Cherreads

Chapter 10 - Langit Ramadhan

Semua orang meremehkan ibu ini… sampai kebenaran tentang masa lalunya terungkap. Selama 5 Tahun Ia Menyembunyikan Kebenaran… Tapi Ramadan Datang Membuka Segalanya.

------

Malamnya Alya merasa tu buhnya panas. Kepalanya berdenyut, tenggorokannya kering. Tapi ia tetap memaksa bangun untuk shalat Isya dan Tarawih di ru mah.

"Bun, kenapa?" tanya Raka khawatir.

"Gapapa," jawab Alya cepat. "Cuma capek."

Naya menatap ibunya lama.

"Bunda bohong," katanya polos. "Bunda pucat."

Alya tersenyum tipis. "An ak kecil gak boleh suudzon."

Namun saat berdiri, pandangannya berkunang. Kakinya goyah.

"Bun!" Raka refleks memegang lengannya.

"Astagfirullah…" Alya terduduk di lantai.

Tu buhnya menggigil, keringat dingin membasahi kening.

"Bunda jangan sa kit…" suara Naya mulai bergetar.

"Ambilin air… ya," ucap Alya lemah.

Raka berlari ke dapur. Tangannya gemetar saat menuang air.

"Bunda, minum."

Alya meminumnya sedikit, lalu memejamkan mata.

"Bunda istirahat aja besok," kata Raka pelan.

"Jangan kerja."

Alya membuka mata.

"Kalau Bunda gak kerja… kita makan apa?"

Raka terdiam.

Naya meme luk ibunya erat.

"Naya gak apa-apa gak jajan."

Kalimat itu menghan tam hati Alya lebih keras dari sak it di tu buhnya.

Ia mengusap punggung an aknya.

"Bunda minta maaf…"

Malam makin larut. Demam Alya naik. Raka mengompres dahi ibunya dengan kain basah—tangan kecil yang belajar dewasa terlalu cepat.

"Raka pernah lihat Bunda nangis," katanya lirih.

"Tapi gak pernah lihat Bunda nyerah."

Alya tersenyum samar.

"Bunda boleh capek… tapi gak boleh berhenti jadi ibu."

Naya menguap, matanya berat.

"Tidur di sini ya," kata Alya. "Dekat Bunda."

Mereka bertiga berbaring di satu ka sur sempit. Raka di sisi kanan, Naya di kiri. Alya di tengah—diapit dua alasan hidupnya.

Di sela kesadarannya, Alya berdoa.

"Ya Allah…

kalau hari ini tu buhku lemah,

jangan Kau biarkan imanku ikut lemah.

Jaga an ak-an akku…

kalau aku harus sa kit,

jangan biarkan mereka merasa sendirian."

Air matanya jatuh tanpa suara.

Di luar, angin malam Ramadan berembus pelan.

Dan di dalam ru mah kecil itu,

seorang ibu akhirnya tumbang

bukan karena menyerah,

melainkan karena terlalu lama bertahan sendirian.

Saat sahur tiba, Alya tetap bangun dan memasak untuk mereka bertiga sahur dengan lauk yang sederhana,

"Nak ayo bangun, kita sahur dulu yuk." Ucap Alya membangunkan kedua an aknya.

"Iya Bun, Bunda gimana udah sehat kah? Kalau Bunda sa kit nanti jangan kerja ya biar Raka aja hari ini yang mulung, ini juga hari minggu Raka kan ga sekolah" kata si sulung Raka yang masih kelas 6 SD tapi dipaksa dewasa oleh keadaan.

"Iya Bun, nanti Naya juga bantuin kakak mulung sambil jalan - jalan biar ga kerasa kalau puasa Bun." Kata Si bungsu juga mau ikutan kakaknya.

"Trimakasih ya nak,tapi kalian diru mah aja ya biar bunda yang kerja cari ua ng, tugas kalian kan cuman belajar nak, sekolah yang pinter biar besarnya bisa jadi orang sukses bisa membantu sesama yang lagi kesusahan ya nak." Ucap Alya sambil meme luk an aknya dan tak terasa air mata membasahi pipinya, terharu melihat an ak-an ak tumbuh dengan rasa empati yang luar biasa.

Setelah sholat shubuh Alya kembali tidur sebentar karna merasa ba dannya tidak sehat, Alya terbangun dengan kepala berat. Langit-langit rum ah kontrakan kecilnya terlihat buram.

"Naya…" suaranya serak.

"Bunda bangun?" Naya langsung mendekat, wajah kecilnya cemas. "Bunda jangan bangun dulu…"

Raka berdiri di dekat pintu, memegang gelas air.

"Bu, minum dulu… tadi bunda pingsan. Aku sama Naya takut banget."

Alya mencoba duduk, tapi tu buhnya limbung.

"bunda cuma capek… nanti juga sembuh."

"bunda panas," Naya menyent uh keningnya. "Tadi aku kompres pakai air… kayak bunda kalau aku demam."

Alya terdiam. Matanya memanas.

"Maaf ya… Ibu malah bikin kalian repot."

Raka menggeleng cepat.

"Jangan bilang gitu, Bun. Raka udah besar. Raka bisa jaga Naya."

Dari luar terdengar suara ibu-ibu lewat.

"Itu loh, si Alya. Katanya tadi pingsan di jalan,dibantu sama warga."

"Ya gimana gak pingsan, puasa tapi kerja berat. Sok kuat sih…"

Raka mengepalkan tangan.

"Bunda gak sok kuat!" bisiknya ma rah.

Alya menarik tangan an aknya pelan.

"Sudah… gak apa-apa."

"Tapi mereka ja hat, Bun…"

Alya tersenyum lemah.

"Kalau orang ngomongin kita, berarti kita masih diperhatiin. Yang penting Allah tahu niat kita."

Air mata Naya jatuh.

"Bun… nanti buka puasa gimana?"

Pertanyaan itu seperti mena mpar kenyataan.

Di dapur cuma ada segenggam beras dan sedikit garam.

Raka menelan ludah.

"Bun… hasil mulung tadi siang belum dijual…"

Alya memejamkan mata. Tu buhnya sa kit, tapi waktu tak pernah berhenti.

Adzan Magrib tinggal beberapa jam lagi.

Dan ia belum punya apa-apa untuk an ak-a naknya berbuka.

"Ibu istirahat aja," Raka berkata pelan. "Biar Raka yang keluar…"

Alya langsung membuka mata.

"Tidak."

Suaranya lemah, tapi tegas.

"Kalian tetap di ru mah."

"Bun… Raka sudah kelas enam,sudah besar bun. Raka bisa bun."

Alya memandang an ak laki-lakinya lama.

A nak kecil yang terlalu cepat dewasa.

"Bunda mau jual hasil mulung dulu ya kak, kalian dirum ah aja ya, doain dapat rejeki bisa buka puasa enak hari ini ya nak ."

Ia mencoba bangkit lagi dan bersiap-siap untuk menjual hasil mulungnya hari ini.

Langit sore mulai berubah jingga.

Tok... Tok...

Suara pintu terdengar ada yang mengetuk

Raka membuka pintu.

"Raka ini budhe tadi bikin ayam goreng sama sayur asem ada kolak pisang ubi juga Raka, buat buka puasa sama budhe lebihkan ayamnya bisa buat makan sahur juga Raka, tadi kebetulan pakdhe dapat rejeki lebih." Ucap Bu RT tetangganya yg baik hati.

"Wah makasi ya budhe, semoga rejekinya lancar ya budhe, mari masuk dulu budhe ini rantangnya Raka pindahin dulu kedalam budhe."

Raka sambil berjalan kedalam

Alya keluar menuju ruang tamu, mau liat siapa yang datang

"Eh Bu Tika, ada apa bu?" Tanya Alya yang tidak tau kalau Bu RT ngasih makanan

"Lah kamu mau kemana Al, kan kamu sa kit?"

Bukannya menjawab Bu RT malah balik bertanya karna lihat Alya bawa tas.

"Anu Bu mau ngejual botol-botol tadi belum sempat dijual, buat buka sama sahur besok Bu hehe."

"Eh gaush dijual dulu Al, tadi aku kesini ngasih kamu lauk sama sayur buat buka sama sahur ada nasinya juga, kebetulan tadi pakdhe dapat rejeki lebih jadi dibagi buat kalian juga daripada ga kemakan nanti mubazir Al."

"Walah Bu, ngerepotin aja, trimakasih banyak ya bu."

"Yaudh Al, kalau begitu budhe pamit dulu ya."

"Njeh bu hati-hati trimakasih sekali lagi Bu."

Setelah Bu RT pulang Alya keruang tengah melihat an aknya.

"Alhamdulillah ya nak kita hari ini dapat rejeki."

"Iya Bun, Naya jadi bisa buka puasa sama ayam goreng deh."

"Alhamdulillah Bunda jadi gak usah keluar dulu, istirahat dulu aja Bun, ini makanannya juga cukup buat kita makan sahur juga kok Bun." Ucap si sulung Raka yang pengertian.

" Allhamdulilah udah adzan nak, ayo kita minum dulu setelah itu kita sholat, baru deh kita makan nasi ayam ini." Ucap Alya sambil tersenyum.

More Chapters