Taman pusat H2700 masih dipenuhi cahaya keemasan senja.
Langit tampak damai.
Storm duduk berdampingan dengan Arabels di bangku kayu menghadap danau buatan. Pantulan awan di permukaan air terlihat seperti potongan langit lain yang terbalik.
Untuk beberapa saat, mereka hanya menikmati diam.
Lalu Arabels berbicara.
"Aku sudah memutuskan sesuatu."
Storm menoleh pelan.
"Keputusan besar?"
Arabels tersenyum kecil, tapi matanya bersinar serius.
"Aku ingin menjadi navigator angkasa. Astrogator kapal luar angkasa."
Storm sedikit terkejut.
"Langsung ke luar orbit?"
"Bukan cuma orbit," jawabnya pelan. "Aku ingin memetakan jalur antar-bintang. Menghitung lintasan gravitasi. Membuka rute baru yang belum pernah dilalui manusia."
Ia menatap langit.
"Dunia ini terasa semakin kecil. Tapi semesta… masih luas. Aku ingin jadi orang yang membantu manusia menembusnya."
Storm terdiam.
Ia sendiri baru saja menghancurkan dimensi keempat dan melawan entitas kosmik, sementara Arabels memimpikan perjalanan damai di antara bintang.
"Kak Rem tahu," lanjut Arabels lembut, "aku selalu menyukai langit. Bahkan saat semua orang takut melihatnya."
Storm tersenyum tipis.
"Itu cocok untukmu."
Arabels memandangnya.
"Ayah juga bilang begitu."
Nama itu membuat Storm sedikit menegang.
"Pak tua Robert?" tanyanya pelan.
Arabels mengangguk.
"Ayah sudah mengatur semuanya."
"Semua?"
Arabels menarik napas perlahan.
"Tentang pertunangan kita."
Angin senja berhembus lebih dingin sesaat.
Storm menatapnya tanpa suara.
"Satu bulan lagi," lanjut Arabels. "Ayah ingin semuanya jelas sebelum aku masuk akademi navigasi orbital."
Storm mencoba mencerna kata-kata itu.
Satu bulan sebelum ia secara resmi terikat dengan seseorang yang bisa menjadi target entitas kosmik mana pun yang mengincarnya.
"Kenapa secepat itu?" tanyanya akhirnya.
Arabels tersenyum samar.
"Ayah bukan orang bodoh."
Ia menunduk sebentar sebelum melanjutkan.
"Dia tahu kak Rem bukan manusia biasa."
Kalimat itu jatuh tenang—tanpa tuduhan, tanpa ketakutan.
Storm merasakan denyut jantungnya sedikit berubah.
"Ayah bilang… ada sesuatu di matamu yang bukan milik dunia ini," lanjut Arabels pelan. "Dan dia yakin kak Rem menyimpan banyak misteri tentang kekuatanmu."
Storm terdiam.
Robert bukan sekadar ayah. Ia mantan analis strategis militer Aksrega United. Jika ia mencurigai sesuatu—
Maka ia mungkin sudah mengumpulkan potongan-potongan informasi.
"Ayah tidak takut padamu," kata Arabels.
"Dia justru percaya."
Storm menatapnya.
"Percaya?"
"Dia bilang, jika suatu hari dunia ini berada di ambang kehancuran… kak Rem akan berdiri di garis depan."
Langit di atas mereka memantulkan cahaya oranye terakhir sebelum malam.
Velora berbisik samar di dalam benaknya.
"Manusia itu tajam. Ia melihat lebih dari yang kau kira."
Storm mengabaikannya untuk sesaat.
"Apa kak Rem tidak takut?" tanyanya pada Arabels.
Arabels menggeleng pelan.
"Aku hanya takut jika kau menjauh tanpa alasan."
Kalimat itu lebih menusuk daripada ancaman APH.
Storm menatap danau, lalu kembali ke langit.
Entitas-entitas asing mungkin mengawasinya.
Pahlawan mungkin sedang memindai kota.
APH mungkin hanya tinggal selangkah lagi.
Namun di bangku taman ini—
Ia hanya seorang pria yang akan bertunangan dalam satu bulan.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti," ucap Storm pelan.
"Dunia ini tidak stabil. Banyak hal bergerak di balik layar."
Arabels tersenyum lembut.
"Kalau begitu, biarkan aku jadi navigator."
Storm mengerutkan kening tipis.
"Aku tidak hanya ingin memetakan jalur kapal," lanjutnya.
"Aku juga ingin memetakan jalanmu. Kalau kak Rem tersesat… aku akan menarikmu kembali."
Hening sejenak.
"Satu bulan lagi," gumamnya.
Arabels mengangguk.
"Ya, kak Rem."
Langit mulai menggelap.
Bintang pertama muncul.
Storm menatapnya dengan makna berbeda dari sebelumnya.
Bintang bukan hanya medan perang.
Bukan hanya tempat entitas kosmik bersemayam.
Bintang juga tujuan.
