Ruang rapat galaksi kembali dipenuhi banyak tokoh berpengaruh. Para penguasa konstelasi. Komandan armada. Perwakilan berbagai organisasi. Dan petinggi militer kekaisaran. Meski jumlah mereka sangat banyak — aula utama Istana Urco Tastarius tetap terasa luas. Langit-langit raksasa yang menyerupai hamparan bintang membentang jauh di atas. Peta galaksi holografik berputar perlahan di tengah ruangan. Menampilkan berbagai wilayah yang menjadi perhatian kekaisaran.
Di kursi singgasananya. Oreons memperhatikan seluruh rapat dengan tenang. Sementara di dekatnya, Yllarxa berdiri seperti biasa. Mencatat berbagai laporan yang masuk.
---
Di sisi lain aula —
Seorang pria berarmor gelap duduk dengan santai. Salah satu kakinya bahkan disilangkan. Sikapnya jauh berbeda dibanding petinggi lainnya. Lord Rylos. Pemimpin kelompok perompak angkasa Black Pirates.
Topeng armornya menutupi sebagian besar wajahnya. Dari nada suaranya saja — orang-orang bisa menebak ia sedang menikmati suasana.
"Hahaha..." Tawa pelan keluar darinya. Beberapa petinggi langsung menghela napas. Mereka tahu. Saat Lord Rylos tertawa seperti itu — biasanya akan ada seseorang yang menjadi sasaran sindirannya.
Dan benar saja. Tatapannya mengarah pada dua orang. Thraxor. Dan Kaidles.
"Wah..." katanya santai. "Ursa Major gagal. Aquila juga gagal. Sepertinya para jenderal utama kita sedang mengalami masa sulit."
Suasana ruangan langsung menjadi canggung. Tidak ada yang berani menanggapi. Mereka tahu. Pertengkaran antara Rylos dan para jenderal bukan sesuatu yang ingin mereka masuki.
Thraxor langsung mengeram kesal. "Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, katakan dengan jelas," ucapnya dingin.
Lord Rylos hanya tertawa kecil. "Aku hanya mengamati fakta," jawabnya. "Atau aku salah?"
Urat di pelipis Thraxor langsung terlihat. Biasanya ia cukup tenang. Namun entah kenapa. Lord Rylos selalu berhasil membuatnya kesal. Mungkin karena pria itu terlalu santai. Atau mungkin karena sebagian besar ucapannya memang benar.
---
Di sisi lain —
Kaidles bahkan tidak melirik ke arah Rylos. Ia sama sekali tidak tertarik. Sindiran. Ejekan. Pendapat orang lain. Semuanya tidak penting. Pikirannya masih tertuju pada satu hal. Kekalahannya melawan Asgard.
Kaidles perlahan berdiri dari kursinya. Gerakan itu membuat beberapa orang menoleh. Kemudian ia mengarahkan pandangan kepada Oreons.
"Yang Mulia."
Oreons mengangkat sebelah alis. "Ada sesuatu?"
Kaidles mengangguk. "Aku meminta izin meninggalkan wilayah kekaisaran untuk sementara waktu."
Suasana ruangan sedikit berubah. Banyak petinggi mulai memperhatikan.
"Apa tujuanmu?" tanya Oreons.
"Planet F4-3064," jawab Kaidles.
Beberapa orang langsung mengenali nama tersebut. Sebuah planet terpencil. Jauh dari jalur perdagangan utama. Berada di luar wilayah kekaisaran. Dan hampir tidak berpenghuni. Ada satu alasan mengapa tempat itu terkenal. Lingkungannya sangat ekstrem. Gravitasi yang tidak stabil. Badai energi. Dan berbagai fenomena alam berbahaya. Tempat yang cocok bagi mereka yang ingin menguji kekuatan.
"Aku ingin berlatih," ucap Kaidles. Jawaban itu sangat sederhana. Namun semua orang memahami maksudnya. Ia tidak puas. Ia tidak menerima hasil pertarungannya melawan Asgard. Dan ia ingin menjadi lebih kuat.
Oreons menatapnya beberapa saat. Kemudian mengangguk. "Baik," jawabnya.
Kaidles menundukkan kepala.
---
Sebelum ia pergi. Oreons kembali berbicara. "Aku bisa mengirim seseorang untuk menemanimu."
Beberapa nama langsung terlintas di benak para petinggi. Mungkin Thraxor. Mungkin salah satu perwira elit. Atau bahkan anggota Pasukan Emas.
Namun Kaidles langsung menggeleng. "Tidak perlu," jawabnya tegas. "Aku lebih suka sendiri."
Oreons tidak terlihat terkejut. Jawaban itu memang sangat sesuai dengan kepribadian Kaidles. Pria itu selalu lebih nyaman bertarung dan berlatih sendirian.
Tidak menunggu tanggapan lebih lanjut. Kaidles membalikkan badan. Langkahnya bergema di seluruh aula. Tak ada keraguan. Tak ada penjelasan tambahan. Ia hanya berjalan menuju pintu keluar.
Lord Rylos memperhatikan kepergiannya. Lalu tertawa kecil. "Dia benar-benar serius," gumamnya.
Thraxor mendengus. "Setidaknya dia tidak duduk sambil mengejek orang lain," balasnya.
Rylos tertawa lebih keras.
---
Sementara itu —
Kaidles sudah mencapai pintu aula. Ia tidak memedulikan tatapan para petinggi. Tidak memedulikan bisikan yang mulai terdengar. Dan tidak memedulikan siapa pun.
Di dalam pikirannya hanya ada satu tujuan. Menjadi lebih kuat. Jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
