Cherreads

Chapter 7 - 6. Masa Lalu Kenan Kiara (End Part)

Rumah dinas itu berubah menjadi ruang duka yang terasa terlalu penuh, namun sekaligus terlalu kosong. Sejak pagi, halaman depan dipadati kendaraan yang datang silih berganti, suara pintu mobil yang dibuka dan ditutup, langkah kaki yang bergegas namun tetap ditahan, serta bisik-bisik yang sengaja direndahkan agar tidak merusak suasana.

Karangan bunga berjajar rapi di sepanjang pagar hingga ke teras, ucapan belasungkawa tertulis formal dengan nama-nama besar yang datang dari berbagai kalangan militer, sipil, rekan lama, hingga orang-orang yang mungkin hanya mengenal Mahendra dari jarak jauh. Aroma bunga yang terlalu kuat memenuhi udara, bercampur dengan wangi dupa dan lilin, menciptakan suasana yang menyesakkan dalam diam, seolah seluruh rumah dipaksa menerima kenyataan yang belum sepenuhnya siap diterima.

Ramai.

Namun sunyi.

Berat.

Di dalam, ruang tengah telah sepenuhnya berubah. Peti jenazah Mahendra terletak di tengah ruangan, dikelilingi bunga putih yang tersusun rapi, cahaya lampu yang dibuat lebih redup, serta beberapa lilin yang menyala tenang tanpa goyah. Beberapa perwira berdiri dengan sikap hormat, bergantian datang memberi penghormatan terakhir, wajah mereka tegas namun tidak mampu sepenuhnya menyembunyikan duka.

Ada yang menunduk lama, ada yang hanya berdiri beberapa detik sebelum mundur, ada pula yang berbicara pelan dengan keluarga yang datang, semuanya dilakukan dengan cara yang teratur, terkontrol, seperti dunia militer yang tidak pernah benar-benar kehilangan bentuknya bahkan di tengah kehilangan.

Namun di antara semua itu ada satu yang tidak bergerak.

Kiara.

Gadis kecil itu duduk di sisi peti, sejak semalam, sejak tubuh ayahnya dibawa pulang. Ia tidak berpindah. Tidak beranjak. Tubuhnya kecil, tenggelam di antara suasana yang terlalu besar untuknya, namun justru keberadaannya terasa paling nyata di ruangan itu. Matanya tidak lepas dari wajah ayahnya yang kini terbaring diam, terlalu tenang, terlalu asing dalam ketenangan itu. Wajahnya pucat, sembab, namun tidak lagi menangis. Air matanya seperti sudah habis sebelum sempat benar-benar ia pahami.

Diam.

Kosong.

Namun bertahan.

Di belakangnya, babysitter berdiri beberapa langkah, terus memperhatikan dengan gelisah. Ia sudah mencoba berkali-kali, sejak pagi, sejak tadi malam membujuk dengan suara pelan, memanggil dengan sabar, bahkan hampir memohon agar Kiara mau menjauh sebentar, sekadar untuk makan, minum, atau mengganti pakaian yang sudah kusut sejak kemarin.

Namun tidak pernah berhasil. Babysitter itu kembali mencoba, kali ini lebih pelan, lebih hati-hati, seolah setiap kata harus dipilih agar tidak melukai sesuatu yang sudah terlalu rapuh. Ia berjongkok di samping Kiara, mendekat tanpa benar-benar menyentuh, hanya membiarkan kehadirannya terasa. "Non… makan sedikit saja, ya… cuma sebentar," bisiknya lagi, suaranya hampir tidak terdengar di antara sunyi yang menggantung di ruangan itu.

Namun tidak ada jawaban. Tidak ada reaksi. Kiara tetap menatap lurus ke depan, ke arah wajah ayahnya yang kini terbaring diam. Tangannya masih bertumpu di tepi peti, jemarinya kecil dan kaku, mencengkeram tanpa sadar, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak jatuh sepenuhnya. Bahkan ketika babysitter itu perlahan mencoba menyentuh lengannya, mencoba menariknya dengan sangat hati-hati, tubuh kecil itu hanya bereaksi dengan satu gerakan kepalanya menggeleng pelan, sangat pelan, namun cukup tegas untuk menghentikan segalanya.

Babysitter itu terdiam, tangannya tertahan sebelum akhirnya ditarik kembali, mundur perlahan tanpa berani memaksa lebih jauh. Ia hanya bisa menatap, dengan mata yang mulai berkaca-kaca, melihat bagaimana anak sekecil itu memilih untuk tetap tinggal di tempat yang sama, tidak bergerak, tidak berpindah, seolah dunia di luar peti itu sudah tidak lagi berarti baginya.

Kiara tidak menjauh. Tidak mau menjauh. Ia menolak, bukan dengan amarah, bukan dengan suara, tapi dengan diam yang utuh, diam yang tidak bisa dibujuk, tidak bisa dipatahkan, dan justru karena itulah terasa jauh lebih menyakitkan bagi siapa pun yang melihatnya.

Di sisi lain ruangan, Kenan berdiri bersama Nana. Keduanya datang tanpa banyak menarik perhatian, langkah mereka tenang, sikap tetap terjaga seperti yang diharapkan dari seseorang dengan posisi mereka. Kenan berdiri tegap seperti biasa, seragamnya rapi tanpa cela, bahunya lurus, ekspresinya terkendali, seolah tidak ada yang berubah dari dirinya.

Namun ada satu hal yang berbeda dari tatapannya. Sejak pertama kali ia melangkah masuk ke ruangan itu, sejak matanya menemukan sosok kecil yang duduk diam di samping peti, ia tidak pernah benar-benar melihat hal lain.

Orang-orang yang datang, ucapan belasungkawa, suara langkah yang berganti, semuanya terasa jauh, kabur, tidak penting. Yang tersisa hanya satu pemandangan itu, seorang anak kecil yang duduk terlalu diam di tengah kehilangan yang terlalu besar, dan sejak detik itu pula, sesuatu di dalam dirinya tidak pernah benar-benar tenang.

Ada rasa tidak nyaman yang terus mengendap di dadanya, karena setiap detik yang berlalu, setiap menit Kiara tetap di tempat itu tanpa bergerak, tanpa makan, tanpa minum, semuanya terasa salah. Ia tahu dan terlalu tahu bahwa Kiara belum makan sejak kemarin, bahwa anak itu tidak minum, bahwa ia bahkan mungkin tidak tidur dengan benar. Ia tahu bagaimana Kiara bertahan di sana sejak malam, duduk tanpa berpindah, menatap tanpa jeda, seolah menjaga sesuatu yang tidak akan pernah kembali, seolah dengan tidak bergerak ia bisa menahan waktu agar tidak berjalan lebih jauh.

Rahang Kenan mengeras tanpa ia sadari, napasnya sesekali tertahan lebih lama dari biasanya. Ia tidak mengatakan apa-apa, tidak juga bergerak, namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang terus menekan, sesuatu yang semakin lama semakin sulit ia abaikan.

Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak berdaya hanya dengan berdiri dan melihat sesuatu yang tidak pernah ia sukai, terlebih saat yang ia lihat adalah seorang anak kecil yang seharusnya tidak perlu menanggung semua itu sendirian. Dan di titik itu, satu hal menjadi jelas ia tidak bisa terus hanya berdiri di sana.

Langkah Nana sedikit bergeser di sampingnya, nyaris tanpa suara, namun cukup untuk menunjukkan bahwa perhatiannya tertuju pada hal yang sama.

Ia berdiri beberapa detik lebih lama, mengamati pemandangan itu dengan tenang, sebelum akhirnya berbicara pelan, suaranya rendah dan hampir tenggelam di antara bisik-bisik yang memenuhi ruangan. "Kasihan sekali anak itu…" ucapnya, singkat, tanpa tambahan apa pun, namun cukup untuk membawa bobot yang tidak ringan.

Kenan tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras sedikit, matanya tetap tertuju pada Kiara, tidak berpindah, seolah ia tidak ingin kehilangan satu detik pun dari apa yang ia lihat.

"Dia belum makan katanya" ucap Nana lagi, menegaskan apa yang ia lihat di depannya, kali ini sedikit lebih pelan, namun tetap jelas. Ada jeda sebelum Kenan menjawab, bukan karena ia tidak tahu, tapi karena fakta itu terasa lebih berat setiap kali diucapkan. "…sejak kemarin," jawabnya akhirnya, suaranya rendah, datar, namun tidak benar-benar kosong.

Hening jatuh di antara mereka setelah itu, bukan hening yang canggung, melainkan hening yang penuh pemahaman. Nana menghela napas perlahan, matanya tidak lepas dari gadis kecil itu. "Tidak baik dibiarkan seperti itu," lanjutnya, tetap tenang, namun kali ini ada sesuatu yang lebih dalam di balik nadanya, sesuatu yang tidak sekadar pengamatan, melainkan penilaian yang halus namun tegas.

Kenan tahu. Lebih dari siapa pun di ruangan itu, ia tahu bahwa apa yang terjadi di depan matanya tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Ia tidak menjawab lagi. Tidak berdebat. Tidak menambahkan apa pun. Namun tubuhnya sudah lebih dulu mengambil keputusan. Tanpa menunggu lebih lama, ia bergerak.

Langkahnya pelan, terukur, namun pasti, melewati beberapa orang yang secara naluriah memberi jalan tanpa perlu diminta. Ia mendekat ke arah Kiara dengan kehati-hatian yang tidak biasa, seolah setiap langkah harus dijaga agar tidak merusak sesuatu yang sudah terlalu rapuh, sesuatu yang bahkan tidak terlihat, namun terasa jelas di udara di sekitarnya.

Ia berhenti di sampingnya lalu berjongkok perlahan dan menyamakan tinggi.

"Kiara…" panggilnya pelan namun tidak ada respon, hanya napas kecil. Kenan tidak mundur. Tangannya terulur perlahan, menyentuh bahu kecil itu dengan hati-hati, seolah takut sentuhan itu terlalu berat. "Kamu belum makan," ucapnya lagi, suaranya lebih lembut dari biasanya.

Kiara tetap diam, namun kali ini matanya bergerak sedikit. Kenan menarik napas pelan, menahan sesuatu yang terasa menekan dadanya. "Ayahmu tidak akan marah kalau kamu makan," lanjutnya. "Kamu harus kuat." Kalimat itu menggantung beberapa detik lalu perlahan, sangat pelan, Kiara menoleh matanya bertemu dengan Kenan.

Sayu dan lelah.

"Sebentar saja," tambah Kenan pelan. "Setelah itu… kamu boleh kembali ke sini." Hening yang cukup lama hingga akhirnya Kiara mengangguk kecil nyaris tidak terlihat.

Kenan tidak berkata apa-apa lagi. Ia langsung mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya dengan hati-hati. Tidak ada perlawanan, tidak ada tangisan. Kiara hanya bersandar lemah di bahunya, seperti sudah kehabisan tenaga untuk menolak apa pun. Dan itu lebih menyakitkan dari tangisan.

Di kejauhan, Nana memperhatikan semuanya tanpa bergerak.

Tatapannya mengikuti setiap detail cara Kenan mendekat, cara ia berbicara, cara ia mengangkat anak itu dengan kehati-hatian. Nana sudah lama mengetahui bahwa suaminya sering datang ke rumah atasannya ini. Ia juga tahu betapa dekatnya Kenan dengan mendiang Kolonel Mahendra, sebuah kedekatan yang bukan sekadar hubungan profesional, melainkan sesuatu yang terbentuk dari waktu, kepercayaan, dan masa lalu yang panjang. Bahkan ia pun tahu bahwa anak dari Mahendra, Kiara, juga memiliki kedekatan tersendiri dengan Kenan.

Namun melihatnya secara langsung tetap terasa berbeda. Cara Kiara langsung menurut tanpa banyak kata ketika Kenan meminta, seolah tidak ada jeda untuk ragu, tidak ada jarak untuk mempertanyakan membuat sesuatu di dalam dada Nana bergerak pelan, sulit diberi nama.

Beberapa minggu berlalu tanpa satu pun kabar tentang Kiara, dan sejak hari pemakaman itu, Kenan benar-benar tidak lagi mendengar apa pun tentang gadis kecil tersebut. Yang terakhir ia lihat hanyalah sosoknya yang berdiri diam di sisi peti Mahendra, tidak mau beranjak seolah dunia di sekelilingnya sudah kehilangan makna.

Setelah itu Kiara dibawa kembali oleh ibunya, dan dari sanalah semuanya terasa menghilang begitu saja dari jangkauan Kenan. Namun di hari pemakaman itu pula untuk pertama kalinya Kenan melihat langsung wajah mantan istri Mahendra, wanita yang selama ini hanya ia kenal dari foto-foto lama di berkas milik almarhum, ia datang bersama suami barunya seorang pengusaha yang namanya cukup dikenal, berdiri dengan sikap tenang namun terasa dingin, seakan kehadirannya di sana hanya sebatas formalitas, dan ia mencoba mendekati Kiara, tetapi anak itu tidak pernah benar-benar jauh dari peti ayahnya, seolah hanya di sanalah ia masih bisa merasa aman di tengah kehilangan yang terlalu besar untuk usianya, dan pemandangan itu menempel kuat di ingatan Kenan tanpa bisa ia singkirkan.

Sejak saat itu berminggu-minggu Kenan tidak pernah berhenti memikirkan Kiara, meskipun ia berusaha kembali pada rutinitasnya sebagai seorang kapten, pikirannya selalu kembali pada anak kecil itu tanpa ia sadari, dan ia tahu dari cerita-cerita Mahendra bahwa mantan istrinya tidak pernah benar-benar hadir dalam kehidupan Kiara setelah perceraian mereka, bahkan untuk sekadar menjenguk pun hampir tidak pernah dilakukan, sesuatu yang sejak lama sudah dikhawatirkan Mahendra karena penyakit jantung yang ia derita, ia takut jika sewaktu-waktu dirinya pergi tidak ada cukup kasih sayang yang tersisa untuk menjaga putrinya, dan ketakutan itu kini seperti menjadi kenyataan di depan mata Kenan sendiri.

Bayangan ucapan Kenan yang pernah mengatakan akan "menjaga Kiara" terus berputar di kepalanya seperti sebuah janji yang belum ia pahami sepenuhnya saat diucapkan, seolah Mahendra masih belum tenang di sana dan masih menunggu dirinya benar-benar menepati kata-kata itu, hingga perlahan tanpa ia sadari rasa itu tumbuh dalam dirinya bukan lagi sekadar belas kasih atau rasa tanggung jawab terhadap anak sahabatnya, tetapi sesuatu yang lebih dalam, lebih personal, seperti naluri seorang ayah yang belum pernah ia sadari ada di dalam dirinya.

Namun di sisi lain Kenan juga tahu ia tidak bisa melangkah sembarangan, hak asuh Kiara berada di tangan ibu kandungnya dan ia tidak memiliki dasar hukum untuk ikut campur, apalagi ia juga tidak ingin Nana mengetahui tentang wasiat Mahendra yang pernah ia dengar secara pribadi, karena ia yakin istrinya akan menolak keras jika tahu bahwa ia mulai terlibat terlalu jauh dalam kehidupan anak itu.

Maka dengan tekad yang semakin kuat ia akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk mencari informasi secara diam-diam mengenai keberadaan Kiara, ia harus tahu bagaimana keadaan gadis itu sekarang, karena kegelisahan yang awalnya kecil perlahan berubah menjadi sesuatu yang mengganggu pikirannya setiap hari, seolah Kiara bukan lagi sekadar anak dari sahabatnya, tetapi seseorang yang keberadaannya kini mulai mengikat hatinya tanpa ia sadari.

Beberapa waktu kemudian laporan itu datang, dan di dalamnya tertulis bahwa Kiara kini tinggal di rumah besar milik suami baru ibunya, namun kehidupan di sana jauh dari kata baik-baik saja karena gadis kecil itu tidak lagi seperti dulu, ia menjadi pendiam, murung, prestasi sekolahnya menurun drastis, tidak lagi memiliki semangat seperti sebelumnya, bahkan guru-gurunya mulai mencatat perubahan sikapnya yang drastis,

Sementara di rumah ibunya sibuk dengan pekerjaan dan kehidupan barunya bersama suami baru, dan ayah tirinya meskipun tidak memperlakukannya dengan kasar secara langsung juga tidak pernah benar-benar membangun kedekatan, membuat Kiara tumbuh dalam kesepian yang pelan-pelan menggerus masa kecilnya sendiri.

Membaca seluruh laporan itu Kenan hanya diam cukup lama tanpa mengatakan apa pun, tangannya mengepal pelan di atas meja sementara tatapannya kosong namun berat, dan untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata, bukan sekadar rasa kasihan, bukan sekadar tanggung jawab, tetapi dorongan kuat yang membuatnya merasa bahwa ia tidak bisa lagi hanya menjadi orang yang mengetahui keadaan Kiara dari jauh, ia harus menjadi seseorang yang benar-benar bertindak sebelum semuanya terlambat.

Tapi bagaimana caranya?

Meski ia punya banyak kuasa dan uang, hak asuh tidak dapat sembarangan di ambil dan Kenan tidak cukup punya bukti untuk mengambil kiara dari ibu kandungnya sendiri.

Ia bukan siapa-siapa secara hukum bagi Kiara, dan ia tidak memiliki bukti yang cukup kuat untuk mengambil gadis itu dari ibu kandungnya sendiri, seberapa pun ia meragukan kemampuan wanita itu dalam merawat anaknya. Pada akhirnya, semua yang bisa ia lakukan hanyalah mengawasi dari jauh, memastikan bahwa setidaknya Kiara masih berada dalam keadaan aman, meski hatinya sendiri tidak pernah benar-benar tenang setiap kali laporan tentang gadis itu sampai ke tangannya.

Tahun demi tahun berlalu dengan cara yang hampir menyakitkan dalam kesunyiannya sendiri. Kenan tetap menjadi bayangan yang tidak pernah terlihat dalam kehidupan Kiara, namun tidak pernah benar-benar pergi. Ia mengikuti setiap perkembangan gadis itu melalui laporan-laporan singkat yang ia minta secara diam-diam, dan apa yang ia lihat tidak banyak berubah. Kiara tumbuh menjadi pribadi yang pendiam, tertutup, dan cenderung murung, seperti luka yang tidak pernah benar-benar sembuh sejak kehilangan ayahnya.

Namun saat ia mulai memasuki masa remaja sekolah, ada sedikit perubahan yang akhirnya muncul. Di lingkungan sekolah, Kiara perlahan mulai menemukan kembali sesuatu yang dulu sempat hilang yaitu senyumnya. Ia mulai memiliki teman, mulai tertawa, mulai terlihat seperti gadis seusianya yang normal, seolah dunia di luar rumah memberinya ruang untuk bernapas.

Tetapi semua itu tidak pernah bertahan lama, karena setiap kali ia kembali ke rumah, Kiara kembali berubah menjadi sosok yang sama, diam, jauh, dan tertutup, seakan ada bagian dari dirinya yang tidak pernah benar-benar bisa keluar dari bayang-bayang masa lalu dan keadaan yang mengikatnya.

Siklus itu terus berulang hingga akhirnya Kiara menyelesaikan sekolah menengahnya di usia sembilan belas tahun. Dari salah satu laporan yang Kenan terima, ia mengetahui bahwa hubungan Kiara dengan ibunya tidak pernah benar-benar membaik, bahkan justru semakin merenggang seiring waktu.

Puncaknya terjadi setelah kelulusan itu, ketika ibunya secara terang-terangan mengatakan bahwa Kiara tidak perlu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia ingin Kiara tetap tinggal dan membantu mengurus bisnisnya saja, sesuatu yang bagi Kiara terasa seperti pengekangan terhadap masa depannya sendiri. Perdebatan hebat pun terjadi, untuk pertama kalinya Kiara melawan dengan suara yang tidak lagi pelan, dan sejak saat itu hubungan mereka berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya.

Ibunya tidak lagi memberikan dukungan penuh, bahkan untuk hal-hal mendasar. Biaya yang diberikan semakin sedikit, tidak cukup untuk memungkinkan Kiara melanjutkan pendidikan. Ia juga tidak dibantu dalam proses pendaftaran kuliah, seolah jalan itu sengaja ditutup di hadapannya. Dan pada akhirnya, tanpa banyak pilihan, Kiara harus menerima kenyataan bahwa ia tertahan di tempat yang sama, menyaksikan waktu berjalan tanpa bisa ia kejar. Satu tahun berlalu, lalu dua tahun, dan selama itu pula ia tidak pernah benar-benar melangkah ke mana pun.

Hingga pada usia dua puluh satu tahun, dengan keputusan yang akhirnya matang setelah sekian lama tertahan, Kiara memilih untuk pergi. Tanpa banyak suara, tanpa drama yang berlebihan, ia meninggalkan rumah itu, rumah yang tidak pernah benar-benar terasa seperti tempat pulang baginya dan memutuskan kembali ke kota asalnya, tempat di mana semua kenangan tentang ayahnya masih tersisa, tempat yang mungkin menjadi satu-satunya arah yang ia rasa masih bisa ia tuju ketika ia tidak lagi memiliki apa pun.

Laporan itu sampai begitu cepat di tangan Kenan, seolah jarak dan waktu tidak pernah benar-benar berarti bagi seseorang dengan kekuasaan seperti dirinya.

Kini, sebagai seorang jenderal yang berdiri di puncak militer sekaligus pewaris keluarga bangsawan konglomerat dengan jaringan luas, informasi seperti itu hanyalah perkara sekejap, namun kali ini isi laporan itu tidak terasa biasa.

Ia membacanya dalam diam, rahangnya mengeras pelan saat mengetahui bahwa Kiara telah meninggalkan rumah ibunya dan kini hidup sendiri tanpa arah yang jelas, tanpa dukungan, tanpa pegangan apa pun selain dirinya sendiri. Dua tahun terbuang tanpa pendidikan, tanpa masa depan yang pasti, lalu pergi begitu saja membawa sisa-sisa hidupnya dan entah mengapa gambaran itu terasa begitu menekan dada Kenan, bukan karena ia tidak pernah membayangkannya, tetapi karena ia tahu inilah titik di mana ia tidak bisa lagi hanya berdiri sebagai pengamat.

Selama bertahun-tahun ia menahan diri, memilih untuk tidak melangkah bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena ia masih menghormati batas yang seharusnya tidak ia lewati.

Namun kini batas itu perlahan kehilangan maknanya. Kiara bukan lagi anak kecil yang sepenuhnya terikat pada keputusan ibunya, ia sudah cukup dewasa untuk menentukan hidupnya sendiri, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama ia berada di luar kendali wanita itu. Di situlah Kenan melihat sesuatu sebuah celah yang selama ini tidak pernah benar-benar terbuka, bukan sekadar peluang yang dingin dan terhitung, tetapi sebuah jalan untuk kembali pada janji yang pernah ia ucapkan, janji yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya meskipun waktu terus berjalan.

Ia menutup berkas di tangannya perlahan, matanya tetap tertuju ke depan namun pikirannya bergerak cepat menyusun sesuatu dengan ketenangan yang justru terasa berbahaya. Dengan koneksi yang ia miliki, dengan pengaruh yang melekat pada namanya, ia tahu menemukan Kiara bukanlah hal yang sulit, ia bisa memastikan gadis itu mendapatkan kehidupan yang layak, pendidikan yang sempat terhenti, bahkan lebih dari itu, tetapi kali ini semua itu tidak lagi terasa sebagai sekadar bantuan.

Ada sesuatu yang lebih dalam yang mendorongnya, sesuatu yang selama ini tumbuh diam-diam tanpa ia beri nama, sesuatu yang membuatnya tidak ingin lagi sekadar mengetahui keadaan Kiara dari jauh.

Tangannya akhirnya bergerak mengambil ponsel di atas meja, memberikan instruksi singkat kepada orang kepercayaannya dengan suara yang tenang namun tegas, tanpa memberi ruang untuk kesalahan. Ia ingin lokasi Kiara ditemukan secepat mungkin, ia ingin semua informasi tentang kehidupannya sekarang dikumpulkan tanpa ada yang terlewat, karena kali ini ia tidak akan berhenti hanya pada laporan dan pengamatan. Kali ini Kenan benar-benar akan datang, dan begitu ia melangkah masuk kembali ke kehidupan Kiara, segalanya tidak akan lagi berjalan seperti sebelumnya.

More Chapters