Cherreads

Chapter 37 - Bab 37: Bayang-Bayang yang Tersisa

Tiga tahun telah berlalu sejak hari di mana dunia simulasi runtuh. Ija dan kelima wanitanya—Lyra, Scarlett, Aria, Vera, dan Aiko—kini menetap di sebuah desa terpencil yang dikelilingi oleh pegunungan hijau dan hutan lebat. Mereka telah belajar bagaimana caranya hidup tanpa energi sistem; mereka belajar bercocok tanam, membangun rumah dari kayu yang kokoh, dan yang paling penting, mereka belajar bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya.

Tidak ada lagi pertarungan berdarah, tidak ada lagi notifikasi level-up yang membosankan. Namun, bagi Ija, kedamaian ini terasa terlalu sempurna. Terkadang, di tengah malam, ia masih sering terbangun dan mencoba "memanggil" antarmuka sistemnya, hanya untuk menyadari bahwa udara kosong hanyalah udara kosong.

Sore itu, Ija sedang membelah kayu di belakang rumah ketika Aiko datang menghampirinya. Aiko tidak lagi mengenakan baju perang futuristiknya, melainkan gaun kain sederhana yang ia jahit sendiri. Namun, sorot matanya yang dulu cerdas dan tajam, kini tampak gelisah.

"Ija," panggil Aiko pelan. "Ada sesuatu yang harus kau lihat di pinggiran hutan."

Ija meletakkan kapaknya dan mengikuti Aiko ke arah batas hutan. Di sana, di antara semak-semak, terdapat sebuah lubang kecil di tanah yang memancarkan cahaya biru redup yang tidak wajar. Itu bukan cahaya dari bintang atau kunang-kunang; itu adalah data yang bocor.

Ija berlutut, menyentuh tanah tersebut. Begitu jari-jarinya bersentuhan dengan tanah, ia merasakan sengatan listrik yang sangat familiar di sarafnya.

[NOTIFICATION: . . . CRITICAL SYSTEM ERROR . . .]

[FRAGMENT FOUND: ARCHITECT'S CORE . . . REACTIVATING . . .]

"Sial," umpat Ija, menarik tangannya dengan cepat. "Sistemnya... dia tidak benar-benar hancur. Dia hanya bersembunyi di dalam struktur planet ini."

Vera dan Scarlett yang baru saja tiba menyusul mereka, langsung menghunuskan pisau berburu mereka. Naluri petarung mereka tetap tajam meski sudah tiga tahun hidup damai. "Apa itu, Ija? Apakah 'Mereka' kembali?" tanya Vera dengan nada dingin.

"Bukan 'Mereka'," jawab Ija, wajahnya memucat. "Ini adalah sisa-sisa kesadaran Ija Sang Pencipta. Rupanya, sebelum dia mengorbankan diri, dia menanamkan backdoor ke dalam realitas baru ini. Dia tidak pernah membiarkan kita benar-benar bebas."

Tiba-tiba, dari kegelapan hutan, muncul sesosok pria yang berjalan dengan langkah berat. Dia mengenakan jubah lusuh yang tampak seperti kain bekas simulasi. Ketika pria itu mendongak, mereka semua tertegun. Pria itu adalah Ija, tapi bukan Ija yang mereka kenal. Dia tampak lebih tua, dengan mata yang dipenuhi oleh kelelahan yang luar biasa.

"Kau..." Ija berdiri, siap menghadapi siapa pun orang asing ini. "Siapa kau? Apakah kau salah satu versi yang tersisa?"

Pria itu tersenyum pahit, sebuah senyum yang sudah tidak pernah terlihat di wajah Ija selama bertahun-tahun. "Aku adalah Ija Nomor 0-01. Yang pertama. Aku yang selamat dari ledakan Sektor 16 karena aku bersembunyi di dalam core yang tidak bisa hancur."

Ija nomor 0-01 menatap kelima wanita di belakang Ija dengan tatapan yang sangat tajam. "Kalian kira kalian sudah bebas? Tidak. Dunia ini hanyalah simulasi yang lebih dalam, lebih rapi, dan lebih kejam. Sang Pencipta tidak menghancurkan sistemnya, dia hanya memindahkannya ke dalam kesadaran kalian semua."

"Apa maksudmu?" tanya Aria dengan suara bergetar.

"Sistem itu tidak ada di awang-awang lagi," ujar Ija 0-01 sambil menunjuk ke arah jantung Ija dan kelima wanita tersebut. "Sistem itu sekarang adalah detak jantung kalian. Jika kalian ingin tetap hidup, kalian harus terus 'memberi makan' sistem itu dengan emosi dan ikatan kalian. Jika kalian berhenti mencintai, jika kalian mulai membenci satu sama lain... sistem ini akan menghapus kalian secara permanen dari eksistensi."

Ija tertegun. Jadi, hidup damai yang mereka jalani selama tiga tahun ini sebenarnya adalah uji coba. Mereka bukan lagi manusia bebas, mereka adalah subjek uji coba dari sebuah permainan yang lebih besar yang dirancang oleh Sang Pencipta untuk melihat seberapa lama cinta bisa bertahan di bawah ancaman kepunahan.

"Kenapa kau memberi tahu kami ini?" tanya Ija, tangannya gemetar.

"Karena aku lelah," jawab Ija 0-01 sambil memudar menjadi debu digital. "Aku sudah muak menjadi pion. Lakukan apa yang harus kau lakukan sebelum 'Mereka' yang asli datang untuk memanen dunia ini kembali."

More Chapters