Cherreads

Chapter 5 - To Observe

Lorong itu tidak panjang.

Hanya dibuat terasa demikian.

Langkah Gunther bergema pelan di antara dinding batu yang lebih halus dari barak bawah. Tidak ada noda darah di sini. Tidak ada bau lembap yang membusuk. Udara bersih—terlalu bersih—seolah kekerasan yang terjadi di atas dan di bawah tanah tidak pernah menyentuh tempat ini.

Di ujung lorong, pintu logam terbuka tanpa suara.

Ruangan di baliknya tidak luas.

Meja panjang.

Tiga kursi.

Satu kristal perekam melayang rendah di atas permukaan meja.

Perwira tua sudah duduk.

Di sampingnya, instruktur berdiri tegak, tongkat hitamnya tidak lagi berpendar.

"Masuk," kata perwira tua.

Gunther melangkah ke tengah ruangan.

Pintu menutup di belakangnya.

Tidak dikunci.

Tidak perlu.

Perwira tua itu memandangi Gunther tanpa tergesa.

"Subjek stabil," katanya akhirnya, lebih kepada kristal daripada kepada Gunther.

Kristal berpendar lembut.

"Inkonsistensi respons tercatat, namun adaptif."

Instruktur tidak berbicara.

Gunther berdiri diam.

Denyut di dadanya ada.

Tenang.

Menunggu.

"Kau akan ditugaskan," lanjut perwira tua itu.

Ia tidak membuka papan logam.

Tidak membaca apa pun.

"Kota garis depan bagian timur kehilangan satu unit pengawal internal semalam."

Ia berhenti.

"Bukan karena musuh."

Keheningan menggantung.

"Karena kegagalan disiplin."

Gunther tidak bertanya.

Ia tahu lebih baik.

"Kau akan menggantikan satu dari mereka."

Instruktur akhirnya bergerak sedikit.

"Itu bukan garis depan," katanya datar. "Itu lebih buruk."

Perwira tua meliriknya, lalu kembali ke Gunther.

"Kau tidak akan diberi simbol," katanya. "Tidak akan diberi pangkat."

"Tugasmu sederhana."

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

"Perhatikan."

Satu kata.

Denyut di dada Gunther merespons pelan.

"Jika terjadi sesuatu," lanjut perwira itu, "kau bergerak."

"Tidak sebelum."

"Tidak sesudah."

Tempo.

Kata itu tidak diucapkan.

Tapi hadir.

"Kau berangkat sore ini."

Tidak ada waktu persiapan.

Tidak ada penjelasan tambahan.

Pintu terbuka kembali.

Gunther tidak langsung bergerak.

"Kenapa aku?" tanyanya.

Suara itu keluar lebih pelan dari yang ia maksudkan.

Perwira tua itu menatapnya lama.

"Karena kau tidak mencari giliranmu," jawabnya.

Ia berdiri.

"Dan karena kau belum mengerti mengapa kau masih hidup."

Instruktur memberi isyarat.

Gunther berbalik dan melangkah keluar ruangan.

Lorong terasa lebih sempit dari sebelumnya.

Bukan karena dindingnya berubah.

Karena ruang untuk kembali telah hilang.

Di kejauhan, suara meriam masih terdengar.

Tapi untuk pertama kalinya,

ia tidak berjalan ke arahnya.

Ia berjalan ke sesuatu yang tidak terdengar sama sekali.

 

Sore datang dengan langit berwarna abu tipis.

Kota garis depan bagian timur bernama Duagosalam.

Duagosalam tidak memiliki tembok setinggi Galmasca.

Ia memiliki dua lapis pertahanan—batu dan kebiasaan.

Gunther berdiri di atas gerobak pengangkut bersama tiga prajurit lain yang tidak memakai lambang apa pun. Seragam mereka seragam dalam ketidakjelasan: abu-abu gelap, tanpa simbol, tanpa identitas.

Gerbang Duagosalam terbuka perlahan.

Tidak ada sorakan.

Tidak ada sambutan.

Orang-orang di dalam tetap berjalan seperti biasa. Pedagang menutup lapak lebih cepat saat melihat rombongan militer lewat. Anak-anak ditarik menjauh tanpa penjelasan.

Disiplin.

Atau takut.

Sulit dibedakan.

Bangunan-bangunan di sisi jalan rendah, padat, dibangun rapat seolah mencoba saling menopang. Di kejauhan, menara sinyal berdiri, kristalnya redup, siap menyala jika serangan datang.

"Unit pengawal internal ditempatkan di pusat distribusi," kata salah satu prajurit di samping Gunther tanpa menoleh. Suaranya datar. "Dua hari lalu, salah satu dari mereka membunuh atasan langsungnya."

Ia berhenti.

"Lalu dirinya sendiri."

Gunther tidak bereaksi.

Denyut di dadanya bergerak pelan.

Bukan karena takut.

Karena pola yang tidak cocok.

Mereka turun di depan bangunan batu besar tanpa jendela di lantai bawah.

Pusat distribusi Duagosalam.

Di dalam, udara lebih panas. Karung gandum tersusun tinggi, peti logam berjejer di sisi dinding. Di tengah ruangan, garis kapur masih terlihat samar di lantai.

Bekas tubuh.

Seorang perwira lokal menunggu mereka.

Ia lebih gemuk dari kebanyakan perwira garis depan, wajahnya berkeringat meski ruangan tidak terlalu panas. Lambang Galmasca terpasang rapi di dadanya.

"Kalian pengganti?" tanyanya.

Tidak ada yang menjawab.

Ia menghela napas pendek.

"Bagus. Aku tidak peduli siapa kalian."

Matanya berhenti sepersekian detik pada Gunther.

Lebih lama dari yang lain.

"Kalian berjaga di dalam. Tidak di luar. Distribusi tidak boleh terhenti."

Ia menatap ke arah garis kapur.

"Kami menyimpulkan ini insiden pribadi."

Gunther memperhatikan ruangan.

Rak-rak kayu.

Peti logam.

Bayangan di sudut yang terlalu gelap untuk sore hari.

Denyut di dadanya berubah sedikit.

Tipis.

Hampir seperti penolakan.

"Insiden pribadi jarang meninggalkan ruangan sekotor ini," kata salah satu prajurit lain pelan.

Perwira lokal itu menatap tajam.

"Kau di sini untuk berjaga, bukan berpikir."

Ia berbalik dan pergi.

Pintu tertutup.

Keheningan jatuh.

Gunther melangkah perlahan melintasi lantai, berhenti tepat di atas garis kapur.

Ia tidak menunduk.

Ia merasakan.

Udara.

Getaran lantai.

Ritme napas orang-orang di ruangan.

Denyut di dadanya tidak melonjak.

Ia menegang.

Menunggu.

Jika ini memang insiden pribadi,

maka tempo ruangan ini seharusnya sudah kembali normal.

Tapi sesuatu masih tertinggal.

Dan Gunther tahu satu hal dengan pasti.

Ia tidak dikirim ke Duagosalam untuk menggantikan orang mati.

Ia dikirim untuk melihat apa yang tidak ingin dilihat orang lain.

 

Malam pertama di Duagosalam tidak sunyi.

Ia ditahan.

Seperti napas yang sengaja tidak dilepaskan.

Pusat distribusi tetap beroperasi meski matahari sudah turun. Pekerja sipil masuk dan keluar dengan kepala tertunduk, membawa catatan, karung kecil, kotak kayu. Tidak ada yang berbicara lebih keras dari perlu.

Gunther berdiri di sisi dalam pintu.

Tidak di tengah.

Tidak di sudut.

Ia memilih tempat di mana ia bisa melihat lorong masuk dan garis kapur sekaligus.

Denyut di dadanya tenang.

Terlalu tenang.

Seorang pekerja perempuan lewat dengan langkah terburu. Usianya mungkin tiga puluh, wajahnya kurus, tangan kasarnya memegang papan kayu penuh daftar angka.

Ia berhenti sepersekian detik saat melihat garis kapur.

Lalu melanjutkan langkah.

Tempo kecil yang salah.

Gunther memperhatikannya sampai ia menghilang di balik rak.

"Namanya Serah," kata salah satu prajurit abu-abu pelan.

Gunther tidak menoleh.

"Sudah sepuluh tahun di sini. Tidak pernah salah hitung."

Ia berhenti sejenak.

"Semalam, dia yang menemukan mayatnya."

Denyut di dada Gunther bergerak tipis.

Bukan lonjakan.

Tarikan.

Pintu belakang pusat distribusi berderit pelan.

Angin malam masuk membawa udara lebih dingin.

Gunther merasakan perubahan itu sebelum mendengarnya.

Satu langkah tambahan.

Bukan dari pekerja.

Bukan dari prajurit yang ia kenali.

Ia tidak langsung bergerak.

Tempo.

Langkah itu berhenti.

Lalu lanjut.

Terlalu hati-hati.

Gunther melangkah satu kali ke kiri, cukup untuk memotong jalur antara rak dan pintu belakang.

Seorang pria muncul dari bayangan.

Seragam internal Galmasca.

Tanpa helm.

Wajahnya pucat.

"Kalian pengganti?" tanyanya.

Suaranya datar.

Terlalu datar.

"Unit pengawal tambahan," jawab prajurit di samping Gunther.

Pria itu mengangguk.

Matanya tidak pernah benar-benar berhenti bergerak.

Ia melihat garis kapur.

Lalu Gunther.

Denyut di dada Gunther berubah.

Bukan karena ancaman langsung.

Karena ritme pria itu tidak sinkron dengan ruangan.

"Siapa namamu?" tanya Gunther.

Pertanyaan itu keluar sebelum ia mempertimbangkannya.

Pria itu berhenti.

Hanya sesaat.

"Letnan Arveth," jawabnya.

Tempo lagi.

Jawaban yang terlalu cepat untuk seseorang yang tidak ditanya sebelumnya.

Arveth berjalan melewati mereka.

Langkahnya teratur.

Terlalu teratur.

Gunther tidak menoleh.

Ia mendengarkan.

Napas.

Gesekan kain.

Detak kayu saat rak disentuh.

Denyut di dadanya mulai menegang.

Tidak liar.

Terfokus.

Jika insiden ini memang pribadi,

maka Duagosalam menyimpannya dengan rapi.

Terlalu rapi.

Gunther menunggu.

Ia tidak mencari kesalahan.

Ia menunggu tempo ruangan ini tersandung sendiri.

 

Menjelang tengah malam, distribusi dihentikan.

Bukan karena perintah.

Karena semua yang perlu dipindahkan sudah dipindahkan.

Karung terakhir ditumpuk. Peti terakhir dicatat. Pekerja sipil meninggalkan ruangan satu per satu, langkah mereka lebih cepat dari saat datang.

Serah adalah yang terakhir.

Ia berhenti di ambang pintu, menoleh sekilas ke arah garis kapur.

Tatapannya kosong.

Terlalu kosong.

Lalu ia pergi.

Pintu ditutup.

Hanya tersisa empat prajurit abu-abu dan Letnan Arveth.

Lampu kristal diredupkan setingkat.

Cukup untuk melihat.

Tidak cukup untuk nyaman.

Gunther berpindah posisi.

Ia tidak melakukannya tiba-tiba.

Satu langkah.

Lalu berhenti.

Tempo ruangan berubah saat jumlah napas berkurang.

Lebih jelas.

Lebih jujur.

Arveth berdiri di dekat rak bagian timur.

Tangannya berada di belakang punggung.

Terlalu diam.

Denyut di dada Gunther menegang.

Bukan lonjakan.

Seperti benang yang ditarik perlahan.

Lantai kayu di balik rak berderit.

Sangat pelan.

Tidak cukup keras untuk disebut kesalahan.

Cukup untuk disebut keberadaan.

Arveth tidak bereaksi.

Itu yang salah.

Jika ia tidak tahu, ia seharusnya menoleh.

Jika ia tahu, ia seharusnya bergerak.

Ia tidak melakukan keduanya.

Gunther melangkah.

Tidak cepat.

Tidak lambat.

Ia berhenti di antara Arveth dan rak.

"Di sana," katanya pelan.

Bukan tuduhan.

Fakta.

Arveth menatapnya.

Satu detik.

Dua.

Lalu tersenyum tipis.

Senyum yang tidak sampai ke mata.

"Kau mendengar tikus," katanya.

Denyut di dada Gunther berubah.

Tajam.

Bukan karena kata-kata.

Karena nada.

Rak bagian timur bergeser.

Bukan runtuh.

Bergeser.

Celah sempit terbuka di belakangnya.

Dua bayangan keluar tanpa suara.

Bukan pekerja.

Bukan prajurit resmi.

Pakaian mereka gelap, tanpa lambang. Gerakan mereka terkoordinasi, bukan seperti penyusup yang panik.

Salah satu dari mereka melemparkan sesuatu ke lantai.

Kristal kecil.

Ia pecah.

Cahaya biru meledak tanpa suara.

Bukan ledakan fisik.

Ledakan ritme.

Napas terasa berat.

Langkah menjadi lambat sepersekian detik.

Denyut di dada Gunther menjerit.

Sakit.

Tapi jelas.

Ia bergerak.

Tidak mengikuti perlambatan.

Tidak melawan sepenuhnya.

Ia menyesuaikan.

Bilahnya terangkat.

Bayangan pertama sudah ada di depannya.

Serangan mereka tidak liar.

Terlalu terlatih untuk disebut pemberontak jalanan.

Gunther menangkis, mundur setengah langkah, lalu memotong ke samping.

Bukan untuk membunuh.

Untuk memisahkan.

Prajurit abu-abu di belakangnya sudah jatuh berlutut, terpengaruh cahaya biru.

Arveth tidak.

Ia berdiri.

Menonton.

Denyut di dada Gunther berubah lagi.

Kini bukan hanya peringatan.

Kemarahan tipis.

Bayangan kedua bergerak menuju pintu belakang.

Gunther melihatnya.

Tempo.

Jika ia mengejar sekarang, ia meninggalkan celah.

Jika ia bertahan, penyusup lolos.

Detik itu memanjang.

Ia memilih.

Ia melemparkan bilah pendeknya.

Bukan ke tubuh.

Ke lantai.

Tepat di depan kaki bayangan kedua.

Logam menghantam batu.

Ritme ruangan tersentak.

Cukup.

Prajurit abu-abu yang tersisa memaksa diri bangkit dan menerjang.

Bayangan pertama mundur.

Bayangan kedua menghilang melalui celah sempit di belakang rak.

Rak kembali ke tempatnya.

Seolah tidak pernah bergerak.

Cahaya biru memudar.

Keheningan kembali.

Arveth merapikan seragamnya.

"Penyusup," katanya pelan.

Seolah kata itu cukup.

Gunther menatap rak timur.

Denyut di dadanya tidak mereda.

Itu bukan serangan acak.

Itu pengujian.

Dan seseorang di Duagosalam baru saja memastikan bahwa pengganti dari Galmasca memang berbeda.

 

More Chapters