Cherreads

Chapter 527 - Tenang di Tengah Kekacauan

Suasana semakin tegang.

Kilatan petir dari Ulra T-34 kini memenuhi layar. Setiap detik — ancaman semakin nyata. Kru sibuk di posisi masing-masing. Namun kepanikan tidak bisa disembunyikan.

---

Aryes terus mengawasi jalur. Violys menghitung ulang kemungkinan. Proxi 5R menampilkan simulasi demi simulasi.

Namun di tengah semua itu — ada satu hal yang terasa janggal.

---

Storm.

Ia duduk di kursinya. Tenang. Tidak bergerak. Tidak panik. Seolah badai di depan mereka — bukan masalah besar.

Aryes melirik ke arahnya. Keningnya sedikit berkerut. "…Dia santai sekali."

Violys juga memperhatikan. "…Tidak seperti biasanya."

Proxi 5R memproses. Namun tidak memberikan komentar.

---

Salah satu kru berbisik. "Apakah dia tidak mengerti situasinya…?"

Yang lain menggeleng pelan. "Tidak mungkin."

---

Arabels menatap Storm. Beberapa detik. Seolah mencoba membaca pikirannya.

Storm tetap diam. Tatapannya ke depan. Ke arah badai. Namun tidak tegang. Tidak khawatir.

Arabels akhirnya berbicara. "…Mungkin…" Semua menoleh padanya. "…dia tahu sesuatu."

Aryes mengangkat alis. "Maksudmu?"

Arabels tetap melihat Storm. "…Cara lain."

Violys sedikit menyipitkan mata. "…Menembus badai?"

Arabels mengangguk pelan. "…Ya."

---

Aryes kembali melihat Storm. Lebih serius sekarang. "…Kalau begitu…" Ia berdiri sedikit. "Storm." Panggilnya.

Storm akhirnya bergerak. Sedikit menoleh. Tatapannya tetap datar. "…Apa?"

Aryes menatapnya. "…Kau punya cara?" Tidak ada basa-basi. Langsung ke inti.

Beberapa detik hening. Semua menunggu jawabannya.

---

Storm menatap kembali ke depan. Ke arah badai yang mengamuk. Lalu — "…Ada."

Satu kata. Namun cukup membuat suasana berubah.

Aryes langsung fokus. "Apa itu?"

---

Storm menyandarkan punggungnya. Masih tenang. "…Tidak perlu menerjang semuanya."

Violys mengerutkan kening. "…Jelaskan."

Storm mengangkat sedikit tangannya. Menunjuk ke layar. "…Petir itu punya sumber." Semua langsung melihat data. "…Dan jalurnya." Ia melanjutkan. "Kalau kita potong alirannya…" Sedikit jeda. "…akan ada celah."

Arabels langsung memahami. Matanya melebar sedikit. "…Kamu ingin membuat jalan sendiri?"

Storm mengangguk. "…Ya."

---

Aryes menatapnya tajam. "…Kau yakin?"

Storm tidak ragu. "…Itu cukup."

Keheningan sesaat. Lalu — Violys tersenyum tipis. "…Terdengar menarik."

---

Aryes menarik napas dalam. Keputusan baru terbentuk. "…Baik." Ia menatap semua orang. "Kita coba cara Storm."

Kru masih tegang. Namun kini — ada harapan lain.

More Chapters