai terbentuk. Ia mengusap permukaannya pelan. "Oh… jadi ini wajahnya."
Raphael mendekat. "Seperti apa? Aku nggak bisa lihat."
