Cherreads

Chapter 47 - Chapter 47 — Maktub SARL

GEDUNG PELNI KEMAYORAN — PAGI YANG TIDAK LAGI NORMAL

Pagi itu, Gedung PELNI Kemayoran tidak lagi terlihat seperti gedung perkantoran biasa.

Dari luar, bangunannya tetap sama. Dinding tinggi, kaca-kaca gedung, area lobby, security, parkiran, dan jalur masuk yang biasanya dilewati para karyawan dengan wajah mengantuk setiap pagi. Namun hari itu, atmosfernya berbeda.

Sangat berbeda.

Sejak dini hari, puluhan kamera media sudah berdiri di luar pagar gedung. Beberapa reporter melakukan siaran langsung dari trotoar. Creator TikTok masih menyalakan live tanpa henti. Akun-akun Instagram berita terus mengunggah update terbaru dari depan Gedung PELNI. Bahkan beberapa kendaraan media nasional parkir berderet seolah sedang meliput sidang negara besar.

Di layar-layar ponsel masyarakat Indonesia, satu lokasi terus muncul berulang-ulang:

Gedung PELNI Kemayoran.

Dan satu nama terus menjadi pusat pertanyaan:

PT. Gita Wahana Mandiri.

Namun di dalam gedung itu, terutama di lantai 6, suasananya jauh lebih tegang daripada yang terlihat di luar.

Karyawan GWM yang datang pagi itu tidak lagi masuk kantor dengan suasana biasa. Beberapa dari mereka berhenti di depan pintu lift sambil melihat berita di ponsel. Beberapa saling berbisik dengan wajah panik. Ada yang takut namanya ikut terseret media. Ada yang khawatir keluarga mereka melihat pemberitaan dan salah paham. Ada pula yang benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana ketika perusahaan tempat mereka bekerja tiba-tiba menjadi pusat perhatian nasional.

Di grup WhatsApp internal, pesan masuk tanpa henti.

“Kita aman nggak?”

“Benar dana 157 juta Euro itu masuk ke perusahaan?”

“Kenapa media banyak banget di bawah?”

“Kenapa ada pasukan?”

“BSP itu Pak Doni?”

“Kita boleh pulang nggak?”

“Jangan-jangan kantor kita diserbu wartawan?”

Kepanikan kecil mulai menyebar cepat.

Dan dalam organisasi besar, kepanikan kecil jauh lebih berbahaya daripada teriakan besar.

Karena ia menyebar diam-diam.

Dari satu meja ke meja lain.

Dari satu divisi ke divisi lain.

Dari satu ponsel ke ponsel lain.

Sementara itu, jauh di ruang bawah tanah sistem, Mesin Teknologi GARUDA masih menyala penuh.

MERDEKA-0 telah terbuka.

Lapisan kedua telah aktif.

Dan Project GARUDA kini bukan lagi hanya bergerak di dunia industri.

Ia telah memasuki wilayah sejarah, keuangan internasional, keamanan negara, dan psikologi publik.

PROFIL PENGIRIM MT103 TERBUKA

Di ruang utama SYSTEM GARUDA, layar monitor kembali berkedip.

Arka masih berdiri di depan panel utama dengan wajah lelah. Matanya merah karena hampir tidak tidur. Namun tangannya tetap bergerak cepat di atas panel digital, membaca lapisan data yang baru saja dibuka oleh sistem.

Doni berdiri di belakangnya.

Prof Arief berada di sisi kanan meja komando.

Yuri berdiri dengan tablet di tangan, memantau laporan keuangan dan legal yang terus berdatangan.

Tiba-tiba salah satu layar kecil di sisi kiri menyala merah.

MT103 ORIGIN PROFILE DECRYPTED

ORDERING CUSTOMER IDENTIFIED

ENTITY NAME: MAKTUB SARL

DEG.

Seluruh ruangan langsung terdiam.

Yuri mengangkat wajahnya cepat.

“Maktub SARL?”

Arka memperbesar layar.

Data digital mulai terbuka satu per satu.

Bukan lagi hanya UBS sebagai bank dan jalur finansial internasional.

Kini sistem menampilkan identitas perusahaan pengirim yang tertera pada struktur transaksi.

MAKTUB SARL

PRIVATE STRATEGIC HOLDING ENTITY

OWNER AUTHORITY: MISS CAMELIA

FUNDING PURPOSE: PROJECT GARUDA STRATEGIC INDUSTRIAL ACTIVATION

ROUTE: SWISS CUSTODIAN CHANNEL

MESSAGE TYPE: MT103

VALUE: EUR 157,000,000

Ruangan itu membeku.

Karena selama ini publik hanya melihat nama UBS.

Media hanya meneriakkan UBS.

Kementerian Keuangan hanya terguncang karena jalur MT103 dari sistem finansial Swiss.

Namun sekarang, untuk pertama kalinya, nama pengirim sebenarnya muncul.

Maktub SARL.

Dan di belakang nama itu—

ada satu perempuan.

Miss Camelia.

Prof Arief membaca data itu perlahan. Wajahnya berubah serius.

“Jadi UBS adalah jalur perbankan dan kustodian…”

Yuri menyambung dengan suara pelan.

“…tapi ordering entity-nya Maktub SARL.”

Doni tidak menjawab.

Ia menatap nama itu cukup lama.

Seolah nama tersebut bukan nama yang benar-benar asing baginya.

Arka menyadarinya.

“Pak…”

Doni tetap diam.

Arka bertanya lebih hati-hati.

“Bapak tahu Miss Camelia?”

Ruangan langsung sunyi.

Bahkan dengung Mesin GARUDA terasa lebih keras dari biasanya.

Doni menarik napas perlahan.

Matanya tetap tertuju pada layar.

“Tidak banyak orang di dunia ini yang bisa membuka jalur itu.”

Prof Arief langsung menoleh tajam.

“Jadi benar, Pak?”

Doni tidak langsung menjawab.

Namun kali ini ia tidak lagi menyembunyikan semuanya.

“Miss Camelia bukan investor biasa.”

DEG.

Yuri menahan napas.

Arka menatap Doni tanpa berkedip.

Doni melanjutkan dengan suara rendah.

“Dia adalah penjaga salah satu jalur trust yang selama ini tetap hidup di luar negeri.”

Ruangan berubah semakin berat.

Bukan karena mereka baru mengetahui nama perusahaan.

Namun karena mereka mulai memahami bahwa transfer 157 juta Euro itu tidak berdiri sendiri.

Ia adalah pesan.

Ia adalah sinyal.

Ia adalah bukti bahwa jaringan lama yang selama ini dianggap mati ternyata masih bergerak.

Dan Maktub SARL adalah pintu pertamanya.

KEMENTERIAN KEUANGAN SEMAKIN TERKEJUT

Di saat yang hampir bersamaan, ruang koordinasi Kementerian Keuangan kembali diguncang laporan baru.

Seorang analis transaksi internasional berlari kecil membawa printout digital yang baru saja keluar dari sistem verifikasi.

Wajahnya pucat.

“Bu…”

Menteri Keuangan yang sejak tadi berdiri di depan layar besar langsung menoleh.

“Apa lagi?”

Analis itu menahan napas.

“Kami berhasil mengidentifikasi ordering customer pada MT103.”

Ruangan langsung sunyi.

Beberapa pejabat lembaga keuangan negara mendekat.

Analis itu membuka data di layar.

Ordering Customer: Maktub SARL

Owner Authority: Miss Camelia

Route: Swiss Custodian Channel

Beneficiary: PT. Gita Wahana Mandiri

Purpose Reference: Project GARUDA

Tidak ada suara selama beberapa detik.

Menteri Keuangan membaca nama itu berkali-kali.

“Maktub SARL…”

Beliau mengulang pelan.

Salah satu pejabat senior bertanya:

“Apakah ini perusahaan investasi biasa?”

Analis menggeleng.

“Tidak ada pola investasi publik. Tidak masuk kategori fund retail. Tidak terdaftar sebagai transaksi portofolio biasa.”

“Lalu apa?”

Analis itu terlihat ragu.

“Lebih mirip private strategic holding.”

Ruangan kembali membeku.

Pejabat lembaga keuangan negara lainnya berkata pelan:

“Kalau private strategic holding mengirim 157 juta Euro melalui UBS, berarti mereka sudah memegang legal basis, compliance clearance, dan beneficiary confidence.”

Menteri Keuangan menatap layar dengan wajah semakin serius.

“Dan kalau nama Project GARUDA disebut langsung di purpose reference…”

Beliau tidak menyelesaikan kalimatnya.

Karena semua orang sudah memahami artinya.

Transaksi ini bukan kebetulan.

Bukan dana liar.

Bukan transfer tanpa tujuan.

Ini adalah pengakuan finansial terhadap Project GARUDA.

Dan semakin jelas profil pengirimnya, semakin besar pertanyaan yang muncul.

Siapa Miss Camelia?

Mengapa Maktub SARL bergerak sekarang?

Dan mengapa jalur itu hanya aktif setelah BSP membuka MERDEKA-0?

DUNIA MAYA MELEDAK LAGI: “SIAPA MISS CAMELIA?”

Kebocoran berikutnya terjadi terlalu cepat.

Tidak ada yang tahu dari mana asalnya.

Namun pukul 09.17 WIB, sebuah akun finansial di X mengunggah potongan data buram yang menyebut:

MAKTUB SARL

MISS CAMELIA

PROJECT GARUDA

MT103

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, unggahan itu menyebar ke TikTok, Instagram, Telegram, dan grup-grup WhatsApp nasional.

TikTok langsung meledak.

Jika sebelumnya semua orang bertanya “Siapa BSP?” dan “Siapa Arka?”, kini pertanyaan baru muncul:

“SIAPA MISS CAMELIA?”

Video-video baru bermunculan.

Ada yang membuat teori tentang Maktub SARL.

Ada yang mengaitkannya dengan UBS.

Ada yang menyebut Miss Camelia sebagai “wanita misterius di balik dana 157 juta Euro.”

Ada pula yang membuat edit dramatis dengan musik tegang, menampilkan Gedung PELNI, logo GWM, potongan MT103, lalu ditutup dengan foto ilustrasi siluet perempuan berjas hitam.

Komentarnya lebih gila dari sebelumnya.

“BSP punya backing global?”

“Maktub SARL ini siapa?”

“Kenapa semua nama penting muncul satu-satu?”

“Miss Camelia musuh atau sekutu?”

“Ini bukan drama bisnis lagi, ini geopolitik.”

“GWM ini perusahaan biasa atau pusat sistem negara?”

Di Instagram, akun-akun berita besar langsung mengunggah carousel:

5 FAKTA MISTERI MAKTUB SARL

SIAPA MISS CAMELIA DALAM PROJECT GARUDA?

UBS, MAKTUB SARL, DAN DANA 157 JUTA EURO

Dalam hitungan menit, kolom komentar meledak.

Puluhan ribu komentar masuk.

Ratusan ribu likes muncul.

Dan seluruh Indonesia semakin tenggelam dalam misteri Project GARUDA.

STAFF GWM MULAI PANIK

Di lantai 6, kepanikan internal semakin terasa.

Beberapa staf administrasi mulai menangis pelan karena keluarga mereka menelepon tanpa henti.

Beberapa staf sales kebingungan menjawab pertanyaan client.

Tim finance mendapat puluhan pesan dari bank, auditor, dan pihak eksternal yang menanyakan validitas informasi.

Tim IT menghadapi lonjakan serangan phishing dan percobaan login mencurigakan ke email perusahaan.

Tim operasional bingung mengatur keluar masuk dokumen, vendor, dan akses gedung karena media mulai menunggu di sekitar pintu.

Situasi itu bisa berubah kacau kapan saja.

Dan di tengah kepanikan itu, lima orang manager GWM saling bertemu di area koridor dekat ruang meeting internal.

Mereka tidak sedang dipanggil secara formal.

Tidak ada surat tugas.

Tidak ada instruksi resmi.

Tidak ada SK.

Namun mereka tahu satu hal:

Jika mereka tidak bergerak sekarang, kepanikan akan menghancurkan perusahaan dari dalam sebelum serangan luar benar-benar masuk.

Manager HRD, Adi, berdiri paling depan.

Wajahnya tegang, tapi matanya tajam.

Di sampingnya ada Yuli, Manager Keuangan, yang sejak pagi memegang laptop dan beberapa dokumen verifikasi bank.

Angga, Manager Marketing Sales, berdiri dengan ponsel yang terus berdering karena client dan partner bisnis tidak berhenti menghubunginya.

Latif, Manager Operasional, terlihat serius sambil memantau akses gedung dan koordinasi vendor.

Dan Irfan, Manager IT, wajahnya paling lelah, namun tatapannya paling dingin karena sejak subuh ia melihat terlalu banyak percobaan masuk ke sistem internal GWM.

Adi melihat mereka satu per satu.

“Kita tidak bisa tunggu instruksi terus.”

Yuli mengangguk.

“Finance diserbu pertanyaan. Kalau tidak ada satu suara resmi, rumor akan menang.”

Angga menambahkan dengan suara cepat.

“Client sudah panik. Ada yang tanya apakah kontrak mereka aman, ada yang tanya apakah GWM diambil alih negara, ada yang tanya apakah proyek mereka akan berhenti.”

Latif menghela napas.

“Operasional juga kacau. Media mulai masuk area gedung. Vendor tertahan. Staff takut turun ke lobby.”

Irfan menatap ponselnya, lalu berkata pendek.

“Dan sistem kita sedang dipancing dari semua arah.”

Semua terdiam.

Lalu Adi berkata tegas:

“Kalau begitu kita bentuk tim sekarang.”

Angga menoleh.

“Tim apa?”

Adi menjawab tanpa ragu:

“Tim Elit Internal GWM.”

DEG.

Bukan nama resmi.

Bukan tim yang pernah direncanakan.

Namun kalimat itu terasa seperti keputusan.

Yuli langsung menatap semuanya.

“Kita bagi fungsi.”

Adi mengangguk.

“Saya pegang manusia. Semua staff harus tenang. Tidak boleh ada yang merasa ditinggalkan.”

Yuli menyambung:

“Saya pegang finance communication. Semua info soal dana, bank, transaksi, dan audit harus satu pintu. Tidak ada staff yang boleh menjawab angka ke luar.”

Angga langsung berkata:

“Saya pegang client dan public relationship terbatas. Semua partner bisnis harus diyakinkan bahwa GWM tetap berjalan.”

Latif menatap koridor.

“Saya pegang operasional gedung. Akses masuk, vendor, kendaraan, staff movement, dan koordinasi security.”

Irfan menutup laptopnya.

“Saya pegang IT shield. Email, server internal, akses staff, komunikasi digital, dan serangan phishing.”

Mereka saling pandang.

Lima manager itu bukan pasukan bersenjata.

Bukan bagian dari Tim Senyap 08.

Bukan pejabat negara.

Namun pagi itu, dalam tubuh GWM, mereka menjadi garis pertahanan pertama.

Garis pertahanan manusia.

“KITA JAGA RUMAH KITA SENDIRI.”

Adi berjalan masuk ke ruang kerja utama dengan langkah cepat.

Puluhan staff langsung menoleh.

Beberapa terlihat takut.

Beberapa menahan tangis.

Beberapa pura-pura sibuk padahal jelas tangan mereka gemetar di atas keyboard.

Adi berdiri di tengah ruangan.

Ia tidak membawa mikrofon.

Tidak membawa podium.

Namun suaranya cukup keras untuk membuat semua orang diam.

“Teman-teman.”

Ruangan perlahan hening.

“Saya tahu kalian semua takut.”

Tidak ada yang bicara.

Adi melanjutkan.

“Saya juga takut.”

Kalimat itu membuat beberapa staff mengangkat wajah.

Karena mereka tidak mendengar kebohongan.

Mereka mendengar kejujuran.

Adi menarik napas.

“Tapi kita tidak boleh panik.”

“Perusahaan ini tidak dibangun satu malam.”

“Kita semua ada di sini bukan karena kebetulan.”

“Kita bekerja, kita berjuang, kita menjaga operasional, kita melayani client, kita membangun sistem, kita menyusun laporan, kita mengurus SDM, kita menjaga project, kita lembur, kita capek, kita marah, kita tertawa…”

Suaranya mulai berat.

“…dan hari ini rumah kita sedang dilihat satu Indonesia.”

Beberapa staff mulai berkaca-kaca.

Adi menatap mereka satu per satu.

“Jangan takut karena media.”

“Jangan takut karena rumor.”

“Jangan takut karena orang-orang di luar tidak tahu siapa kita.”

Ia menekan dadanya sendiri.

“Kita tahu siapa kita.”

Sunyi.

“Kita GWM.”

DEG.

Kalimat itu sederhana.

Namun pagi itu, ia mengembalikan napas banyak orang.

Yuli berdiri di samping Adi, lalu menambahkan dengan tenang:

“Semua pertanyaan terkait dana, transaksi, MT103, UBS, Maktub SARL, dan bank, jangan dijawab personal.”

“Tidak boleh ada staff mengirim screenshot.”

“Tidak boleh ada angka keluar dari grup internal.”

“Semua lewat finance command.”

Angga menyambung:

“Untuk client dan partner, arahkan ke tim saya. Jangan jawab berdasarkan berita. Jangan berspekulasi. Kita tetap profesional.”

Latif berkata tegas:

“Untuk keluar masuk gedung, ikuti jalur yang saya atur. Jangan turun ke lobby sendirian. Jangan melayani wartawan tanpa izin.”

Irfan menatap semua staff dengan serius.

“Dan mulai sekarang, jangan klik link apa pun yang masuk lewat email, WhatsApp, atau DM yang mengatasnamakan media, bank, atau internal.”

Ia berhenti sejenak.

“Serangan sekarang bukan cuma dari luar gedung.”

“Serangan juga masuk lewat ponsel kalian.”

Ruangan menjadi sunyi.

Lalu perlahan, satu per satu staff mengangguk.

Mereka masih takut.

Namun kini mereka tidak lagi merasa sendirian.

DONI MELIHAT DARI SISTEM

Di ruang bawah tanah, Doni melihat semua itu melalui kamera internal.

Adi berdiri menenangkan staff.

Yuli mengatur komunikasi finance.

Angga menelepon client besar satu per satu.

Latif mengatur jalur operasional.

Irfan membuat protokol keamanan digital cepat untuk seluruh karyawan.

Doni terdiam lama.

Prof Arief memperhatikan wajahnya.

“Pak?”

Doni tersenyum tipis.

Namun matanya terlihat basah.

“Mereka bergerak sendiri.”

Yuri ikut melihat layar.

“Lima manager itu tidak menunggu perintah.”

Doni mengangguk pelan.

“Itu tanda perusahaan ini hidup.”

Ruangan menjadi hening.

Karena di tengah semua sistem besar, server raksasa, dokumen sejarah, dana internasional, MT103, UBS, Maktub SARL, Miss Camelia, Tim Senyap 08, dan Mesin Teknologi GARUDA…

yang paling membuat Doni tersentuh justru lima orang manager biasa yang memilih berdiri di depan staff mereka.

Bukan karena jabatan.

Namun karena tanggung jawab.

Doni berkata pelan:

“GARUDA tidak hanya butuh mesin.”

Ia menatap layar tempat lima manager itu bergerak.

“GARUDA butuh manusia yang berani menjaga rumahnya.”

PESAN DARI MISS CAMELIA

Tiba-tiba layar utama berkedip.

Arka menoleh cepat.

“Pak.”

Doni langsung menatap monitor.

Sebuah pesan terenkripsi masuk melalui jalur Swiss Custodian Channel.

SECURE MESSAGE RECEIVED

SENDER: CAMELIA

ENTITY: MAKTUB SARL

PRIORITY: ABSOLUTE

RECIPIENT: BSP

Ruangan langsung menegang.

Yuri mundur setengah langkah.

Prof Arief berdiri lebih tegak.

Arka menatap Doni.

“Dibuka, Pak?”

Doni diam beberapa detik.

Lalu mengangguk.

“Buka.”

Pesan itu terbuka perlahan.

Tidak panjang.

Hanya beberapa baris.

Namun setiap katanya membuat ruangan seperti kehilangan udara.

BSP,

The first gate has opened.

Maktub has fulfilled the initial obligation.

But the old keepers are awake.

Do not trust every hand that claims to protect the Republic.

— Camelia

DEG.

Tidak ada satu pun orang yang bicara.

Pesan itu terlalu jelas.

Miss Camelia bukan hanya pengirim dana.

Ia tahu tentang gerbang pertama.

Ia tahu tentang kewajiban lama.

Ia tahu tentang penjaga lama.

Dan ia memperingatkan Doni agar tidak mempercayai semua pihak yang mengaku melindungi republik.

Prof Arief membaca pesan itu berkali-kali.

“Old keepers…”

Arka menatap Doni.

“Pak… maksudnya mereka yang tadi mengirim pesan dari Merdeka-0?”

Doni tidak menjawab langsung.

Namun wajahnya berubah jauh lebih keras.

“Ya.”

Yuri bertanya pelan:

“Jadi Miss Camelia di pihak kita?”

Doni menatap pesan itu lama.

Lalu menjawab:

“Untuk sekarang.”

Jawaban itu membuat suasana semakin tegang.

Karena dalam dunia yang sedang mereka masuki, sekutu bukan selalu teman.

Dan musuh bukan selalu datang membawa senjata.

Kadang, musuh datang dengan bendera yang sama.

GARUDA MENGUNCI STATUS BARU

Mesin Teknologi GARUDA kembali berbicara.

MAKTUB SARL PROFILE VERIFIED.

CAMELIA AUTHORITY RECOGNIZED.

SWISS CUSTODIAN ROUTE ACTIVE.

INTERNAL HUMAN SHIELD DETECTED.

GWM FIVE-MANAGER RESPONSE UNIT REGISTERED.

Arka menatap layar.

“GWM Five-Manager Response Unit?”

Yuri hampir tidak percaya.

“Sistem mengenali mereka?”

Doni menatap layar kamera internal tempat Adi, Yuli, Angga, Latif, dan Irfan masih bergerak menenangkan staff.

Mesin GARUDA melanjutkan:

HUMAN STABILITY LAYER: ACTIVE.

INTERNAL PANIC REDUCED.

ORGANIZATIONAL INTEGRITY STABILIZING.

Prof Arief menatap Doni.

“Pak… bahkan GARUDA membaca peran mereka sebagai lapisan pertahanan.”

Doni tersenyum kecil.

Kali ini senyumnya tidak sepahit sebelumnya.

“Karena memang begitu.”

Ia menatap lima manager itu di layar.

“Mereka bukan pasukan elite negara.”

“Mereka pasukan elite perusahaan.”

“Dan hari ini…”

Doni berhenti sejenak.

“…mereka menyelamatkan GWM dari runtuh karena kepanikan.”

LAST LINE

Pagi itu, Indonesia semakin heboh karena nama Maktub SARL dan Miss Camelia akhirnya terbuka.

Namun di dalam Gedung PELNI Kemayoran, sesuatu yang jauh lebih penting sedang terjadi.

Lima manager GWM berdiri tanpa diminta.

Menenangkan manusia.

Menjaga sistem.

Melindungi rumah mereka sendiri.

Dan saat Mesin Teknologi GARUDA mencatat nama mereka sebagai lapisan pertahanan internal—

Project GARUDA akhirnya membuktikan satu hal:

sebesar apa pun mesin, dana, sejarah, dan kekuatan global yang bergerak…

sebuah bangsa tetap hanya bisa diselamatkan oleh manusia-manusia yang berani berdiri ketika semua orang mulai takut.

More Chapters