Cherreads

Chapter 371 - Perintah Mundur

Langit malam H2700 kembali sunyi.

Sisa kristal es menguap menjadi kabut tipis, larut dalam cahaya kota. Retakan dimensi telah tertutup, meninggalkan hanya bekas samar seperti goresan tak kasat mata di atas langit.

Storm berdiri melayang, napasnya perlahan kembali stabil.

Di atap gedung seberangnya—

Lgris masih berlutut, armor kristalnya dipenuhi retakan besar. Ice Sword telah lenyap. Domain yang selama ini menjadi kebanggaannya… telah hancur.

Marika mendarat di sampingnya, rantai emasnya kembali melingkar di lengannya.

Rizen turun tak jauh dari mereka, masih memegangi dadanya yang sempat terkunci tekanan ruang.

Keheningan terasa berat.

"Apa kita lanjutkan duelnya?" tanya Marika pelan, meski sorot matanya menunjukkan keraguan.

Rizen menggeleng tipis.

"Dalam kondisi ini… peluangnya tidak menguntungkan bagi kita."

Lgris tidak langsung menjawab.

Ia menatap Storm.

Remaja itu tidak mengejar.

Tidak menyerang.

Tidak memprovokasi.

Hanya berdiri… seolah pertarungan tadi hanyalah sesuatu yang perlu diselesaikan, bukan dimenangkan.

Tiba-tiba—

Udara bergetar pelan.

Sebuah lingkaran cahaya abu-abu tua terbuka di langit, membentuk portal dengan pola mekanis dan simbol kuno.

Aura yang keluar darinya jauh lebih tua… dan jauh lebih berat.

Seorang pria tinggi dengan mantel panjang gelap melangkah keluar.

Rambutnya keperakan, wajahnya tenang namun dipenuhi garis pengalaman panjang. Matanya tajam seperti pisau bedah.

Tetua APH, Franskeinsteins Lywara. Kehadirannya saja membuat atmosfer berubah.

Marika dan Rizen langsung menunduk hormat.

Lgris berusaha berdiri meski tubuhnya gemetar.

"Kakek Lord Lywara…"

Franskeinsteins memandang ke arah Storm beberapa detik tanpa bicara. Sorot matanya bukan marah.

Melainkan… menilainya.

Lalu ia berbicara datar.

"Sudahi sampai disini."

Satu kata.

Namun tak terbantahkan.

"Misi penangkapan dihentikan."

Marika terkejut.

"Tapi Tetua, entitas asing itu—"

"Aku tahu apa yang kulihat," potongnya tenang.

Tatapannya beralih ke Lgris.

"Kau sudah melampaui batas aman. Domain-mu hancur. Jika kau memaksakan diri, kau hanya akan kehilangan lebih dari sekadar kehormatan."

Lgris menggertakkan gigi.

Ia membenci kenyataan itu.

Namun ia tahu.

Dalam kondisi sekarang—

Melawan lagi berarti bunuh diri.

Akhirnya ia menundukkan kepala.

"…Saya mengerti."

Franskeinsteins memutar tubuhnya sedikit.

"Kita mundur."

Portal abu-abu kembali melebar.

Namun sebelum mereka masuk—

Suara langkah ringan terdengar dari belakang Storm.

Jester berjalan santai di udara, memutar satu kartu di antara jarinya. Senyumnya tipis, namun matanya serius.

"Oi, Pahlawan Es."

Lgris menoleh dingin.

Jester menjentikkan kartu itu ke udara.

Kartu Arcana Emperor-Cahayanya berkilau emas tua.

Di dalamnya terlihat siluet naga es purba yang meraung dalam segel dimensi: Varentha Draco.

Kartu itu melayang pelan menuju Lgris.

"Ambil kembali mainanmu," kata Jester ringan.

"Aku hanya menyegelnya supaya kota tidak rata."

Lgris menangkap kartu itu dengan tangan retaknya.

Ia menatap gambar naga es di dalamnya.

"Kenapa kau mengembalikannya?" tanyanya.

Jester menyeringai kecil.

"Karena ini bukan perang."

Keheningan kembali turun.

Franskeinsteins memperhatikan interaksi itu tanpa komentar.

Lgris menatap Storm sekali lagi.

"Ini belum selesai, Aku akan membalasmu nanti."

Storm menjawab tenang.

"Aku tahu itu."

Portal berdenyut.

Satu per satu—

Marika, Rizen, dan akhirnya Lgris melangkah masuk ke dalamnya.

Portal tertutup.

Langit kembali normal.

Angin malam berhembus lembut, seolah pertarungan dahsyat barusan hanyalah ilusi.

Storm perlahan turun ke atap gedung.

Napstylea mendekat dari kejauhan.

Jester menyelipkan kartu-kartunya kembali ke saku dalam mantelnya.

More Chapters