Debu bangunan yang runtuh masih melayang di udara, namun suasana di Sektor Industri 7 telah berubah total. Bagi Ija, pandangannya kini tidak lagi sekadar menangkap visual, melainkan aliran data yang mendasari setiap objek. Ia melihat struktur gedung, aliran listrik, dan yang paling krusial: frekuensi energi yang tidak seharusnya ada di sana.
Xylos berdiri di hadapannya. Armor krom pria itu tidak lagi terlihat angkuh; ada sedikit keraguan di balik sorot mata elektriknya. Jenderal itu menyadari bahwa "Anomali" di depannya telah melampaui fase evolusi sistem.
"Kau menghancurkan rantai itu," suara Xylos terdengar lebih rendah, hampir seperti peringatan. "Tapi kau tidak tahu apa konsekuensinya bagi dunia ini, Ija. Kau baru saja membuka celah bagi Admin pusat untuk melacak lokasimu secara real-time."
Ija tidak menanggapi ancaman itu. Fokusnya terbelah. Di dalam gudang yang runtuh itu, ia merasakan resonansi yang sangat tajam—sebuah denyut kehidupan yang perlahan melemah. Itu adalah Mina.
"Siapa yang kau sekap di bawah sana?" tanya Ija dingin. Ia tidak lagi bertanya sebagai orang asing, melainkan sebagai seseorang yang ingatannya mulai tersusun kembali seperti kepingan puzzle.
Xylos menyeringai, mencoba menutupi kegugupannya dengan memutar pedang void-nya. "Seorang subjek yang tidak berarti. Hanya kumpulan data yang kami gunakan untuk menstabilkan simulasi sektor ini. Namanya tidak penting, karena sebentar lagi dia akan terformat menjadi nihil."
Mendengar kata "terformat", Ija merasakan amarah yang murni, bukan kemarahan seorang mesin, melainkan kemarahan seseorang yang kehilangan separuh jiwanya. Ia tidak membuang waktu. Dengan satu hentakan, lantai beton di bawah kaki Ija retak. Tanpa peringatan, ia melesat ke arah Xylos bukan untuk memukul, melainkan untuk menembusnya.
Ija memanfaatkan celah di sistem yang baru saja ia sadari—ia bergerak di antara frame waktu simulasi. Xylos, yang terbiasa bertarung melawan logika sistem, kehilangan jejak Ija.
"Kau terlalu lambat, Xylos," suara Ija terdengar tepat di belakang telinga jenderal itu.
Ija tidak menghabisi Xylos di sana. Ia tahu, jika ia membuang waktu untuk duel, Mina akan habis. Ija menggunakan sisa energi dari penghancuran rantai di Bab 50 untuk menciptakan gelombang kejut yang melempar Xylos jauh ke ujung gudang.
Dalam satu gerakan fluid, Ija melompat ke arah lubang akses bawah tanah yang tersembunyi di balik altar mesin yang hancur. Ia terjun ke dalam kegelapan fasilitas itu, mengabaikan peringatan sistem yang berteriak di kepalanya tentang instabilitas tubuh fisiknya.
Di lorong sempit yang diterangi lampu darurat, Ija akhirnya melihatnya. Di ujung lorong, terdapat sebuah kapsul kaca besar yang terhubung dengan ribuan kabel. Di dalamnya, seorang wanita dengan rambut perak—Mina—terbaring tak sadarkan diri.
Ija mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh kaca dingin kapsul tersebut. Ikatan jiwa itu... kini terasa sangat nyata. Ini bukan simulasi, ini adalah bagian dari hidupnya yang dicuri.
"Aku menemukannya," bisik Ija, tepat saat pintu fasilitas itu terhempas terbuka di belakangnya. Xylos telah kembali, dan kali ini, dia tidak sendirian.
