Langit H2700 berubah menjadi medan perang sunyi.
Merah dan biru terus bertabrakan di atas bukit distrik elite. Scarlet Skycrimson menyala seperti bara hidup di tengah badai es yang tak kunjung reda.
Storm melesat menembus udara, menghindari formasi robot es yang terus beregenerasi. Setiap gerakannya liar, tak terduga—kadang melesat lurus, kadang tiba-tiba menghilang dari lintasan gravitasi lalu muncul di sisi lain.
Lgris mengamati dari atas.
Matanya tetap setenang danau beku, namun napasnya mulai membentuk kabut lebih tebal.
"Kau bergerak seperti makhluk yang belum sepenuhnya manusia," ucapnya pelan.
Storm tidak menjawab.
Ia menghancurkan dua robot es dengan satu ayunan tangan berlapis energi merah. Namun setiap celah yang ia buka selalu tertutup kembali oleh kontrol presisi Lgris.
Bukan karena Lgris lebih kuat.
Melainkan karena ia mengatur tempo.
Mengurung.
Menguji.
Namun Storm terlalu sulit diprediksi.
Setiap kali medan pembekuan mengunci ruang geraknya, gravitasi Storm melipat celah kecil dan ia lolos seperti bayangan.
Lgris akhirnya menurunkan tangannya.
Robot-robot es berhenti menyerang.
Udara menjadi lebih sunyi.
Storm melayang beberapa meter di atas tanah, armor crimson berdenyut stabil.
"Sulit sekali menangkapmu," kata Lgris datar.
"Aku tidak punya waktu untuk bermain terlalu lama."
Langit di atas mereka tiba-tiba menggelap.
Bukan karena awan.
Melainkan karena suhu turun drastis dalam radius luas.
Permukaan jalan membeku total. Pepohonan taman sekitar membeku dalam kristal putih tipis. Bahkan udara terasa berat.
Storm menoleh ke langit.
Velora berbisik pelan.
"Ia memanggil sesuatu yang lama."
Lgris mengangkat kedua tangannya ke langit.
Lingkaran es raksasa terbentuk di atas kota, jauh lebih besar dari portal robot-robot sebelumnya.
Lingkaran itu berputar perlahan, memancarkan cahaya biru yang dalam.
"Bangunlah," ucap Lgris dengan suara rendah namun bergema.
Dari dalam lingkaran es—
Terdengar suara berat.
Seperti retakan gunung es purba.
Cakar raksasa muncul lebih dulu, mencengkeram tepi portal.
Lalu kepala bersisik kristal perlahan keluar.
Mata biru menyala seperti inti bintang beku.
Tubuhnya panjang dan megah, sayapnya membentang lebar dengan serpihan es tajam seperti bilah pedang.
Nafasnya bukan api.
Melainkan badai salju pekat.
Varentha Draco. Monster naga es purba yang konon pernah membekukan satu benua sebelum ditaklukkan.
Ia meraung—tanpa suara, namun gelombang dinginnya menyapu seluruh langit H2700. Kaca-kaca gedung bergetar. Sensor suhu kota melonjak drastis ke angka anomali.
Storm menatap makhluk itu tanpa gentar, namun auranya sedikit berubah.
"Jadi ini kartu terakhirmu," gumamnya.
Lgris melayang naik, berdiri di udara setinggi kepala naga itu.
"Varentha Draco telah tunduk di bawah kendaliku," ucapnya tenang.
"Jika ada entitas asing di dalam dirimu… ia akan bereaksi terhadap tekanan purba."
Varentha membuka mulutnya.
Badai es terkondensasi di dalamnya—sebuah sinar pembekuan yang mampu mengunci molekul hingga tingkat energi.
Storm mengepalkan tangan.
Scarlet Skycrimson menyala lebih terang.
"Jangan arahkan ke kota, Sialan" katanya tegas.
Lgris menatapnya sekilas.
"Kalau begitu, jangan sampai lengah."
Varentha menembakkan semburan es raksasa.
Storm melesat ke samping, namun bukan untuk menghindar sepenuhnya.
Ia memutar gravitasi di sekelilingnya.
Sinar pembekuan melengkung, terseret medan merah dan menghantam langit kosong di atas laut jauh dari kota.
Awan membeku dan hancur seperti kristal.
Varentha mengepakkan sayapnya.
Setiap kepakan menciptakan bilah-bilah angin es yang meluncur tajam.
Storm menerobos salah satunya, armor crimson memercik saat bilah es menggores lapisan energinya.
Armor Scarlet Skycrimson retak tipis di satu sisi bahu.
Lgris menyipitkan mata.
"Tekanan purba sudah bekerja."
Velora berbisik lebih dalam kali ini.
"Makhluk itu tua… lebih tua dari peradaban manusia. Ia membawa sisa resonansi zaman es semesta."
Storm menatap naga raksasa yang kini melingkar di udara seperti badai hidup.
Jika ia terus menahan diri—
Pertarungan ini akan berlarut.
Jika ia melepaskan Black Hole—
Langit H2700 mungkin tidak akan utuh lagi.
Varentha meraung lagi dan menukik turun.
Bayangannya menelan jalanan.
Storm berdiri tegak di tengah jalan beku, aura merahnya berdenyut seperti jantung kosmik.
"Baiklah…" gumamnya pelan.
Gravitasi di sekitar tubuhnya mulai bergetar lebih dahsyat.
