Cherreads

Chapter 714 - Kisah Sang Pelindung Aquila

Konstelasi Aquila. Perang telah berakhir. Namun bekas-bekasnya masih terlihat di berbagai penjuru wilayah. Puing-puing kapal perang masih mengambang di orbit. Beberapa stasiun luar angkasa masih menjalani perbaikan. Dan suasana di istana Aquila tetap dipenuhi ketegangan.

Di salah satu ruangan utama istana. Crimgard berbaring lemah. Kepalanya berada di pangkuan Seleneva. Ratu Aquila itu perlahan mengusap rambut pemuda tersebut. Tatapannya dipenuhi kekhawatiran.

"Kamu harus beristirahat," ucapnya lembut.

Crimgard tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja." Namun bahkan dirinya tahu itu bohong. Tubuhnya memang tidak mengalami luka serius. Tidak ada tulang yang patah. Tidak ada cedera yang mengancam nyawa. Tetapi mentalnya masih terguncang. Bayangan pertarungannya melawan Kaidles terus muncul di kepalanya. Kekuatan jenderal kekaisaran itu terlalu besar. Satu serangan saja cukup membuatnya terpental tanpa mampu melawan.

Seleneva memahami apa yang dirasakan Crimgard. "Jangan memaksakan dirimu," katanya. "Jenderal kekaisaran memang bukan lawan biasa."

Crimgard terdiam.

Seleneva melanjutkan. "Bahkan yang paling lemah di antara mereka — cukup kuat untuk menghancurkan sebuah konstelasi."

Ruangan kembali hening. Tidak ada seorang pun yang membantah pernyataan itu. Semua orang yang berada di sana mengetahui kenyataannya. Kekaisaran Galaksi masih berdiri kokoh hingga sekarang karena mereka memiliki monster-monster seperti itu.

---

Di sisi lain aula —

Seseorang duduk di singgasana utama Aquila. Asgard. Sang Pelindung Aquila. Tubuhnya yang menyerupai boneka berlapis armor tampak diam seperti patung. Keberadaannya saja sudah cukup membuat seluruh ruangan terasa berbeda.

Para petinggi Aquila tidak memprotes. Bahkan Seleneva sendiri tidak mempermasalahkannya. Bagi rakyat Aquila — Asgard bukan sekadar pelindung. Ia adalah legenda hidup. Seseorang yang telah menjaga Aquila selama ribuan tahun. Seseorang yang keberadaannya telah menjadi bagian dari sejarah konstelasi itu sendiri.

Asgard memandang seluruh ruangan. Tatapannya tetap datar. Tanpa ekspresi. Suaranya bergema jelas.

"Melawan kekaisaran adalah hal yang mustahil."

Beberapa petinggi langsung menegang.

"Tetapi diam saja — adalah kehancuran."

Ruangan menjadi sunyi. Semua orang mendengarkan.

Perlahan Asgard mengangkat salah satu tangannya. Cahaya biru muncul di telapak tangannya. Lalu sebuah hologram terbentuk. Seluruh orang di aula memandang ke arah gambar tersebut. Dan mereka langsung terdiam.

Sebuah dunia yang hancur. Planet-planet yang retak. Armada yang berubah menjadi puing. Dan ruang angkasa yang dipenuhi reruntuhan perang. Tidak ada kehidupan. Tidak ada harapan. Hanya kehancuran.

Crimgard yang melihatnya mengernyit. "Tempat apa itu?" tanyanya.

Asgard terdiam beberapa saat. Lalu menjawab. "Medan perang lamaku."

Semua orang langsung menoleh. Seleneva terlihat terkejut. Asgard tidak pernah banyak berbicara tentang masa lalunya.

"Dahulu," ucapnya perlahan. "Aku pernah bertarung melawan salah satu jenderal kekaisaran."

Tatapan seluruh ruangan langsung berubah. Mereka tahu apa artinya. Jika Asgard menyebut seseorang sebagai jenderal kekaisaran — maka lawan itu pasti bukan makhluk biasa.

"Aku mengerahkan seluruh kekuatanku," lanjut Asgard. "Aku bertarung sampai batas terakhir."

Hologram berubah. Menampilkan sosok bayangan yang diselimuti cahaya keemasan. Wujudnya tidak terlihat jelas. Namun tekanan yang terpancar dari gambar itu saja sudah membuat beberapa orang merinding.

"Aku kalah," ucap Asgard.

Kalimat sederhana itu membuat aula kembali sunyi. Tidak ada yang menyangka. Makhluk sekuat Asgard pernah kalah. Dan kekalahan itu begitu telak hingga masih diingatnya sampai sekarang.

"Aku hampir mati. Seluruh tubuhku hancur. Jiwaku nyaris lenyap." Tatapan Asgard mengarah ke salah satu jendela istana. Seolah sedang melihat masa lalu yang jauh. "Karena itulah aku melarikan diri."

Crimgard membelalak. "Melarikan diri?"

Asgard mengangguk. "Terkadang bertahan hidup lebih penting daripada kemenangan." Tidak ada rasa malu dalam suaranya. Tidak ada penyesalan. Hanya kenyataan. "Setelah itu — aku memindahkan jiwaku." Perlahan ia menyentuh dadanya yang terbuat dari logam. "...ke tubuh ini."

Seluruh ruangan memandang tubuh armornya. Tubuh yang selama ini mereka kenal. Tubuh yang ternyata bukan tubuh aslinya.

"Aku memilih keabadian," kata Asgard. "Agar aku tidak kalah lagi dengan cara yang sama." Nada suaranya sedikit berubah. "Bukan berarti aku menjadi lebih kuat." Asgard menatap tangannya sendiri. "Sebagian besar kekuatanku telah hilang bersama tubuh lamaku. Yang tersisa sekarang hanyalah bayangan dari diriku yang dahulu."

Crimgard terdiam. Seleneva juga tidak mengatakan apa pun. Meskipun Asgard menyebut dirinya hanya bayangan masa lalu — ia tetap mampu mengalahkan Kaidles. Tetap mampu melindungi Aquila. Dan tetap menjadi makhluk yang sangat ditakuti.

---

Asgard menutup hologram tersebut. Cahaya biru menghilang. Lalu ia memandang seluruh petinggi Aquila.

"Kekaisaran tidak terkalahkan," ucapnya. "Tetapi bukan berarti mereka tidak bisa dilawan."

Ruangan kembali sunyi. Sementara di luar istana. Bintang-bintang Aquila terus bersinar.

More Chapters