RSPAD GATOT SOEBROTO — LANGKAH PERTAMA SETELAH MAUT
Pagi itu…
langit Jakarta terlihat muram.
Awan kelabu menggantung rendah di atas kawasan RSPAD Gatot Soebroto seolah belum rela melepaskan ketegangan yang selama beberapa hari terakhir menyelimuti rumah sakit militer itu.
Udara terasa dingin.
Terlalu dingin untuk ukuran Jakarta.
Namun justru di pagi yang dingin itulah—
seorang pria akhirnya kembali berdiri setelah hampir kehilangan hidupnya.
Lorong VIP lantai khusus tampak jauh lebih sibuk dibanding biasanya. Beberapa dokter berjalan cepat membawa dokumen medis. Perawat-perawat terlihat mondar-mandir dengan ekspresi serius. Di titik-titik tertentu, pria-pria berpakaian sipil berdiri diam sambil memperhatikan seluruh area dengan tatapan tajam.
Dan semakin lama…
semakin jelas bahwa pengamanan di sana bukan pengamanan biasa.
Di dalam ruang rawat, Doni duduk perlahan di tepi ranjang sambil mencoba mengenakan jam tangannya sendiri.
Tangannya masih sedikit gemetar.
Napasnya juga belum benar-benar stabil.
Namun tatapan matanya…
tetap sama.
Tenang.
Dalam.
Dan menyimpan terlalu banyak hal yang tidak diketahui dunia.
Sri berdiri di depannya sambil membantu merapikan kerah jaket hitam Doni dengan tangan pelan.
Hati-hati.
Sangat hati-hati.
Seolah pria di depannya bisa kembali runtuh kapan saja.
Wanita itu diam cukup lama.
Sampai akhirnya air matanya jatuh lagi tanpa suara.
“Mas…”
suara Sri lirih.
Doni menoleh perlahan.
“Aku capek takut…”
Kalimat itu langsung membuat ruangan terasa sesak.
Sri menggenggam tangan Doni erat.
“Semua orang boleh lihat kamu kuat…”
Tangisnya mulai pecah.
“…tapi aku lihat kamu hampir mati malam itu…”
Dan seketika—
Doni tidak mampu menjawab.
Karena untuk pertama kalinya…
ia sadar.
Yang paling terluka bukan negara.
Bukan proyek.
Bukan para pejabat.
Namun keluarganya sendiri.
Pria itu perlahan memeluk Sri.
Diam.
Tidak banyak bicara.
Karena kadang…
permintaan maaf terbesar memang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
JULIO — ANAK KECIL YANG TAKUT PAPANYA TIDAK PULANG
“Papaaaa!”
Suara kecil itu memecah suasana.
Julio muncul setengah berlari dari lorong sambil membawa tas sekolah yang bahkan belum dipakai sempurna. Rambutnya berantakan. Nafasnya ngos-ngosan karena tadi memaksa turun dari kendaraan sebelum mobil benar-benar berhenti.
Namun begitu melihat Doni berdiri—
anak itu langsung diam.
Matanya memandang ayahnya lama sekali.
Dan perlahan…
wajah cerianya runtuh.
“Papa…”
Suara Julio mengecil.
“Kamu jangan sakit lagi ya…”
Kalimat sederhana itu langsung membuat Sri kembali menunduk menahan tangis.
Doni tersenyum kecil sambil membuka tangan.
Julio langsung memeluk ayahnya erat.
Hati-hati.
Sangat hati-hati.
Seolah takut tubuh Doni akan hilang jika dipeluk terlalu keras.
“Aku takut…”
bisik Julio pelan.
“Aku kira Papa nggak bangun lagi…”
Dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari ICU—
mata Doni mulai memerah.
Karena tidak ada ancaman dunia mana pun…
yang lebih menyakitkan dibanding ketakutan anak kecilnya sendiri.
Doni lalu mengusap kepala Julio perlahan.
“Papa masih di sini…”
Julio menggeleng kecil.
“Tapi Papa jangan kerja terus…”
Sri sampai tertawa kecil di tengah tangisnya.
“Denger tuh…”
Namun Julio belum selesai.
“Kalau Papa bandel…”
Ia menunjuk Doni kecil-kecil.
“…Julio ikut ngantor tiap hari.”
Doni tertawa pelan.
“Lho malah repot nanti.”
“Biarin.”
Julio memeluk pinggang Doni lagi.
“Pokoknya Julio jagain Papa.”
Dan kalimat itu—
entah kenapa membuat seluruh ruangan kembali diam.
Karena semua orang sadar…
anak kecil itu benar-benar serius.
GERBANG RSPAD — SAAT KONVOI NEGARA MULAI BERGERAK
Ketika Doni akhirnya keluar menuju lobby VIP RSPAD…
suasana langsung berubah total.
Puluhan kamera media bergerak bersamaan.
Wartawan mulai berteriak saling berebut posisi.
Namun beberapa detik kemudian—
seluruh area mendadak hening.
Karena dari sisi gerbang rumah sakit…
dua unit kendaraan MAUNG Tangguh berwarna hitam doff mulai masuk perlahan.
Suara mesin dieselnya terdengar berat.
Dalam.
Menciptakan tekanan yang langsung membuat suasana berubah mencekam.
Beberapa personel khusus bersenjata lengkap duduk di sisi kendaraan dengan tatapan dingin mengawasi sekitar.
Dan ketika logo satuan elite terlihat samar di sisi kendaraan—
beberapa wartawan langsung menelan ludah.
“Kostrad…”
gumam seseorang pelan.
Kamera langsung berputar liar memburu kendaraan tersebut.
Karena seluruh media tahu—
kendaraan MAUNG Tangguh bukan kendaraan sembarangan.
Itu kendaraan operasional khusus.
Dan fakta bahwa kendaraan itu turun langsung mengawal Doni…
langsung membuat spekulasi semakin gila.
Namun yang lebih mengejutkan—
beberapa personel pengawal justru memberi hormat kecil ketika Doni berjalan mendekat.
Tidak formal berlebihan.
Namun cukup menunjukkan penghormatan.
Dan itu membuat wartawan semakin bingung.
“Siapa sebenarnya dia…”
bisik seorang reporter pelan.
MAUNG TANGGUH — RAHASIA YANG BAHKAN TIDAK DIKETAHUI MEDIA
Di dalam B 234 GWM, Julio terus melihat kendaraan MAUNG yang berjalan di depan konvoi dengan mata berbinar.
“Papa…”
Ia menunjuk ke depan.
“Itu mobil tentara keren banget…”
Doni tersenyum kecil sambil melihat kendaraan tersebut melalui kaca.
“Iya.”
Julio langsung mendekat penasaran.
“Papa pernah naik?”
Sri yang duduk di sebelah langsung diam.
Karena ia tahu rahasia itu.
Dan beberapa detik kemudian—
Doni menjawab pelan.
“Papa ikut bikin.”
Julio langsung membelalakkan mata.
“Hah?!”
Doni tertawa kecil melihat ekspresi anak bungsunya.
Namun Sri justru memalingkan wajah pelan ke arah jendela.
Karena ingatannya kembali ke beberapa tahun lalu.
Saat proyek kendaraan tactical nasional sempat mengalami kebuntuan besar.
Ketika durability gagal.
Sistem stabilitas medan berat bermasalah.
Dan integrasi tactical support digital tidak berjalan sempurna.
Lalu seseorang datang diam-diam.
Tanpa jabatan.
Tanpa publikasi.
Tanpa kontrak resmi.
Hanya membawa blueprint.
Membawa sistem.
Membawa solusi.
Dan orang itu adalah Doni.
MAUNG Tangguh…
diam-diam menyimpan jejak tangannya.
Mulai dari desain struktur ketahanan.
Distribusi beban medan ekstrem.
Sistem monitoring kendaraan.
Hingga tactical integrated support.
Namun seperti biasa—
namanya tidak pernah muncul.
Karena Doni hanya berkata satu kalimat waktu itu.
“Kalau kendaraan ini bisa bikin anak-anak di lapangan pulang hidup-hidup…itu sudah cukup.”
Sri memejamkan mata pelan.
Dadanya terasa sesak.
Karena semakin lama…
ia semakin sadar…
suaminya sudah memberikan terlalu banyak untuk negeri ini.
Terlalu banyak.
Sampai hampir kehilangan dirinya sendiri.
GEDUNG PELNI — KEMBALINYA DONI MEMBUAT SATU GEDUNG HIDUP LAGI
Ketika konvoi akhirnya masuk area Gedung PELNI Kemayoran…
suasana langsung berubah ramai.
Security berdiri tegak otomatis.
Beberapa tenant keluar dari ruangan mereka hanya untuk melihat iring-iringan kendaraan yang masuk.
Dan ketika MAUNG Tangguh ikut masuk area basement VIP—
seluruh gedung langsung heboh.
“Buset…”
gumam salah satu teknisi gedung.
“Itu MAUNG Kostrad asli…”
Namun suasana benar-benar berubah ketika B 234 GWM berhenti perlahan.
Pintu terbuka.
Dan Doni akhirnya turun.
Beberapa detik—
seluruh lobby seperti membeku.
Karena untuk pertama kalinya sejak berita serangan jantung itu menyebar…
mereka melihat pria itu kembali berdiri.
“Pak Doni…”
suara salah satu cleaning service langsung pecah.
Wanita paruh baya itu sampai menangis kecil.
“Kami kira Bapak nggak balik lagi…”
Dan kalimat itu—
langsung menghantam suasana lobby.
Beberapa karyawan ikut menunduk diam-diam mengusap mata.
Security-security gedung terlihat menahan emosi mereka sendiri.
Karena selama ini—
Doni terlalu dekat dengan semua orang.
Terlalu baik.
Terlalu manusiawi.
Pria itu bukan tipe bos yang menjaga jarak.
Ia hafal nama teknisi.
Ia sering makan bareng security.
Ia bahkan sering membantu orang diam-diam tanpa banyak bicara.
Dan hari itu—
semua orang sadar—
mereka hampir kehilangan sosok tersebut.
Julio yang berdiri di samping Doni perlahan menggenggam tangan ayahnya erat.
Lalu untuk pertama kalinya…
anak kecil itu mulai memahami sesuatu.
Papanya…
ternyata jauh lebih berarti bagi banyak orang dibanding yang selama ini ia pikirkan.
LAST LINE
Kadang…
seorang pria tidak pernah sadar seberapa besar dirinya dicintai—
sampai satu hari…
ia hampir benar-benar pergi.
