Risveyland sunyi.
Angin kering berhembus pelan melewati tanah retak dan kawah-kawah besar bekas benturan.
Naga berkepala lima itu berdiri beberapa puluh meter dari Storm yang masih berlutut di tanah.
Petir masih berdesis di sela-sela sisiknya.
Salah satu kepalanya menunduk, membuka rahang, listrik berkumpul di dalamnya—
Siap mengakhiri.
Storm menunduk.
Napasnya berat.
Armor Scarlet Skycrimson belum kembali.
Mode Ashura telah hilang.
Namun matanya—
Tetap tenang.
Velora berbisik lirih di dalam kesadarannya.
"Tubuhmu di ambang batas. Jika kau memaksakan pelepasan energi besar tanpa armor—"
Storm perlahan berdiri.
"Tidak perlu armor… untuk menjadi badai."
Ia mengangkat satu tangan ke arah tanah.
Udara berubah.
Bukan panas.
Bukan listrik.
Tapi dingin.
Suhu turun drastis dalam hitungan detik.
Rumput kering membeku.
Debu yang beterbangan mengkristal di udara.
Naga itu berhenti sejenak, kelima kepalanya menoleh waspada.
Storm membuka kedua matanya penuh.
Cahaya biru menyala dari dalam pupilnya.
"Ice Emperor."
Ia menghentakkan kakinya ke tanah.
Dalam sekejap—
Gelombang es menyebar dari titik pijakannya.
Seperti lautan putih yang meledak keluar, membekukan tanah, batu, bahkan sisa api yang masih menyala.
Risveyland berubah warna.
Dari dataran cokelat gelap—
Menjadi samudra kristal beku.
Embun beku membentuk tiang-tiang es raksasa yang menjulang dari tanah.
Angin kini membawa serpihan salju tipis.
Langit yang tadi dipenuhi petir kini dipenuhi kristal es yang memantulkan cahaya bulan.
Naga itu meraung, petirnya menyambar ke tanah—
Namun petir yang menyentuh permukaan beku justru menyebar tak stabil, terpecah oleh lapisan kristal yang memantulkan arus listrik.
Dalam hitungan detik, kaki naga mulai membeku.
Es merambat naik melalui tanah, membelit cakarnya.
Ia mencoba mengepakkan sayap—
Namun udara di sekitarnya menjadi berat dan dingin, membentuk kabut beku yang memperlambat gerakannya.
***
Di udara, Arabels terdiam melihat layar yang berubah drastis.
"Suhu turun ekstrem… ini hampir mustahil untuk kulihat…"
Zero menggeleng pelan.
"Dia mengubah seluruh wilayah dalam satu pelepasan…"
Lira berbisik kagum,
"Ini bukan sekadar membekukan… ini dominasi elemen."
***
Di daratan es itu—
Storm melangkah maju perlahan.
Setiap langkahnya meninggalkan jejak kristal berbentuk mahkota kecil.
Tombak es raksasa muncul di sekelilingnya, melayang tanpa disentuh.
Rambutnya tertiup angin dingin, napasnya berubah menjadi kabut putih.
Naga itu meraung dan memanggil badai petir lagi—
Namun awan badai yang terbentuk kini membeku dari dalam, serpihan es jatuh seperti hujan pecahan kaca.
Storm memajukan tangannya.
"Di wilayahku… petirmu membeku."
Dengan satu gerakan—
Puluhan tombak es melesat ke arah naga, mengunci sayap, leher, dan tubuhnya ke tanah beku.
Benturan terdengar berat, kristal pecah berkilauan.
