Perang di Ursa Major belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Di berbagai sektor, armada terus bertempur. Meriam energi saling bersahutan. Kapal perang hancur. Dan ribuan prajurit masih bertarung demi tujuan mereka masing-masing.
Di tengah kekacauan itu — ada dua orang yang justru sibuk melakukan hal lain. Mereka sedang bersaing.
---
*BOOOOOOM!! *
Ledakan besar mengguncang salah satu sektor pertempuran. Puluhan prajurit kekaisaran terpental ke segala arah. Di pusat ledakan itu berdiri seorang pemuda dengan armor berwarna emas dan hitam. Cahaya energi mengalir di sepanjang pelindung tubuhnya. Matanya menatap ke depan tanpa rasa takut. Zero.
Dan saat ini — ia sedang menghitung.
"Seratus tujuh puluh tiga," gumamnya.
Sebuah kapal tempur mencoba menembaknya. Zero langsung menghilang.
*WHOOSH! *
Ia muncul tepat di atas kapal tersebut. Lalu menghantamkan tinjunya.
*BOOOOOM!! *
Kapal itu meledak menjadi hujan puing. "Seratus tujuh puluh empat," katanya santai.
Jumlah musuh di hadapannya masih sangat banyak. Setiap kali satu kelompok dikalahkan — kelompok baru muncul. Seolah medan perang tidak pernah kehabisan prajurit. Biasanya itu membuat orang frustrasi. Zero justru terlihat menikmati tantangan tersebut.
---
Di sektor lain —
Keadaan tidak jauh berbeda.
*CLANG! CLANG! CLANG! *
Tombak perak menari di antara lautan musuh. Gerakannya cepat. Tepat. Dan mematikan. Setiap ayunan menghasilkan percikan cahaya. Setiap tusukan menjatuhkan lawan.
Napstylea melesat di antara barisan prajurit Hydra seperti kilatan perak. Armor silvernya memantulkan cahaya bintang. Sementara tombaknya terus bergerak tanpa henti. Puluhan prajurit berjatuhan. Lalu puluhan lainnya datang menggantikan.
Napstylea menghela napas. "Berapa sekarang..." Ia melihat penghitung kecil di pergelangan tangannya. Kemudian tersenyum tipis. "Seratus delapan puluh satu." Ternyata ia masih unggul.
Saluran komunikasi pribadi tiba-tiba aktif. Suara Zero terdengar. "Aku hampir menyusul."
Napstylea tidak menanggapinya.
*BOOOOM!! *
Ia menendang seorang prajurit hingga menghantam tiga orang lainnya.
Beberapa detik kemudian. Suara ledakan besar terdengar dari saluran komunikasi. Napstylea bahkan tidak perlu melihat untuk tahu apa yang terjadi. Zero pasti baru saja menghancurkan sesuatu yang besar.
Dan benar saja. "Seratus delapan puluh dua," kata Zero dengan nada puas.
---
Meski mereka terdengar santai. Kenyataannya pertarungan ini jauh dari mudah. Karena lawan mereka bukan individu kuat. Melainkan jumlah. Dan jumlah sering kali lebih melelahkan.
Prajurit kekaisaran terus berdatangan. Pasukan Hydra juga tidak ada habisnya. Setiap kali satu barisan tumbang — barisan lain segera muncul. Setiap kali satu kapal hancur — kapal baru menggantikannya.
Perang skala galaksi memang seperti itu. Tidak selalu tentang siapa yang paling kuat. Kadang tentang siapa yang mampu bertahan paling lama.
Napstylea memutar tombaknya. Beberapa prajurit Hydra langsung mundur. Namun hanya sesaat. Kelompok lain segera maju. "Semakin bertambah banyak..." Napstylea mengusap keningnya. "Ini lebih melelahkan daripada melawan monster raksasa."
Di sisi lain. Zero baru saja menjatuhkan sekelompok pasukan elit kekaisaran. "Aku setuju," jawabnya. "Mereka tidak kuat. Tapi jumlahnya menjengkelkan."
