Taman pusat H2700 dipenuhi cahaya sore yang lembut.
Pepohonan buatan berdaun perak berkilau diterpa matahari, dan danau kecil di tengah taman memantulkan langit biru yang tampak begitu damai—seolah dunia tak pernah hampir runtuh beberapa hari lalu.
Storm duduk di bangku kayu sintetis, tanpa jaket hitamnya, tanpa aura kosmik yang biasa mengelilinginya.
Hari ini, ia hanya ingin menjadi… manusia biasa.
Langkah kaki pelan mendekat.
Kekasihnya.
Rambutnya tergerai ringan, seragam kelulusannya sudah diganti pakaian kasual sederhana. Wajahnya tampak lebih santai dibanding beberapa hari terakhir.
"Kamu terlihat seperti orang yang sedang memikirkan isi semesta, kak Rem" katanya sambil duduk di samping Storm.
Storm tersenyum kecil.
"Semesta terlalu luas untuk kupikirkan sendirian."
Arabels tertawa pelan.
Untuk beberapa detik, mereka hanya duduk dalam diam.
Angin berhembus lembut. Anak-anak berlarian di kejauhan. Seekor drone burung buatan terbang rendah di atas danau.
Storm menutup mata sejenak.
Ia mencoba merasakan taman ini saja.
Bukan retakan dimensi.
Bukan jejak entitas asing.
Bukan suhu dingin yang perlahan menyebar di sudut kota.
Hanya suara daun.
Hanya napasnya sendiri.
"Aku lulus, kak Rem" ucap Arabels tiba-tiba, nada suaranya ringan namun ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya.
"Aku tahu," jawab Storm pelan.
"Aku melihatnya."
Arabels menoleh.
"Kak Rem selalu melihatku dari jauh."
Kalimat itu tidak terdengar sebagai tuduhan. Lebih seperti pengakuan yang tenang.
Storm membuka mata, menatap permukaan danau yang berkilau.
"Aku tidak ingin kau ikut terseret."
"Terseret ke mana?"
Storm terdiam.
Ia tidak bisa mengatakan bahwa entitas kosmik mengintai. Bahwa pahlawan APH sedang menyisir kota. Bahwa langit di atas mereka mungkin hanya sementara tampak utuh.
Arabels menatapnya lebih lama.
"Akhir-akhir ini… kak Rem terasa jauh. Bahkan saat duduk di sebelahku."
Angin berhembus lagi, membawa hawa dingin tipis.
Velora berbisik pelan di dalam benaknya.
"Pahlawan itu masih memindai."
Storm menahan napas sesaat.
Ia ingin mengabaikannya.
Untuk satu sore saja.
"Aku hanya lelah," katanya akhirnya.
"Kadang aku ingin dunia berhenti sebentar."
Arabels tersenyum kecil.
"Aku juga."
Ia menunduk, menatap rumput yang bergoyang pelan.
"Setelah lulus… aku tidak tahu harus jadi apa. Dunia terasa tidak stabil. Tapi entah kenapa, selama kak Rem ada… aku merasa masih ada sesuatu yang bisa dipegang."
Storm menoleh cepat.
Kata-kata itu terasa lebih berat dari serangan kosmik mana pun.
Ia ingin berkata bahwa ia akan selalu melindunginya.
Namun ia tahu—
Semakin dekat Arabels dengannya, semakin besar risiko yang mengintai.
Langit di atas mereka tampak biru sempurna.
Tapi Storm bisa melihat garis tipis hampir tak kasat mata—bekas jahitan realitas yang pernah pecah.
Dan mungkin masih rapuh.
"Arabels…" suaranya pelan.
"Apa pun yang terjadi nanti… jangan takut pada langit."
Arabels mengerutkan kening.
"Itu kalimat yang aneh, kak Rem."
Storm tersenyum samar.
"Anggap saja sebagai nasihat."
Hening kembali menyelimuti mereka.
Untuk beberapa menit, Storm membiarkan dirinya tenggelam dalam suasana taman—suara air, aroma rumput, kehangatan matahari sore.
Ia menyadari sesuatu.
Di antara perang dimensi dan ancaman kosmik—
Momen seperti inilah yang membuatnya tetap bertahan.
Bukan kekuatan.
Bukan kehancuran.
Bukan Black Hole.
Melainkan alasan untuk melindungi.
Namun untuk sekarang—
Ia hanya ingin duduk di bangku taman, di samping Arabels, dan berpura-pura bahwa dunia tidak sedang mengawasi mereka dari balik langit yang tampak tenang.
