Chapter 2 - Seeds in the Soil, Seeds in the Heart (Benih di Tanah, Benih di Hati)
Waktu yang tak terhitung berlalu setelah Ancient War. Kini dunia menjalani hari-hari yang masih terikat konflik, tapi jejaknya tidak sampai ke semua tempat dengan cara yang sama.
Di sebuah lembah terpencil, jauh dari keramaian kota dan sekte besar, terdapat sebuah desa kecil yang dikelilingi perbukitan hijau dan aliran sungai jernih. Desa itu tenang. Warganya melaksanakan kegiatan masing-masing; ada yang bertani, berdagang ke kota, mengukir kayu, dan beternak. Suara burung dan tawa anak-anak mengisi udara pagi.
Di salah satu rumah sederhana yang terbuat dari kayu pinus tua, hiduplah keluarga Lian. Ayahnya, Lian Haoyu, adalah pengrajin kayu yang sangat terampil, membuat ukiran patung dan alat-alat sederhana yang digunakan sehari-hari. Ibunya, Mei Ruyin, adalah wanita yang lembut, merawat ladang kecil di dekat rumah dengan tangan yang tahu persis kapan tanah butuh air dan kapan ia butuh dibiarkan.
Dan di antara kehidupan sederhana itu, tumbuhlah Lian Yuexin, gadis 18 tahun yang rambutnya hitam panjang tergerai sederhana. Matanya jernih seperti permukaan sungai di pagi hari sebelum angin pertama berhembus. Kehidupannya penuh kebahagiaan bersama kedua orang tuanya, dan ia menjalani setiap harinya dengan keceriaan yang tidak dibuat-buat.
Saat menghadapi masalah, ia tetap tenang. Di balik ketenangan itu, pikirannya bergerak lebih cepat dari yang ditunjukkan wajahnya.
Setiap pagi tanpa terkecuali, Lian Yuexin membantu ibunya menanam benih yang akan tumbuh menjadi sayur dan buah-buahan, mengisi air dari sungai, dan menyiapkan makanan yang akan dinikmati mereka bertiga. Tangannya terbiasa dengan semua itu dan ia tidak pernah mengeluh.
Terkadang, di saat-saat sendirian, Lian Yuexin duduk di atas batu besar di tepi bukit dan memandangi langit luas yang penuh awan putih. Di dalam hatinya tersimpan keinginan yang sulit dijelaskan, seolah kehidupan yang ia jalani hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Ia pernah bertanya pada ibunya, "Ibu, apakah dunia kita hanya sejauh bukit di dekat rumah? Apakah dunia ini sebenarnya lebih besar dan luas dari yang bisa kita lihat dari sini?"
Ibunya hanya tersenyum lembut, mengusap rambut Lian Yuexin, lalu menjawab, "Xin'er, kadang hati manusia lebih luas dari dunia itu sendiri. Jika kau benar-benar ingin mengetahuinya, maka suatu hari nanti jalanmu sendiri yang akan menuntunmu ke sana."
Hari-hari Lian Yuexin berjalan damai. Ia tetap membantu di ladang, merapikan kayu bersama ayahnya, dan kadang melanjutkan latihan mengukir kayu yang belum ia kuasai sepenuhnya.
Mentari pagi menembus celah dedaunan, menghangatkan halaman rumah sederhana mereka.
Di halaman, Lian Yuexin sibuk menimba air dari gentong besar. Gerakannya ringan karena sudah terlalu sering dilakukan. Ia menuangkan air ke dalam ember kayu, lalu membawanya masuk ke dapur.
"Ayah, Ibu, aku sudah menyiapkan air untuk memasak," ucap Lian Yuexin dengan suara jernih yang terdengar hingga ke telinga kedua orang tuanya.
Dari meja kerja yang dipenuhi serpihan kayu, Lian Haoyu menoleh sebentar dan tersenyum hangat kepada putrinya. "Xin'er, taruh saja di sudut dapur. Setelah itu bantu ibumu di ladang, hari ini kita harus menanam lebih banyak benih kacang."
"Iya, Ayah!" Lian Yuexin menjawab dengan semangat.
Mei Ruyin yang sedang menyiapkan sayuran menoleh sambil tersenyum. "Xin'er, sarapan dulu. Kau sering buru-buru sampai lupa makan."
Lian Yuexin terkekeh kecil, lalu duduk di bangku kayu. "Aku tidak lupa, Ibu. Hanya saja aku suka melihat ladang di pagi hari. Rasanya udara terasa lebih segar, seolah semua tumbuhan sedang menyambut ratunya, hmmpph!" Lian Yuexin memperagakan dirinya duduk tegak seperti seorang ratu, dagu terangkat dan tangan terlipat rapi di pangkuan.
Ayah dan ibunya tertawa melihat tingkah putri mereka. Mei Ruyin menggeleng pelan. "Kau ini. Selalu saja punya cara untuk membuat candaan sebelum makanannya habis."
Setelah sarapan bersama, mereka bertiga berangkat ke ladang kecil di dekat rumah. Ladang mereka dipenuhi tanaman hijau; beberapa sudah siap dipanen, sementara sebagian lainnya masih berupa tunas kecil yang baru muncul dari tanah.
Dengan keranjang bambu di sisinya, Lian Yuexin berjongkok dan menanam biji kacang satu per satu ke tanah yang sudah digemburkan ayahnya. Tangannya kotor oleh tanah, tapi wajahnya cerah dan tidak mencerminkan keberatan apapun.
"Ibu, kalau semua ini tumbuh, kita bisa panen sangat banyak. Mungkin bisa kita jual ke kota juga?"
Mei Ruyin mengangguk. "Benar, Xin'er. Tapi jangan hanya memikirkan hasilnya, nikmati juga prosesnya. Seperti hidup, yang indah bukan hanya tujuan akhirnya, tapi juga apa yang terjadi di sepanjang jalan."
Lian Yuexin menatap ibunya, lalu tersenyum tipis. "Ibu selalu berbicara seperti itu. Kadang aku merasa ibu adalah orang terbijak di seluruh desa ini."
Mei Ruyin hanya tertawa kecil, tidak menjawab langsung, dan kembali merapikan tanaman.
Setelah pekerjaan ladang selesai, Lian Yuexin naik ke bukit kecil di belakang desa. Angin berhembus pelan, menggerakkan rambut panjangnya ke satu arah lalu ke arah lain.
Dari atas sana ia bisa melihat seluruh desa. Rumah-rumah kayu berjajar rapi, anak-anak berlarian sambil tertawa, dan asap dapur mengepul tipis dari cerobong-cerobong yang sudah akrab dengan jam makan siang.
"Seandainya dunia ini benar-benar hanya seluas pandangan mataku, aku akan merasa sangat tenang," bisiknya pelan.
Lalu ia mendongak ke langit dan tertawa sendiri. "Tapi kalau ternyata dunia ini lebih luas, aku pasti akan menjelajahinya!"
Suara langkah kaki terdengar mendekat. Ayahnya datang membawa ukiran kayu yang belum selesai, tangannya masih menggenggam pahat.
"Xin'er, apa yang kau tertawakan?"
Lian Yuexin terkejut dan menoleh, lalu tersenyum sedikit malu. "Tidak, aku tidak tertawa."
"Apa kau pikir ayahmu sudah tidak bisa mendengar?"
Lian Yuexin tersenyum kecil. "Ayah, aku hanya berpikir bahwa dunia ini pasti sangat luas. Aku ingin melihatnya suatu hari nanti."
Lian Haoyu duduk di sampingnya dan menepuk bahunya dengan lembut. "Kalau kau ingin melihat dunia, maka kau harus pergi dari desa ini. Dan ingat, sejauh apapun kau pergi, rumah ini akan selalu menunggumu kembali."
Lian Yuexin menatap ayahnya, lalu mengangguk pelan. "Aku mengerti, Ayah."
Mereka berdua duduk diam sejenak, menikmati pemandangan desa dan langit biru yang luas. Burung-burung terbang bebas di udara, dan tidak ada yang perlu diucapkan untuk membuat momen itu terasa lengkap.
Hari itu berlanjut dengan damai. Lian Yuexin membantu ibunya menjemur hasil panen, sementara ayahnya menghaluskan ukiran kayu di halaman. Di sela-sela kesibukan itu, ia tertawa bersama teman-temannya, bermain di tepi sungai dan berbagi cerita kecil yang tidak akan diingat siapapun selain mereka.
Matahari mulai condong ke barat. Cahayanya memantul di permukaan sungai yang dangkal, dan suara anak-anak yang bermain air bercampur dengan kicauan burung sore.
Di tepi sungai, Lian Yuexin duduk dengan kaki terendam di air yang jernih. Di sampingnya duduk Su Linyao dan Han Meiyun, dua temannya yang lebih muda, keduanya sibuk mencoba menganyam rumput liar dengan hasil yang belum terlalu rapi.
"Lian Yuexin, kenapa kau bisa pandai menganyam?" Su Linyao bertanya sambil menatap kagum pada hasil anyaman di tangan Lian Yuexin.
Lian Yuexin tersenyum. "Bukan pandai, aku hanya sering mencobanya. Kalau kalian terus berlatih, aku yakin kalian juga bisa melakukannya. Bahkan lebih rapi dari punyaku."
Mereka tertawa kecil, lalu kembali asik dengan anyaman masing-masing. Lian Yuexin memandangi keduanya dengan senyum yang tidak ia sadari sudah ada di wajahnya sejak tadi. Hatinya terasa penuh oleh hal-hal kecil seperti ini.
Ketika matahari hampir tenggelam, Lian Yuexin berjalan pulang melewati jalan setapak yang sudah ia hafal sejak kecil. Setiap tikungan, setiap batu besar di pinggir jalan, setiap pohon yang akarnya mencuat ke permukaan tanah.
Sesampainya di rumah, ia mendapati ayahnya masih sibuk mengukir kayu. Berbagai patung dan benda setengah jadi memenuhi lantai di sekitar meja kerjanya.
"Ayah, belum selesai juga? Sudah banyak yang terukir."
Lian Haoyu menoleh sekilas, lalu terkekeh. "Kalau aku berhenti, bagaimana kita mendapatkan uang? Dan bagaimana kau bisa belajar mengukir dengan benar kalau tidak ada yang mengajarimu? Ini juga untukmu, Xin'er. Ayah ingin meninggalkan sesuatu yang berharga selain kenangan."
Lian Yuexin terdiam sejenak, menatap tangan ayahnya yang terus bergerak di atas kayu. Lalu ia perlahan menarik bangku dan duduk di seberang.
"Kalau begitu, biarkan aku menemanimu malam ini. Aku ingin belajar lebih banyak."
Malam itu, dengan cahaya lampu yang menerangi ruangan, Lian Yuexin menggenggam pisau ukir dengan hati-hati. Tangannya masih kaku dan beberapa kali hampir salah menggores, tapi ayahnya mengajarinya dengan sabar, mengarahkan tangannya pelan-pelan tanpa tergesa.
Mei Ruyin masuk membawa semangkuk sup hangat dan meletakkannya di tepi meja. "Kalian berdua, jangan lupa makan. Kalau terlalu serius, nanti ukiran kayunya yang menang."
Lian Yuexin terkekeh kecil. "Ibu, aku tidak sedang bekerja. Aku sedang belajar. Dan ini sangat menyenangkan."
Mei Ruyin menghela napas, tapi bibirnya tetap melengkung ke atas. "Xin'er, ibu hanya ingin kau tetap sehat dan bahagia."
Ucapan itu membuat Lian Yuexin berhenti sejenak. Ia menatap wajah ibunya, lalu kembali menunduk ke ukiran di tangannya.
"Ibu, jangan khawatir. Aku bahagia sekarang. Sangat bahagia!" Lian Yuexin mendongak dan tertawa lepas. Ayah dan ibunya yang mendengar pun ikut tertawa.
Malam berlanjut dengan suara pisau mengiris kayu, aroma sup yang masih mengepul, dan tawa yang muncul tanpa perlu alasan besar.
Keesokan harinya, saat matahari pagi kembali bersinar, Lian Yuexin bangun lebih awal seperti biasanya. Ia mencuci wajah dengan air dari tempayan, lalu menata rambut panjangnya dengan sederhana, cukup diikat agar tidak menghalangi saat bekerja.
Dari dapur terdengar suara ibunya yang sedang menyiapkan sarapan, sementara ayahnya sudah duduk di meja kerja menghaluskan ukiran yang belum selesai dari semalam.
"Xin'er, tolong bantu ayah membawa kayu ini ke halaman. Hari ini ayah ingin membuat meja baru."
"Iya, Ayah!" Lian Yuexin mengambil seikat kayu dan memeluknya dengan kedua tangan. Cukup berat, tapi ia membawanya keluar dengan langkah yang pasti.
Setelah itu, mereka sarapan bertiga seperti biasa.
Selesai makan, Lian Yuexin pergi ke ladang. Ia membersihkan rumput liar yang tumbuh di antara tanaman dan mengisi air untuk menyiram benih kacang yang baru ditanam kemarin. Cahaya pagi jatuh di atas ladang dengan sudut yang membuat semuanya tampak lebih cerah dari seharusnya.
Setelah pekerjaan selesai, ia menuju tepi sungai. Su Linyao dan Han Meiyun sudah menunggu di sana, berdiri dengan kaki terendam di air dangkal.
"Yuexin! Ayo cepat, hari ini kita berlomba menangkap ikan!" Su Linyao berseru sambil melambai.
Lian Yuexin tertawa. "Hati-hati, kalau kalian kalah jangan menangis."
Mereka berlarian di air dangkal, mencoba menangkap ikan-ikan kecil yang jauh lebih gesit dari yang terlihat. Han Meiyun hampir terjatuh dua kali. Su Linyao berhasil menangkap satu lalu melepaskannya lagi karena terkejut oleh gerakannya sendiri. Lian Yuexin tertawa sampai harus berpegangan pada batu agar tidak terpeleset.
Di tengah permainan itu, Lian Yuexin duduk sejenak di atas batu licin, membiarkan kakinya dibasahi air sementara memandangi kedua temannya yang masih berlarian.
"Yuexin, ayo main lagi!" Han Meiyun memanggil sambil melempar percikan air ke arahnya.
Lian Yuexin mengerutkan dahi pura-pura kesal, lalu membalas dengan percikan yang jauh lebih besar. "Terimalah ini!"
Mereka kembali bermain dan tertawa sampai sore hampir tiba. Setelah lelah, ketiganya beristirahat di bawah pohon rindang dan berbagi buah yang mereka bawa.
"Suatu saat nanti, kalian ingin menjadi apa?" Han Meiyun bertanya sambil mengupas kulitnya.
"Aku ingin menjadi ratu," jawab Su Linyao tanpa ragu. "Kalau kau, Yuexin?"
Lian Yuexin berpikir sejenak, matanya bergerak ke langit di atas pohon. "Aku ingin menjadi seseorang yang hebat. Aku ingin melindungi orang-orang yang kusayangi."
Han Meiyun dan Su Linyao saling memandang. "Maksudmu kau ingin menjadi orang kuat?"
Lian Yuexin mengangguk.
"Bukankah itu sulit? Dunia orang kuat sangat kejam, kata orang-orang."
"Benar. Tapi aku tetap akan berusaha." Lian Yuexin tidak mengalihkan pandangannya dari langit. "Aku akan menjadi seseorang yang hebat suatu hari nanti."
Han Meiyun merenung sejenak. "Kalau aku ingin menjadi ratu, apakah aku juga harus menjadi kuat?"
Su Linyao mencolek bahunya. "Tentu saja. Ratu yang hebat harus punya kekuatan sendiri, Han Meiyun."
Han Meiyun menatap keduanya dengan ekspresi bingung yang membuat Lian Yuexin dan Su Linyao tertawa keras bersamaan sampai suara mereka terdengar ke tepi sungai yang sudah mulai sepi.
