Malam turun sepenuhnya di atas H2700.
Kubah observatorium X.A.R.A terbuka perlahan, memperlihatkan langit yang bersih tanpa awan. Ribuan bintang berpendar di atas kota seperti lautan cahaya tak bertepi.
Namun malam itu berbeda.
Balkon dan lantai observatorium dipenuhi orang.
Teknisi. Ilmuwan. Pegawai administratif. Bahkan beberapa staf keamanan.
Semua berkumpul dengan rasa penasaran yang sama.
Mereka ingin melihat dua nama yang sejak siang tadi menjadi bahan bisik-bisik.
Gadis calon Navigator.
Dan pemuda misterius yang "membangunkan" Nexus.
Aryes berdiri di sisi kanan panggung observasi, tangannya di belakang punggung. Violys berada tak jauh darinya, tablet di tangan, siap mencatat setiap hasil.
"Ujian dimulai sekarang," kata Aryes dengan suara yang cukup terdengar.
Lampu sekitar diredupkan hingga hampir gelap total.
Hanya cahaya bintang yang menerangi wajah Storm dan Arabels.
Arabels melangkah maju terlebih dahulu.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Langit malam memantul di matanya.
"Bintang paling terang di sektor timur—Virellion," ucapnya mantap.
Violys langsung memindai.
Benar.
Beberapa teknisi mengangguk pelan.
Arabels terus menunjuk, berpindah dari satu gugusan ke gugusan lain.
"Itu Darsythe… jarak estimasi 420 tahun cahaya."
"Di sebelahnya, klaster minor Helior."
"Di atasnya—bintang variabel kecil, kemungkinan dalam fase redup."
Setiap kali ia menyebutkan nama dan arah, sistem pemindai mengonfirmasi.
Benar.
Benar lagi.
Bisik-bisik kagum mulai terdengar.
"Dia menghafal semua itu?"
"Tidak, dia membaca pola…"
Arabels tidak sekadar mengingat.
Ia memahami posisi relatif, kemiringan orbit, dan kedalaman cahaya.
Aryes memperhatikan dengan mata tenang.
Violys tersenyum tipis.
"Dia bukan hanya cerdas," gumamnya.
"Dia merasakan peta."
Beberapa menit berlalu.
Arabels akhirnya menurunkan tangannya perlahan.
"Itu yang bisa kulihat dengan jelas," katanya, sedikit terengah tapi tersenyum puas.
Tepuk tangan kecil terdengar dari beberapa sudut.
Kemudian—
Semua mata beralih pada Storm.
Ia berdiri diam sejak tadi.
Tidak menunjuk.
Tidak berbicara.
Hanya menatap langit.
"Tuan Rem," panggil Aryes tenang.
"Giliranmu."
Keheningan turun.
Storm tidak langsung bergerak.
Ia tidak melihat bintang sebagai titik cahaya.
Ia melihatnya sebagai tekanan kecil dalam kain ruang.
Sebagian berdenyut kuat.
Sebagian hampir tak terasa.
Ia mengangkat tangannya perlahan.
Tidak ke arah bintang paling terang.
Bukan pula gugusan yang mudah dikenali.
Tangannya menunjuk ke sudut barat laut langit.
Ke sebuah titik yang nyaris tak terlihat.
Beberapa orang menyipitkan mata.
"Itu hanya noise cahaya…" bisik seorang teknisi.
Storm berbicara pelan.
"Bintang kelas biru tua… intensitas cahaya rendah… sangat jauh."
Violys segera mengaktifkan pemindai resolusi tinggi.
Beberapa detik.
Sepuluh detik.
Dua puluh detik.
Grafik mulai muncul.
Deteksi sinyal lemah.
Aryes menyipitkan mata.
"Perbesar sektor itu."
Resolusi dinaikkan.
Lalu—
Titik kecil muncul di layar.
Redup.
Hampir tenggelam dalam latar belakang kosmik.
Data estimasi jarak muncul perlahan.
Salah satu objek terjauh yang masih bisa ditangkap teleskop orbit X.A.R.A.
Ruang observatorium menjadi hening.
"Tidak mungkin…" gumam salah satu ilmuwan.
Storm belum selesai.
Ia menggeser jarinya sedikit ke kanan.
"Ada satu lagi," katanya.
Kali ini lebih redup.
Hampir tak terlihat bahkan di layar awal.
Violys meningkatkan sensitivitas hingga batas maksimum.
Sistem memperingatkan kemungkinan distorsi.
Namun akhirnya—
Sinyal mikro terdeteksi.
Bintang katai jauh di tepi batas pengamatan.
Beberapa orang tanpa sadar menahan napas.
Storm menurunkan tangannya.
"Aku tidak tahu namanya," katanya datar.
"Aku hanya melihatnya."
Bukan melihat dengan mata—
Melainkan dengan sesuatu yang lebih dalam.
Keheningan menggantung beberapa detik.
Lalu suara lirih terdengar dari salah satu teknisi senior.
"Itu… di luar katalog utama."
Violys menatap layar dengan tatapan serius.
"Koordinatnya valid," katanya pelan.
"Dan jaraknya… melampaui yang kita perkirakan dari titik observasi kota ini."
Aryes memandang Storm dengan sorot yang sulit dibaca.
Arabels berdiri di samping Storm, menatapnya dengan kagum.
"Kamu menemukan yang paling jauh sayang…" bisiknya.
Storm tidak tersenyum.
Baginya itu bukan prestasi.
Itu hanya arah yang terasa paling sunyi.
Di antara ribuan cahaya—
Ia memilih yang hampir tak terlihat.
Dan justru itu yang membuat seluruh ruangan terdiam.
Bukan karena terang.
Bukan karena megah.
Namun karena hampir tak seorang pun percaya bahwa titik redup itu benar-benar ada.
Aryes akhirnya melangkah maju.
"Ujian selesai."
Suaranya tenang, namun mengandung bobot keputusan.
"Arabels Everyn Krysren," lanjutnya,
"Kau memiliki insting dan pengetahuan seorang Navigator."
Ia beralih pada Storm.
"Dan kau… melihat lebih jauh dari yang bisa diukur oleh mata biasa."
Violys menutup tabletnya perlahan.
"X.A.R.A tidak hanya mencari orang yang tahu nama bintang," katanya.
"Kami mencari mereka yang mampu menemukan yang belum diberi nama."
Di atas mereka—
Langit tetap sunyi.
Namun malam itu, di bawah tatapan puluhan saksi—
Dua nama telah membuktikan diri.
Satu dengan pengetahuan.
Satu dengan insting.
Dan di kejauhan—
Bintang paling redup itu tetap bersinar,
seolah menunggu seseorang benar-benar datang mencarinya.
