Cherreads

Chapter 397 - Sebelum Hari Bahagia

Beberapa minggu berlalu sejak pertempuran di Risveyland.

Kawah raksasa itu kini sudah ditutup sebagian oleh proyek rekonstruksi pemerintah. Berita tentang "fenomena meteor aneh" perlahan tenggelam oleh isu-isu lain.

Di markas X.A.R.A, aktivitas berjalan normal.

Zero kembali tenggelam dalam pengembangan sistem navigasi Nexus S-4473.

Lira sibuk meneliti simbol kuno yang ditemukan dari arsip lama.

Violys mengawasi uji coba mesin dengan penuh fokus.

Aryes tetap seperti biasa—tenang, misterius, mengamati banyak hal tanpa terlihat mencampuri.

***

Di tengah kesibukan itu—

Ada satu kabar yang berbeda.

Pertunangan Storm dan Arabels tinggal beberapa hari lagi.

Tidak diumumkan besar-besaran.

Tidak ada pesta megah.

Hanya lingkaran kecil—tim X.A.R.A, beberapa perwakilan kota, dan sedikit tamu undangan.

Arabels terlihat lebih sering tersenyum akhir-akhir ini.

Namun Storm—

Justru semakin sering terdiam.

Sore itu, Storm berdiri sendirian di balkon tertinggi markas X.A.R.A.

Langit senja memantulkan warna jingga keemasan di antara gedung-gedung H2700.

Arabels menemukannya di sana.

"Kak Rem sering sekali ke sini belakangan ini."

Storm tidak langsung menoleh.

"Langit lebih mudah dipahami daripada manusia."

Arabels tersenyum kecil, lalu berdiri di sampingnya.

"Apa kak Rem gelisah."

Storm menghela napas pelan.

"Jika pahlawan APH muncul sebelum hari itu… aku tidak punya alasan untuk mundur."

Arabels terdiam.

Ia tahu maksudnya.

Meskipun Grayrat berterima kasih.

Meskipun Aryes melindungi keberadaannya.

Meskipun untuk sementara tidak ada pengejaran terbuka—

Status Storm tetap abu-abu.

"APH tidak bergerak sejak insiden naga," kata Arabels pelan.

"Karena mereka tidak punya bukti untuk menahanku," jawab Storm. "Bukan karena mereka percaya padaku."

Angin sore berhembus.

"Aku tidak ingin hari itu berubah menjadi medan perang," lanjut Storm. "Jika mereka datang… aku akan melawan."

Arabels menatapnya.

"Tapi jika kak Rem melawan, kak Rem akan semakin dianggap ancaman."

Storm tidak membantah.

Hening beberapa detik.

"Apa kak Rem takut?" tanya Arabels pelan.

Storm berpikir sejenak.

"Bukan untuk diriku."

Ia akhirnya menoleh padanya.

"Aku tidak ingin kau terjebak di antara pihak-pihak yang mengincarku."

Arabels tersenyum lembut.

"Aku sudah memilih."

"Kak Rem masih bisa mundur."

"Dan membiarkanmu sendirian?" Arabels menggeleng pelan. "Tidak."

Langit perlahan berubah gelap. Bintang pertama mulai muncul.

Storm menatap cahaya kecil itu.

Jika APH benar-benar datang—

Ia tidak akan berada dalam kondisi puncak.

Arabels meraih tangannya pelan.

"Jika mereka datang," katanya, "Kita hadapi bersama. Tapi jangan biarkan bayangan kemungkinan merusak hari yang bahkan belum terjadi."

Storm menatap tangan mereka yang saling menggenggam.

Beberapa waktu lalu, tangannya membekukan meteor.

Sekarang, tangannya terasa hangat.

"Aku tidak pandai berharap," gumamnya.

"Kalau begitu," jawab Arabels lembut, "Biar aku yang berharap."

Di bawah mereka, kota H2700 berkilau oleh lampu malam.

More Chapters