Mereka melewati portal keluar dari lantai empat belas dalam urutan terbalik dari masuk — Yeon-ji pertama, lalu Jun-hee, lalu Ha-eun, dan Hyun-woo terakhir.
Saat Hyun-woo melewati portal, ia merasakan sesuatu yang tidak ia rasakan saat masuk: tekanan ringan di bagian belakang kepalanya — bukan menyakitkan, lebih seperti seseorang yang meletakkan tangan di bahunya sebentar sebelum membiarkannya pergi.
Ia tidak menoleh.
Lantai tiga belas disambut oleh keheningan yang berbeda dari saat mereka meninggalkannya. Bukan keheningan kosong — keheningan yang terasa seperti sudah ada yang berubah, meskipun secara fisik tidak ada yang berbeda.
"Turun," kata Hyun-woo.
Tidak ada yang mempertanyakan ini.
Mereka turun dalam formasi yang sama seperti saat naik, tapi dengan energi yang berbeda. Bukan kelelahan — tapi seperti empat orang yang baru saja memproses sesuatu yang terlalu besar untuk langsung dicerna dan memilih untuk bergerak dulu, berpikir belakangan.
Di lantai delapan, Ha-eun berhenti.
"Istirahat sebentar," katanya.
Mereka duduk di dekat dinding — Ha-eun di atas batu yang cukup rata, Jun-hee berdiri dengan punggung di dinding, Yeon-ji duduk di lantai dengan lutut ditarik ke dada, Hyun-woo berdiri sedikit terpisah menghadap ke arah tangga yang mereka turunkan.
Matanya sudah kembali ke hitam.
Tapi ada sesuatu dalam cara Yeon-ji menatap matanya — sekilas, cepat, lalu berpaling — yang menunjukkan bahwa transisi tadi tidak akan mudah dilupakan.
"Jadi," kata Yeon-ji akhirnya. Suara yang mencoba terdengar normal tapi tidak sepenuhnya berhasil. "Tower ini bukan tentang penjajah."
"Tower ini bukan hanya tentang penjajah," koreksi Hyun-woo.
"Bedanya—"
"Signifikan."
Yeon-ji menatapnya. "Kamu selalu begitu?"
"Selalu bagaimana?"
"Tenang. Setelah percakapan seperti itu. Dengan... hal seperti itu." Yeon-ji mencari kata yang tepat dan tidak menemukannya. "Hal itu bilang ada pemilik bumi yang sedang tidur dan kamu mengangguk satu kali dan bilang 'kami akan kembali' seperti kamu baru saja selesai rapat singkat."
"Bereaksi berlebihan tidak mengubah informasinya."
"Tidak, tapi setidaknya terasa lebih manusiawi."
"Yeon-ji," kata Jun-hee pelan.
"Aku hanya—"
"Aku tahu." Jun-hee memotong dengan nada yang tidak keras tapi mengakhiri. Lalu ke Hyun-woo: "Apa yang kita lakukan dengan informasi ini?"
"Kita proses dulu," kata Hyun-woo. "Lalu kita putuskan apa yang perlu dilaporkan, kepada siapa, dan dalam urutan apa."
"Kamu sudah punya rencana."
"Aku punya kerangka. Rencana butuh lebih banyak variabel yang belum ada."
Ha-eun yang sudah duduk diam sejak tadi berbicara — matanya masih tertutup, tapi nada suaranya jelas dan langsung. "Ada satu hal yang perlu disampaikan ke dewan segera. Bukan semua yang Penjaga katakan — tapi satu hal."
"Apa?" tanya Hyun-woo.
"Bahwa tiga faksi penjajah datang bukan karena ingin menguasai bumi," kata Ha-eun. "Mereka datang karena mengetahui apa yang ada di bumi. Dan kalau dewan memahami ini — seluruh pendekatan aliansi terhadap ancaman ini harus berubah."
"Dari defensif ke—"
"Ke pemahaman," kata Ha-eun. "Kita tidak bisa mempertahankan sesuatu yang kita tidak mengerti."
Hyun-woo memproses ini.
"Kamu akan menyampaikan ini ke dewan."
"Kita," koreksi Ha-eun. "Kamu akan ada di sana. Kesaksian langsung dari yang merasakan Penjaga lebih penting dari laporanku."
"Kapan?"
"Dua hari. Aku perlu waktu untuk menyusun apa yang aku lihat dalam penglihatan tadi dengan apa yang kita alami secara langsung." Ha-eun membuka matanya. "Dan kamu perlu waktu untuk memutuskan berapa banyak yang akan kamu sampaikan."
"Aku menyampaikan semua yang relevan."
"Kamu menyampaikan semua yang kamu putuskan relevan," koreksi Ha-eun dengan nada yang tidak menghakimi tapi sangat tepat. "Beda."
Hyun-woo tidak menjawab ini karena itu benar.
Jun-hee berbicara saat mereka melewati lantai empat.
"Matamu."
Dua kata. Tapi cukup untuk membuat Yeon-ji yang berjalan di depan sedikit memperlambat langkahnya.
"Ya," kata Hyun-woo.
"Itu yang terjadi saat kamu menggunakan kekuatanmu."
"Saat aku membiarkannya."
Jun-hee berjalan sejajar dengannya sekarang, ekspresi yang sudah memproses banyak informasi malam ini dan masih menemukan ruang untuk satu lagi. "Seberapa sering itu terjadi?"
"Jarang. Aku jarang membiarkannya."
"Tapi tadi—"
"Tadi berbeda." Hyun-woo tidak menjelaskan lebih jauh. Tapi ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan berbeda yang menutup pertanyaan lanjutan dengan cukup bersih.
Jun-hee menerimanya.
"Sistem kami," katanya setelah beberapa langkah, "cara Penjaga itu berbicara tentang sistem — seperti itu sesuatu yang baru. Dibandingkan dengan apa yang kamu punya."
"Sistem adalah berkah kehendak bumi yang diberikan ketika bumi menyadari ada ancaman yang datang," kata Hyun-woo. "Cara yang cepat untuk menciptakan kekuatan dalam jumlah besar dalam waktu singkat."
"Dan kultivasi?"
"Sudah ada sebelum bumi perlu memilih cara yang cepat."
Jun-hee diam selama beberapa langkah.
"Itu berarti kultivator lebih tua dari sistem. Dan lebih tua berarti lebih dekat dengan—" Ia berhenti. "Dengan apa yang Penjaga bicarakan."
"Kemungkinan," kata Hyun-woo. "Tapi kemungkinan yang sudah cukup kuat untuk dipertimbangkan serius."
Mereka keluar dari tower pukul sebelas siang.
Cahaya matahari Seoul yang normal terasa terlalu cerah untuk beberapa detik pertama — efek kontras setelah jam-jam di dalam. Perimeter masih ada, drone masih berputar, tapi penjaga yang bertugas pagi ini berbeda dari yang bertugas malam itu dan tidak mengenali mereka.
Kecuali satu orang.
Mayor yang sama dari dua malam lalu berdiri di tepi perimeter dengan kopi di satu tangan dan ekspresi di wajahnya yang mengkomunikasikan bahwa ia sudah memutuskan untuk tidak terkejut dengan apapun yang keluar dari tower hari ini.
Matanya melihat empat orang. Berhenti di Hyun-woo. Lalu ke perempuan tua di sebelah Hyun-woo yang tidak ia kenali tapi yang membuat sesuatu dalam insting militernya yang sudah terlatih lama memilih untuk berdiri sedikit lebih tegak dari biasanya.
"Baek Hyun-woo," kata Mayor itu. "Kamu kembali."
"Seperti yang dijanjikan," kata Hyun-woo.
"Tujuh puluh dua jam belum habis."
"Aku tidak meninggalkan Seoul."
Mayor itu menatapnya cukup lama. Lalu ke Ha-eun. "Dan rekanmu?"
"Konsultan independen," kata Hyun-woo. "Spesialis analisis energi dimensi."
Ha-eun tidak mengatakan apapun, yang dalam konteksnya terasa lebih meyakinkan dari penjelasan apapun.
Mayor itu menghela napas dengan cara seseorang yang sudah memutuskan bahwa ada pertempuran yang perlu dipilih dan ini bukan salah satunya. "Wawancara lanjutan. Besok pagi."
"Siap," kata Hyun-woo.
Bersambung.....
